Kunjungi Israel, Trump Tegaskan Hubungan Tak Terpisahkan antara AS dan Israel

0
133

Nusantara.news, Tel Aviv – Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah berada di Israel pada Senin (22/5) siang waktu setempat. Trump terbang langsung dari Arab Saudi, dimana dia telah menikmati sambutan istimewa dari keluarga kerajaan Arab Saudi. Trump mendapat sambutan hangat dari sekutu abadinya, Benjamin Netanyahu, saat dia mendarat di bandara Tel Aviv.

Sebagaimana dilansir Politico, Senin (22/5) Trump dalam sebuah sambutan singkat saat upacara di bandara, mengatakan bahwa dia  datang untuk menegaskan kembali ikatan yang tidak dapat dipisahkan antara Amerika Serikat dan Israel. Trump juga menyampaikan bahwa kunjungannya beberapa saat lalu dengan para pemimpin Arab telah memberinya harapan baru akan hadirnya perdamaian di wilayah tersebut.

“Kami sebelumnya memiliki kesempatan langka untuk membawa keamanan dan stabilitas serta perdamaian masyarakat ke wilayah ini,” kata Trump.

Di bandara Tel Avip Trump mendapat sambutan hangat dari presiden dan para pejabat Isreal. Sebabnya sebagai presiden AS, Trump merupakan presiden yang pertama kali memasukkan Israel sebagai tujuan kunjungannya ke luar negeri.

PM Israel Benjamin Netanyahu bahkan menyebut Trump sebagai “seorang teman sejati”, dan memberikan catatan penuh harapan tentang peran Trump dalam proses perdamaian di Timur Tengah.

Namun demikian, Trump tampaknya bakal menghadapi pertanyaan dari para pejabat Israel soal alasan dia mengungkapkan informasi intelijen Israel yang sensitif kepada pejabat Rusia, yang akhirnya menimbulkan kegaduhan di dalam negeri AS sendiri. Trump juga kemungkinan bakal dimintai klarifikasi soal kesepakatan senjata baru senilai USD 110 miliar dengan Arab Saudi yang membuat Israel ketar-ketir.

Baca: Arab Saudi Beli Banyak Senjata dari AS, Israel Ketar-ketir

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, yang berbicara dengan wartawan di Air Force One mengatakan bahwa AS dapat memberikan klarifikasi kepada Israel tentang apa yang terjadi.

Sebelum pertemuan dengan Netanyahu, Presiden Trump dan ibu negara Melania Trump terlebih dulu mengunjungi Tembok Barat, sebuah situs suci agama Yahudi, serta mengunjungi Gereja Makam Suci.

Pada hari Selasa, Trump dijadwalkan bakal bertemu dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas. Setelah pada bulan Maret lalu Trump menerima kunjungan Abbas di Gedung Putih. Trump menyatakan kepada Abbas ketika itu, bahwa mencapai perdamaian adalah “sesuatu yang saya pikir, sejujurnya, mungkin tidak sesulit yang dipikirkan orang selama ini.”

“Tapi kita butuh dua belah pihak yang berkepentingan,” katanya. “Kami percaya Israel bersedia. Kami juga percaya Anda bersedia. Dan jika Anda berdua bersedia, kami akan membuat kesepakatan,” kata Trump.

Namun demikian, agaknya pernyataan Trump itu baru sebatas pernyataan simbolis. Sebab pada kenyataannya belum ada kemajuan yang signifikan dalam proses mencapai perdamaian di bumi Jarussalem tersebut. AS baru akan menindak lanjuti jika kedua Israel dan Palestina membuat komitmen yang serius.

Selain mendorong perdamaian Israel dan Palestina, kunjungan Trump ke Israel juga tampaknya menjadi isyarat simbolis dalam menjembatani hubungan Israel dan dunia Arab. Penerbangan Trump dengan Air Force One merupakan penerbangan langsung pertama dari Arab Saudi ke Israel, dua negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik.

Netanyahu mengatakan, dia berharap seorang perdana menteri Israel juga segera bisa melakukan penerbangan yang sama.

Tidak jelas sikap Trump untuk perdamaian Israel-Palestina

Trump sejak dia terpilih sebagai presiden AS telah menunjukkan sikap yang tidak jelas terkait masa depan perdamaian Israel dan Palestina.

Saat melakukan pertemuan dengan Benjamin Netanyahu di Washintton Februari lalu, Trump menunjukkan perubahan sikap AS soal kemerdekaan Palestina dan penyelesaian ‘dua negara’.

Donald Trump waktu itu menarik keterikatan AS terhadap penyelesaian dua negara atas sengketa Israel dan Palestina, yang selalu menjadi sandungan kebijakan Washington di Timur Tengah.

Trump ketika itu mengaku akan menerima apa pun perdamaian yang disepakati Israel dengan Palestina, baik dua maupun satu negara. “Saya setuju saja dengan kedua pilihan itu,” kata Trump, sebagaimana dilaporkan Reuters, Kamis (16/2).

Mengomentari kunjungan Trump ke Israel, seorang pejabat Israel mengatakan mereka sebagian besar tidak mengetahui tentang gagasan yang dibawa oleh Trump untuk perdamaian di Israel atau konsesi apa yang dimintanya.

Sementara itu, Netanyahu dulu pernah menyatakan dukungannya terhadap pendirian negara Palestina, tapi dukungan itu kini justru tenggelam sejak Donald Trump menjadi Presiden AS.

Para menteri enggan sambut kedatangan Trump

Sempat terjadi “insiden” kurang mengenakkan menjelang kedatangan Donald Trump ke Israel. Bahkan, PM Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan sempat marah-marah setelah mengetahui sebagian menteri kabinetnya berencana tidak menghadiri penyambutan Donald Trump.

Para menteri tidak tertarik menyambut Trump di Bandara Internasional Ben-Gurion, Tel Aviv. Sebabnya, Gedung Putih awalnya memberi tahu bahwa tidak ada waktu yang cukup bagi mereka untuk menyambut Trump secara pribadi, sehingga para menteri enggan hadir di bandara. Tapi Netanyahu kemudian menegaskan bahwa kehadiran para menteri kabinetnya menyambut kedatangan Trump adalah wajib.

Trump akan berkunjung ke Vatikan Roma setelah mengunjungi Palestina. Dengan begitu, dalam kunjungan pertamanya ke luar negeri ini, Trump mengunjungi negara-negara dimana tempat-tempat suci bagi sejumlah agama: Islam, Yahudi, dan Kristen (Katolik) itu berada. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here