Kunci Kemenangan Prabowo dan Jokowi di Pilpres 2019

0
102

Nusantara.news, Jakarta – Kampanye Pilpres 2019 masih serupa ajang peperangan berwatak homo homini lupus (manusia serigala bagi manusia lainnya): saling terkam lewat ujaran kebencian, hoax, adu nyinyir, dan saling ‘menggoreng’ diksi ucapan capres-cawapres. Bahkan, tak jarang mereka menggunakan instrumen hukum dengan mengharap keuntungan politik: mendegradasi karakter lawan politik di mata pemilih.

Ketiadaan program dan adu gagasan dalam kampanye pilpres kali ini selain membuat demokrasi kian tak bermutu, juga menelanjangi watak asli para elite politik kita hari ini. Kelas politik kita nyatanya penuh dengan dendam kesumat, permusuhan, dan tak bisa membedakan antara sikap politik dengan sikap individu. Politik kekinian dipandu secara emosional ketimbang rasional, perbedaan politik sekaligus dianggap musuh dalam segala urusan kehidupan. Ketidaksukaan pada kritik lawan politik ditanggapi dengan diksi kebencian hingga ke ranah individu.

Tak heran, dalam kadar tertentu pilpres menjadi pabrik penghancur perkawanan, juga pendangkalan nalar. Fanatisme berlebihan menciptakan musuh abadi. Bahkan baru-baru ini di Madura, nyawa rakyat kecil melayang gara-gara ribut soal beda pilihan di Pilpres 2019.

Padahal dalam politik, antara kawan dan lawan bisa bertukar posisi. Tergantung peluang dan kepentingan. SBY pernah bergabung dalam satu gerbong pemerintahan dengan Megawati, tetapi kemudian berhadap-hadapan di Pilpres 2004. Hal yang sama antara SBY dan Jusuf Kalla (JK): maju bersama di 2004, namun bertarung di Pilpres 2009. JK pernah menyatakan Indonesia hancur kalau Jokowi jadi presiden, tapi kenyataannya ia menjadi cawapres Jokowi di Pilres 2014. Begitu pun Megawati dan Prabowo pernah berpasangan di Pilpres 2009, kini keduanya berseberangan.

KH M’aruf Amin yang pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu membuat fatwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menistakan agama, hingga memicu gerakan 212, untuk pilpres kali ini justru harus berhadapan dengan komunitas 212. Ma’ruf bahkan menjadi cawapres yang diusung oleh partai pendukung Ahok. Golkar dan PPP pada Pilpres 2014 mendukung Prabowo melawan Jokowi, saat ini menjadi partai pengusung Jokowi. Belum lagi kisah hate-love PKS, PAN, dengan PDIP. Mereka berseteru di beberapa pilkada, tapi juga berdampingan mesra di pilkada lainnya.

Pendek kata, perbedaan politik itu lumrah. Sayangnya, mengapa eskalasi ‘kebaperan’ antarpendukung masih begitu tinggi dan elite kedua kubu terlampau membabi buta mengumbar kebencian? Mengapa politik harus selalu dimaknai semata merebut kekuasaan dengan segala cara ala Machiavellian, ketimbang menyemai kebaikan bersama ala Aristoteles dan Thomas Aquinas?

Strategi ‘Mencuri Kekuatan Lawan’

Di titik itu, di Pilpres 2019 ini para elite sepatutnya memulai berpolitik dengan menyemai watak-watak baik. Meninggalkan politik bermental predator. Tak usah lagi mengharap untung dengan cara menguliti aib, bahkan memfitnah lawan. Jangan pula menutup mata, mengipasi-ngipasi situasi, atau justru senang manakala capres-cawapres sebelah menjadi korban hoax. Sebab saat ini, model politik seperti itu sudah tidak laku lagi. Rakyat jauh lebih simpatik pada sikap politik penuh keadaban.

Sikap politik terpuji ini pernah ditunjukkan dalam Pilpres AS 2008. Saat bertarung melawan Barack Obama, John McCain justru meluruskan hoaks yang menerpa Obama. Kala itu Obama dituduh sebagi muslim, teroris keturunan Arab.  “Tidak. Obama seorang warga negara yang baik. Kebetulan, saya tidak sepakat dengan Obama dalam beberapa isu mendasar. Dan kampanye ini adalah soal ketidaksepakatan itu,” bela McCain.

Dalam kontesk Pilpres di tanah air, kasus kebohongan Ratna Sarumpaet yang membuat Prabowo terkena getahnya, misalnya, alangkah elok jika Jokowi membuat pernyataan seperti ini:

“Saya mohon kepada tim saya atau siapa pun untuk tidak menyudutkan Pak Prabowo. Beliau hanya korban. Saya memang sedang berkompetisi dengan Pak Prabowo dalam pilpres, tetapi tuduhan tak berdasar kepada beliau tidak bisa saya terima. Mari kita hormati proses hukum terhadap Bu Ratna”.

