Kyai Ageng Hasan Besari, Guru Orang-orang Besar

0
768
Kiyai Ageng Hasan Besari

Nusantara.news, Surabaya – Memasuki makam Kyai Ageng Hasan Besari yang terdapat di dalam kawasan Masjid Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur,  nampak pintu besar menghalang-halangi. Setiap hari-hari tertentu pintu tersebut ditutup. Beruntung kedatangan Nusantara.news bukan pada hari-hari tertentu, sehingga masih punya kesempatan memasuki makam.

Di dalam kawasan masjid tersebut terdapat dua makam. Pada batu nisannya menempel dua buah papan bertuliskan Jawa Kuno. Kata juru kunci, makam yang satu adalah Nyai Hasan Besari, satunya isterinya.

Pada dinding-dinding makam terbentang kain kafan mengelilinginya. Lantainya berbahan keramik, buatan modern. Pun kuncup makam telah direnovasi dengan batu marmer. Arsiteknya pastilah seorang amatiran sebab bangunannya terkesan biasa-biasa saja, tiada menonjolkan suatu maha karya besar. Setiap malam-malam tertentu makam tersebut sering didatangi keturunan Kyai Hasan Besari guna melakukan doa bersama.

Tak jauh dari makam terdapat sebuah masjid. Masjid tersebut konon pernah digunakan Kyai Ageng menyebarkan ilmunya. Peninggalan Kyai Ageng yang masih terlihat adalah Pondok Tegalsari.

Dalam sejarahnya, Pesantren Tegalsari pernah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya. Ribuan santri datang menuntut ilmu di pondok ini.

Mereka berasal dari hampir seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, misalnya Desa Jabung (Nglawu), Desa Bantengan, dan lain-lain. Jumlah santri yang begitu besar dan berasal dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang itu menunjukkan kebesaran lembaga pendidikan ini.

Dari tangan Kyai Ageng Hasan Besari telah lahir orang-orang besar, seperti Pakubuwono II atau Sunan Kumbul, Raden Ngabehi Ronggowarsito dan tokoh pergerakan nasional H.O.S Cokroaminoto.

Setelah Kyai Ageng Hasan Besari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuh yaitu Kyai Hasan Yahya. Namun pada pertengahan abad ke-19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Besari, Pesantren Tegalsari mulai surut. Jumlah santrinya kian menyusut. Walaupun demikian, banyak para santri dan anak cucunya yang mengembangkan agama Islam dengan mendirikan Pondok Pesantren di berbagai daerah di seluruh Nusantara. Salah satu yang terbesar adalah Pondok Modern Darussalam Gontor yang terletak di wilayah kecamatan Mlarak. Pondok ini didirikan oleh tiga orang cucu Kyai Ageng Hasan Besari.

Terkait dengan berdirinya pondok pesantren Gontor, saat kepemimpinan dipegang Kyai Khalifah, ada seorang santri yang sangat menonjol dalam segala bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin. Karena kedekatannya dengan Kyai maka Sulaiman diangkat menjadi mantu bahkan dipercaya untuk mendirikan pesantren sendiri di Desa Gontor. Pada saat itu Gontor sendiri masih merupakan hutan belantara yang jarang didatangi orang.

Hutan ini dikenal sebagai tempat persembunyian perampok, penjahat, penyamun dan pemabuk. Jelasnya, tempat ini adalah tempat kotor dan sumber dari segala kotoran. Dalam bahasa Jawa, tempat yang kotor disebut nggon kotor (tempat kotor), yang disingkat menjadi “gon-tor”.

Di desa inilah Kyai Sulaiman Jamaluddin diberi amanat untuk merintis pondok pesantren seperti Tegalsari dengan bekal 40 santri. Pondok inilah yang menjadi cikal bakal dari Pondok Modern Gontor saat ini.

Suasana ruangan masjid Kiyai Ageng Hasan Besari, Tegalsari, Ponorogo, Jatim.

Sebenarnya ada banyak versi soal sosok Kyai Hasan Besari. Karena keterbatasan literatur,  Nusantara.news mengulas sosok Kyai Hasan Besari dari sumber-sumber sesepuh di Desa Tegalsari yang masih hidup. Dan dari kumpulan cerita masyarakat bila diuraikan kisahnya menjadi demikian:

Pada abad ke-18, dua pemuda sedang melakukan perjalanan mencari seorang guru. Keduanya berjalan mengelilingi hampir separuh kepulauan nusantara. Sampailah keduanya di perkampungan penduduk di mana banyak ditumbuhi pepohonan kelapa. Saat terik mentari menjalar ke pori-pori kulit, seketika rasa haus mengakibatkan tenggorokan keduanya mengering.

