Lawatan Pertama Trump ke Luar Negeri

Kunjungi Arab Saudi, Trump Ingin Tegaskan Tidak Anti Islam

0
52
Foto: AFP

Nusantara.news, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan memulai lawatan pertamanya ke luar negeri yang dijadwalkan mulai 19 Mei nanti. Tak disangka, Trump memilih negara pertama yang dikunjunginya adalah Arab Saudi. Trump tampaknya ingin menegaskan kepada dunia bahwa dirinya tidak anti-Islam, setelah sejumlah kebijakannya yang kontroversial selama ini telah menyudutkan negara-negara Islam.

Pilihan negara-negara yang dikunjungi Trump pun terbilang mengejutkan. Pasalnya, sejak era Ronald Reagan, kunjungan pertama presiden AS ke luar negeri biasanya selalu ke Meksiko atau Kanada. Menjadi pertanyaan, lebih-lebih karena Trump dalam kampanye pemilihan Presiden AS 2016 mengusung jargon “America First”, dimana dia akan lebih mementingkan Amerika dan menarik diri dari kepentingan negara-negara lain, termasuk dari Timur-Tengah.

Mengenai hal ini, penasihat keamanan nasional AS Jenderal HR McMaster menyatakan, sebagaimana dilansir The Telegraph, Rabu (17/5) bahwa “’America First’ tidak berarti ‘Amerika saja’. Amerika First tidak berarti Amerika tidak memimpin (dunia).”

“Ada persepsi bahwa Amerika telah melepaskan diri dari Timur-Tengah. Tetapi sekarang ada pengakuan luas di antara semua sekutu kita bahwa dibutuhkan kepemimpinan Amerika,” kata McMaster.

Trump akan melakukan kunjungan pertama ke Kerajaan Arab Saudi dalam rangkaian lawatannya, dimana dia juga akan menemui sejumlah pemimpin negara-negara Muslim.

Raja Salman bin Abdul Aziz al Saud rencananya akan mengumpulkan para kepala negara Muslim sehingga mereka dapat mengukur pemimpin AS yang baru ini di pertemuan KTT Arab-Islam-Amerika.

Pemimpin dari Yordania, Aljazair, Niger, Yaman, Maroko, Turki, Pakistan, Irak dan Tunisia semuanya telah diundang.

Trump juga dijadwalkan akan bertemu dengan raja dari enam negara Gulf Cooperation Council (Dewan Kerja Sama Teluk) yang terdiri dari negara-negara Arab di Teluk Persia kecuali Irak. Negara anggotanya adalah Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Trump tampaknya merasa penting untuk bertemu dengan pemimpin negara-negara Muslim, untuk meyakinkan mereka bahwa dirinya bukan anti-Islam. Setelah sebelumnya, dalam kampanye-kampanye pada Pilpres AS 2016 Trump kerap melontarkan pernyataan-pernyataan yang menimbulkan tudingan bahwa dirinya seorang Islamfobia. Trump juga pernah berjanji untuk melarang orang-orang Muslim memasuki Amerika Serikat.

Sebagaimana dilaporkan The Telegraph, menurut para pembantunya, Trump tengah melakukan upaya untuk membangun kembali citranya di mata dunia Islam.

Trump juga merasa perlu menghidupkan kembali aliansi dengan kekuatan Timur Tengah yang telah terbengkalai di era Barack Obama.

Hubungan AS dengan Arab Saudi belakangan memang tengah dalam kondisi buruk, dimana Kerajaan Arab Saudi merasa pemerintah Obama saat itu terlalu bersemangat menenangkan saingan regional utamanya, Iran, pada saat menegosiasikan kesepakatan untuk mengendalikan program nuklir Teheran.

Oleh karena itu kepentingan beroposisi bersama terhadap kesepakatan Iran itu, yang oleh Trump disebut sebagai “bencana” dianggap akan menjadi fondasi bagi persahabatan baru AS dengan Arab Saudi.

Selain itu, kemampuan untuk mempererat hubungan dengan Arab Saudi dan negara-negara Muslim lainnya sangat penting bagi ambisi Trump dalam rangka memberantas kelompok Negara Islam (Islamic State) dan memerangi paham radikalisasi.

“Kami ingin mulai membangun fondasi baru kerja sama dan dukungan dengan sekutu Muslim kami untuk memerangi ekstremisme, terorisme dan kekerasan, dan untuk merangkul masa depan yang lebih adil dan penuh harapan bagi kaum muda Muslim di negara mereka,” kata Trump saat mengumumkan rencana perjalanannya.

Trump juga mengatakan, “Tugas kita bukan untuk mendikte orang lain bagaimana cara hidup, tapi untuk membangun koalisi persahabatan dan mitra yang memiliki tujuan memerangi terorisme dan membawa kepada keselamatan, kesempatan dan stabilitas di Timur-Tengah,” tandasnya.

Tapi apakah keinginan Trump bakal berjalan mulus?

Tentu saja Trump akan menemui sejumlah tantangan. Misalnya, ketidakpercayaan terhadap Trump yang pernah berupaya untuk melarang warga dari tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim, meskipun gagal. Upaya Trump tersebut tentu masih berbekas di kalangan negara Muslim.

Selain itu, Trump juga harus bisa meyakinkan orang-orang yang dia temui, bahwa untuk semua retorika kampanye tentang “America First”, dia masih bisa menjadi sekutu sejati dalam urusan internasional.

Trump akan berkeliling selama sembilan hari untuk menyambangi sejumlah negara seperti Arab Saudi, Israel, Vatikan, menghadiri pertemuan para pemimpin NATO di Brussels, lalu ditutup dengan menghadiri pertemuan negara-negara G7 di Sisilia.

Gedung Putih menyebut bahwa perjalanan Presiden AS ke-45 untuk kali pertamanya ke luar negeri ini, sebagai upaya untuk menyatukan kepercayaan dunia dan meyakinkan negara-negara sekutu AS bahwa Amerika tetap terlibat dalam memimpin dunia. Trump akan didampingi oleh istrinya, Melania Trump dalam lawatan penting pertamanya tersebut. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here