Sebaliknya, dalam kasus tuduhan PKI terhadap Jokowi, sungguh bijak jika Prabowo memberikan statement berikut:

“Saya minta stop menuduh Pak Jokowi PKI. Berulang kali beliau sudah mengklarfikasi dan membuktikan bahwa PKI juga adalah musuh beliau. Pak Jokowi adalah presiden kita yang harus dihormati. Tidak mungkin seorang presiden membiarkan partai terlarang kembali eksis. Saya bersama sahabat saya, Pak Jokowi, menolak PKI”.

Contoh pernyataan-pernyataan seperti itu yang saat ini sebenarnya sedang ditunggu mayarakat. Dengan menunjukkan simpati kepada lawan politik yang sedang “terpuruk” selain akan menuai simpatik publik, bahkan mungkin mendapat “bonus” elektoral, juga menunjukan Prabowo atau pun Jokowi adalah seorang yang disebut oleh pujangga kenamaan, William Shakespeare, sebagai honour of politics.

Honour berhubungan dengan integritas seseorang yang biasanya ditunjukkan oleh sifat-sifat seperti keberanian, ksatria dan kejujuran, namun pada saat yang sama juga bisa menunjukkan welas asih. Karena sifat-sifat tersebut, honour seringkali menjadi hal yang integral dengan kualitas seseorang, utamanya lebih kepada etos personal. Maka, sebutan sebagai honourable man (orang yang terhormat) sering disematkan pada orang-orang yang dianggap punya kualitas tersebut.

Kehormatan Politik yang layak dicontoh: Prabowo hormat dan Jokowi membungkuk usai kontestasi Pilpres 2014 yang dimenangkam Jokowi. Bagaimana dengan Pilpres 2019?

Di politik, honour bisa disebut sebagai kutub yang berseberangan dengan gagasan kaum Machiavellian yang menyebut moral harus disingkirkan dari politik. Karena itu, dalam konteks Jokowi dan Prabowo, honour jelas terlihat sebagai bagian yang intrinsik dari kualitas pribadi keduanya. Hal itulah yang seharusnya tergambar dalam kampanye Pilpres 2019.

Politik terpuji sebenarnya pernah ditunjukkan oleh Prabowo Subianto ketika berbagai pihak menyudutkan pemerintahan Jokowi akibat rupiah yang terus melemah. Saat itu, untuk menciptakan kondisi yang kondusif dan stabil, Prabowo pun meminta jajaran koalisinya untuk menghentikan serangan terhadap pemerintah.

“Perintah” Prabowo sebagai rival dan oposisi untuk mendukung pemerintah dengan tidak memanfaatkan situasi krisis demi menghindari terjadinya kekacauan (chaos), dipandang sebagai tindakan terpuji dan patut diapresiasi. Sikap Prabowo ini jika merujuk pada pemikiran ahli politik Jerman, Carl Schmitt, dapat dikatakan sikap yang otentik karena segala tindakannya secara khusus bersiat politik, dapat memisahkan kapan menjadi kawan dan lawan.

Hanya saja, Prabowo tampaknya tak mencoba memelihara sikap politik tersebut. Nyatanya, dalam beberapa pidato, ucapannya kerap memancing serangan balik dari kubu Jokowi. Di pihak lain, politik ‘santun’ Jokowi pun berubah menjadi ofensif dengan lontaran diksi tak pantas dan stigma yang membuat oposisi berang. Saling serang kedua kubu pun kembali tak terhindarkan.

Padahal, jika kedua kubu konsisten menunjukkan sikap atau pernyataan politik yang sejuk, bersahabat, dan tulus terhadap seteru politik, boleh jadi akan menjadi kunci kemenangan di Pilpres 2019. Sebab, rakyat sudah tentu akan bersimpati dan kagum. Dalam konteks strategi politik, cara seperti itu disebut ‘mencuri kekuatan lawan’: menang tanpa menjatuhkan. Sayangnya, cara ini banyak dilupakan dan tidak disadari oleh para politisi saat ini.

Sebaliknya, di tengah psikologis massa yang amat muak dengan arus politik yang sarat kegeduhan dan permusuhan, justru kedua kubu seakan berlomba menampilkan wajah politik yang arogan, egois, dan tidak simpatik. Senang melihat rival susah, susah melihat rival senang. Narasi-narasi kedua kubu lewat perang diksi dan tuna-kolektivitas mungkin di satu sisi menjadi keuntungan jika berhasil menguasai wacana. Namun di sisi lain, cara-cara berpolitik seperti itu sesungguhnya tak disukai publik, bahkan membuat calon pemilih (utamanya massa mengambang) apatis terhadap Pilpres.

Barangkali mereka lupa, untuk memenangkan sebuah kontestasi politik, sejatinya adalah memenangkan hati dan simpati rakyat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here