Di desa tersebut mereka melihat pohon kelapa menjulang ke atas beserta buah kelapanya yang ranum. Rasa haus dan lelah membuat kesadaran keduanya tersulut. Tanpa meminta ijin kepada ‘si empunya’ mereka segera mengambilnya. Pohon tersebut tidak dipanjat. Terlalu tinggi. Lagipula mereka tidak tahu cara memanjat kelapa.

Dengan bebatuan di samping mereka, keduanya melempari buah kelapa. Tak urung beberapa kali lemparan mereka meleset, mengena pun tidak menjatuhkan kelapa. Pada saat itu muncullah seorang lelaki tua dengan dandanannya layaknya petani. Rambutnya sudah ditumbuhi uban. Kulitnya keriput. Namun demikian, gerakannya masih gesit. Kepada kedua pemuda tadi, lelaki tua tersebut menegur:

“Wong kelopo kok disawat. Yo ora iso yo, Tole!” (Buah kelapa kok dilempari, ya tidak bisa yo, Nak).

“Maafkan kelancangan kami, Kek. Kami melakukannya karena haus dan kalau memanjat juga tidak tahu caranya,” kata seorang dari mereka.

“Caranya begini lho, Tole!”

Lelaki tua tersebut lalu menginjakkan kaki kanannya pada batang pohon. Dengan kaki tuanya pohon kelapa didorongnya hingga melengkung ke bawah.

“Sudah cepat ambil saja!” Serunya.

Kedua pemuda tertegun. Dengan hanya menggunakan satu kaki dia sanggup melenturkan pohon kelapa seperti melenturkan karet. Tentu dia bukan sembarang orang, melainkan seorang yang berilmu dan memiliki kesaktian. Kedua pemuda tersebut segera bersimpuh dan meminta dijadikan muridnya.

Singkat cerita, keduanya diterima oleh lelaki tua yang tidak diketahui namanya. Namun orang menyebutnya: Kyai Sopo Nyono.

Kedua pemuda haus ilmu itu kemudian diajari ilmu tingkat tinggi, hingga tibalah ajal Kyai Sopo Nyono. Sebelum pergi sang guru berpesan kepada kedua muridnya agar mendakwahkan ilmunya kepada masyarakat. Sepeninggal Kyai Sopo Nyono, kedua murid menyebarkan agama Islam hingga ke pelosok-pelosok desa.

Satu murid yang tidak diketahui namanya berdakwah dengan cara berkeliling. Sementara murid satunya yang belakangan diketahui adalah Hasan Besari berdakwah di daerah Ponorogo. Dengan warisan ilmu gurunya, seketika nama Hasan Besari mulai dikenal kalangan pemuka agama, cendekiawan, raja-raja, hingga rakyat jelata.

Tidak sedikit orang-orang dari penjuru Nusantara datang kepadanya untuk menimba ilmu. Beliau bukan saja pandai mengajar agama, melainkan juga mahir dalam ketatanegaraan, ahli strategi perang dan kesusastraan.

Dengan ilmu karomah–orang dulu menyebut kesaktian–yang dimiliki Hasan Besari, tak pelak semakin menumbuhkan keyakinan orang-orang bahwa Hasan Besari adalah orang besar.

Dalam waktu singkat Hasan Besari telah mendirikan pondok pesantren. Ribuan orang tak surut memadati pesantren Hasan Besari. Hingga suatu ketika terjadilah perselisihan antara Hasan Besari dengan Pakubuwono II.

Saat itu Sang Raja iri melihat pengaruh Hasan Besari sangat besar terhadap masyarakat. Saking besarnya sampai-sampai menimbulkan kekhawatiran terhadap kedudukannya sebagai raja.

Kebesaran nama Hasan Besari dinilai raja bakal meruntuhkan kekuasaannya. Memang, semenjak Hasan Besari berdakwah di Ponorogo, wilayah tersebut seakan-akan memiliki hukum dan perundang-undangan sendiri.

Bagi Sang Raja, Hasan Besari telah menodai kekuasaan kerajaan dengan menerapkan hukum sendiri. Sesuai titah baginda raja, para prajurit diutus untuk menangkap Hasan Besari. Diputuskan Hasan Besari diasingkan ke luar Jawa.

Namun ada sebuah keajaiban. Ketika Hasan Besari naik kapal, tiba-tiba kapal berhenti dengan sendiri. Meski layar telah dikembangkan, kapal itu tetap tidak bergerak. Diam di tempatnya seakan ada bongkahan batu raksasa telah menahan laju kapal. Sebaliknya manakala Hasan Besari diturunkan, kapal dapat melaju kencang.

