La Nyalla: Pesantren, Elemen Penting Memperkuat Ketahanan Ekonomi

0
62
Besarnya potensi ekonomi pesantren menurut Ketua KADIN Jawa Timur La Nyalla harus bisa dioptimalkan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Nusantara.news, Magetan – Pesantren tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Tak hanya membangun karakter umat Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini, pesantren di masa lalu bahkan jadi segala pusat aktivitas, termasuk untuk membangun sektor perekonomian.

Kelangkaan beberapa bahan pangan yang akrab jadi suguhan akhir-akhir ini dan langkah impor yang diambil pemerintah, seharusnya tidak perlu terjadi jika Presiden Joko Widodo dan seluruh komponen pembantunya, bisa optimalkan peran pesantren. Karenanya, di tengah kebingunan pemerintah mencari cara membayar utang yang sudah jatuh tempo, potensi luar biasa dari pesantren bisa dikembangkan untuk memperkuat ketahanan ekonomi.

Data 2008/2009 Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam Kementerian Agama, ada lebih dari 5.000 pesantren di Jawa Timur. Belum di 33 provinsi lainnya. Dengan asumsi paling sedikit setiap pesantren menaungi 500 orang belum termasuk lingkungan sekitar,  bisa dibayangkan putaran roda ekonomi yang berlangsung setiap hari jika bisa dilakukan secara mandiri.

Potensi itu yang dipaparkan Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jawa Timur La Nyalla M Mattalitti. Salah satu yang dapat dilakukan pesantren sebagai basis ekonomi adalah mencetak produk halal. “Jawa Timur ini gudangnya pesantren tapi jujur saja nyaris tidak kita dengar adanya produk halal yang diproduksi dari sana. Padahal jika ini dikreasi, potensinya dahsyat,” katanya ketika mengunjungi Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin asuhan KH Luqman Hidayat di Plaosan, Magetan, Sabtu (5/8/2017).

Bicara pasar produk pangan halal, Indonesia sangat tinggi. Sebagai negara dengan populasi umat Islam terbesar di dunia, sangat disayangkan jika hanya bisa menjadi obyek pemasaran ekonomi global. “Jika bisa memproduksi dan memperkuat produk halal, ada 1,5 miliar umat Islam di dunia yang bisa jadi pasar. Itu sekitar 23 persen populasi dunia. Kuasai pasar produk halal di Indonesia saja, tidak perlu dunia, umat dan santri akan sangat sejahtera,” katanya.

Kendalanya, KADIN,  terang La Nyalla menilai peran pesantren belum optimal karena hanya dipandang dari aspek pendidikan dan politik saja sejak beberapa dekade terakhir. “Jadi pesantren dipandang hanya untuk pendidikan, padahal muslim harus mandiri, harus sejahtera, dan itu harus dengan jalan berniaga tanpa meninggalkan akhlak mulia. Lebih parah lagi, ada pihak yang menilai pesantren dari sisi politik saja, cuma diambil sisi elektoralnya menjelang Pilkada, tapi tidak pernah serius memberdayakannya meski sudah bertahun-tahun duduk di kursi pimpinan daerah,” bebernya.

Penguatan ketahanan ekonomi berbasis pesantren itu yang akan ditawarkan La Nyalla sebagai misinya ketika mencalonkan sebagai gubernur dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 Jawa Timur. “Sebagai pengusaha, saya terbiasa berpikir out of the box. Sudah saatnya koperasi-koperasi pesantren tidak lagi berorientasi ke dalam. Tidak nyaman dengan hanya punya pasar santri pondok dan lingkungan sekitar. Pesantren harus menjadikan umat Islam di seluruh dunia menjadi sasaran market,” ujarnya.

Menurut La Nyalla, hal itu bisa digarap melalui sentuhan kolaborasi antarpesantren dalam mengembangkan “Halal Produk Made In Pesantren”. “Bisnis harus efisien. Kita bangun jaringan. Misalnya, kita akan mulai mimpi besar merajai pasar halal food. Sinergikan pesantren di basis pertanian, seperti Magetan dan sekitarnya, mereka bisnis hulunya. Lalu gabungkan dengan pesantren yang dekat lokasi pasar terbesar, seperti Pasuruan, Sidoarjo, Gresik, Lamongan. Mereka bikin bisnis hilirnya. Kalau perlu kita buka di mall-mall di seluruh Indonesia dengan brand halal ala pesantren Jatim,” ujarnya.