Karena kurangnya keyakinan para prajurit terhadap nama besar Hasan Besari, hal ini dilakukan berkali-kali hingga membuat mereka menyerah dan membawa kembali tawanan ke hadapan Sang Raja.

Melihat kejadian di luar nalar ini, Pakubuwono II lantas mengutus prajuritnya menjebloskan Hasan Besari dalam tahanan. Selama dalam tahanan, setiap malam Hasan Besari selalu melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Suaranya sangat merdu sekali. Sampai-sampai hewan yang biasa melolong di malam hari seketika terdiam mendengarkan alunan Hasan Besari. Dengan suara keemasannya pula, beliau mampu menggetarkan dinding-dinding istana. Seluruh kadipaten seakan ikut berdzikir mendengarkan suara Hasan Besari. Pepohonan dan dedaunan menari-nari. Angin barat, timur, selatan, utara telah dibuatnya membisu dalam keheningan malam.

Bahkan hati seorang putri raja tersayat-sayat mendengarkan lantunan Hasan Besari. Ia luluh. Air mata menetes dari kedalamannya dan meninggalkan beribu tanda tanya: siapakah pelantun ayat-ayat tersebut.

Tanpa mengetahui orangnya, sang putri rupanya telah jatuh hati terhadap Hasan Besari. Keinginannya ini kemudian disampaikan kepada ayahandanya. Namun keinginan putrinya ini sempat ditentang lantaran sang pelantun hanyalah seorang tahanan.

“Ayahanda, aku sangat menyukai sang pelantun. Bolehkah kiranya ayahanda menikahkan aku dengannya.”

“Anakku, dia itu hanya seorang tahanan, seorang pelawan hukum. Tidak sepatutnya kamu jatuh cinta kepadanya.”

“Kalau ayahanda tidak bersedia menikahkan aku dengannya, maka aku akan bunuh diri!” ancam Sang Putri.

Karena tekad yang kuat, raja tak kuasa menolak keinginan anaknya. Ia pun mengabulkan permintaan anaknya untuk menikah dengan Hasan Besari.

Namun dalam Babad Perdikan Tegalsari diceritakan tentang latar belakang Pakubuwono II yang nyantri di Pondok Tegalsari. Pada suatu hari, tepatnya tanggal 30 Juni 1742, di Kerajaan Kartasura terjadi pemberontakan Cina yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi Susuhuhan Kuning, seorang Sunan keturunan Tionghoa.

Serbuan yang dilakukan oleh para pemberontak itu terjadi begitu cepat dan hebat sehingga Kartasura tidak siap menghadapinya. Karena itu Pakubuwono II bersama pengikutnya segera pergi dengan diam-diam meninggalkan Keraton menuju ke timur Gunung Lawu. Dalam pelariannya itu dia sampai di desa Tegalsari. Di tengah kekhawatiran dan ketakutan dari kejaran pasukan Sunan Kuning itulah kemudian Pakubuwono II berserah diri kepada Kanjeng Kyai Hasan Besari. Penguasa Kartasura ini selanjutnya menjadi santri dari Kyai wara` itu; dia ditempa dan dibimbing untuk selalu bertafakkur dan bermunajat kepada Allah, Penguasa dari segala penguasa di semesta alam.

Berkat keuletan dan kesungguhannya dalam beribadah dan berdoa serta berkat keikhlasan bimbingan dan doa Kyai Besari, Allah swt mengabulkan doa Pakubuwono II. Api pemberontakan akhirnya reda. Pakubuwono II kembali menduduki tahtanya. Sebagai balas budi, Sunan Pakubuwono II mengambil Kyai Hasan Besari menjadi menantunya.

Kembali ke cerita. Selama pernikahan antara Hasan Besari dan putri Pakubuwono II, terjadi banyak kejadian-kejadian ganjil di halaman istana.

Tersebutlah seorang patih juga paman sang putri yang memiliki kesaktian, merasa iri dengan kelebihan serta kedudukan Hasan Besari sebagai menantu raja. Maka, dengan izin Pakubuwono II, Maha Patih ingin menguji kesaktian Hasan Besari.

Suatu hari dalam perjamuan makam malam, tiba-tiba Maha Patih berkelakar, “Aku sanggup menghidupkan ayam ini,” katanya menunjuk ayam panggang di depan meja makan. Dengan kesaktiannya, ayam tersebut dipegangnya dan tiba-tiba hidup lagi.