Belum lagi jika pesantren menggarap bisnis halal berorientasi ekspor, mulai dari makanan sampai kosmetik. “Pasar Timur Tengah sangat besar. Mereka masih mengimpor produk makanan dan minuman dari negara lain. Saya kemarin juga baru bertemu dengan Duta Besar Turki, di sana puluhan juta penduduknya masih makan dan minum dari impor. Pesantren harus ambil peluang,” tegas La Nyalla.

Potensi lain yang bisa dibidik adalah wisata halal (halal tourism). “Jatim punya alam indah, misalnya di Pulau Madura, di Sumenep keren pantainya. Di sana basis pesantren. Pemprov Jatim bisa langsung intervensi, bangun brand halal tourism di sana. Undang turis Timur Tengah, kerja sama dengan maskapai Timur Tengah. Undang endorser berpengaruh seperti Maher Zain untuk wisata ke sana,” ujarnya.

“Harus ada lompatan besar. Semua bisa terjadi kalau kita mau dan pemerintah mendorong dengan memfasilitasi. Itulah salah satu tekad saya membangun ketahanan ekonomi umat, yang salah satunya melalui ketahanan ekonomi pesantren. Tak bisa lagi pimpinan daerah cuma pidato di pesantren, tapi tak ada langkah hebat untuk membangun ekonomi umat berbasis pesantren,” pungkas La Nyalla.

KH Luqman Hidayat mengatakan, pesantrennya kini mempunyai sejumlah usaha, seperti ternak sapi, produksi tahu, pertanian, dan gerai ritel. Namun, selama ini belum ada terobosan berarti, karena minimnya pemberdayaan. “Kami mengharapkan pemimpin yang bisa membimbing pesantren mampu mencetak wirausahawan. Pak La Nyalla memenuhi kriteria tersebut karena beliau pengusaha,” ujarnya.

Keterbatasan Peran Pemerintah

Pemerintah sendiri melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sebenarnya sudah ada program memberi nilai tambah pada pesantren. Termasuk dengan menggencarkan penciptaan wirausaha baru melalui program Santripreneur untuk mendorong penumbuhan industri kecil dan menengah (IKM). Hanya saja, agenda itu tidak mencakup skala luas.

Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih ketika melakukan kunjungan kerja di Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Senin (7/8/2017), mengatakan dalam kurun 2013-2015, hanya bisa membina lima pondok pesantren di empat provinsi. Jumlah keseluruhan peserta yang mengikuti sebanyak 105 santri untuk mendapatkan pelatihan dan peningkatan keterampilan di bidang konveksi dan kerajinan batu akik.

Pondok Pesantren Sunan Drajat merupakan salah satu lokasi pilot project yang dilaksanakan Kemenperin dalam menjalankan program Santripreneur tahun ini. “Kami yakin program ini mampu mendukung pemerataan ekonomi nasional, karena jumlah pondok pesantren di Indonesia sangat banyak,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Agama, pada tahun 2014, pondok pesantren yang ada di Indonesia sebanyak 27.290 lembaga dengan jumlah santri mencapai 3,65 juta orang. Sementara itu, jumlah santri di Pondok Pesantren Sunan Drajat sebanyak 12 ribu orang (5.500 putra dan 6.500 putri) dengan tenaga pendidik 1.041 orang.

Gati juga menjelaskan, pihaknya akan mendidik dan membina sekitar 10 orang santri terpilih untuk mengikuti pelatihan dan pendampingan di bidang pengolahan ikan. Selain itu, Ditjen IKM akan memfasilitasi pemberian bantuan mesin dan peralatan yang bakal diserahkan kepada pihak pondok pesantren melalui mekanisme hibah ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab. Lamongan.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan, pondok pesantren berperan penting dalam upaya mewujudkan kemandirian industri nasional. Langkah strategis ini dilakukan melalui program Santripreneur, yang berbasis pada Business Process Outsourcing (BPO), Joint Operation, dan Capacity Building dengan kerja sama beberapa perusahaan industri dan perbankan.

Kemenperin mencatat, jumlah IKM tumbuh mencapai 165.983 unit pada tahun 2016 atau meningkat 4,5 persen dibandingkan tahun 2015. Sementara pada 2017, jumlah IKM ditargetkan mencapai 182.000 unit dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 400.000 orang. Dengan besarnya potensi di tengah keterbatasan pemerintah, tak heran terobosan program seperti yang dibeberkan La Nyalla dapat menjadi solusi agar pesantren bisa menjadi poros ekonomi baru berbasis umat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here