Hasan Besari tidak mau kalah. Ia ingin menghentikan kesombongan sang patih. Saat itu Hasan Besari melihat sebuah telur yang telah dimasak. Dipeganglah telur tersebut, dan atas izin Allah, telur matang mendadak menetes dan keluarlah anak ayam. Kejadian ini bukan sekali saja.

Beberapa kali Hasan Besari ditantang sang patih mengadu kesaktian. Akan tetapi kesaktian yang dimiliki sang patih tiada apa-apanya dibanding karomah yang diberikan Allah kepada Hasan Besari.

Dalam setiap tantangan, Hasan Besari tidak pernah berkeinginan mengalahkan kesaktian Maha Patih. Yang beliau lakukan hanyalah mengimbangi. Tiada pula keinginan dari beliau untuk mencederai, mencelakakan maupun mengalahkan. Sebab meski Maha Patih orangnya angkuh dan sombong, beliau masih menganggap ia sebagai kerabatnya.

Pada jamuan makan berikutnya, sang patih dengan sombongnya mengajak Hasan Besari keluar istana menuju halaman kaputren. Di situ sang patih menantang Hasan Besari memanah.

Maha Patih mendapat giliran pertama. Ia memanah sebuah pohon besar. Dengan kesaktiannya, pohon besar tersebut terbelah menjadi dua. Melihat kesaktian itu, beberapa orang yang hadir di istana, termasuk raja bersorak-sorai. Maha Patih tidak saja membuat orang-orang bangga, tapi kesaktiannya dianggap mampu mengalahkan menantu raja.

Saat giliran Hasan Besari tiba. Beberapa orang saling berbisik meragukan kesaktian Hasan Besari. Mereka menganggap Hasan Besari adalah seorang penyihir, pembual, pemimpi, dan pesakitan yang gila karena berani menantang kesaktian patih kerajaan. Namun mereka tidak ingat dengan Allah, yang telah memberi Hasan Besari sebuah karomah. Dengan kelebihannya itu Hasan Besari mampu menandingin kesaktian Maha Patih. Sewaktu melontarkan panah ke arah pohon, mata panah tidak mengenai pohon, hanya melewati. Pohon tidak terbelah seperti yang dilakukan Maha Patih. Beberapa orang kemudian melayangkan ejekan ke Hasan Besari. Dikiranya dia telah meleset.

Hasan Besari terdiam. Lalu dia berkata: “Lihatlah dedaunan pohon itu!” Serunya.

Pohon besar nan rindang tersebut memang tidak tumbang atau terbelah, tetapi semua daunnya berguguran ke tanah tanpa meninggalkan bekas apapun. Sehingga pohon itu lebih mirip pohon kering di padang tandus.

Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu sempat tertegun. Padahal panah beliau sama sekali tidak menyentuh pohon alias meleset, lalu mengapa dedaunan bisa terlepas dari ranting-rantingnya. Kalau bukan seorang yang berilmu tinggi, tentu tidak bakal sanggup melakukan hal seperti itu. Hasan Besari adalah orang hebat, orang besar, ulama sekaligus pemimpin. Dalam hati mereka mengakui kebesaran Hasan Besari.

Pada perkembangan selanjutnya, Hasan Besari memboyong isterinya ke Ponorogo. Sebagai catatan, semenjak putri Solo pindah ke Ponorogo, kala itu Ponorogo pernah mendapat julukan sebagai Kota Batik.

Maklum, waktu itu kesenian batik baru terbatas dalam lingkungan keraton. Dan ketika putri keraton Solo diperistri Hasan Basri, maka dibawalah kesenian batik keluar dari keraton menuju Ponorogo. Apalagi saat itu banyak keluarga kraton yang belajar di Pesantren Tegalsari. Tak heran jika kemudian para pemuda-pemudi yang dididik dalam lingkungan Pesantren kemudian menyumbangkan dharma batiknya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.

Daerah perbatikan lama yang sampai sekarang dapat dilihat ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang. Dari sini kemudian meluas ke desa-desa seperti Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Namun sekarang hampir-hampir tidak pernah ditemukan lagi jejak batik di Ponorogo. Sisa-sisa batik yang masih ada hanya berupa nama-nama jalan yang ada di sekitar Kelurahan Kertosari dan Patihan Wetan.

Sejak Hasan Besari mempersunting putri Keraton Solo, beliau mendapat sebutan Yang Mulia Kanjeng Kyai Hasan Bashari (Besari). Dan saat itu Desa Tegalsari menjadi desa merdeka atau perdikan, yaitu desa istimewa yang bebas dari segala kewajiban membayar pajak kepada kerajaan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here