Ladang Gas Qatar-Iran di Balik Pemutusan Hubungan Diplomatik Saudi-Qatar

0
627
Seorang pria berjalan melewati kantor Qatar Airways di Manama, Bahrain, Senin (5/6). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news – Arab Saudi secara mengejutkan memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada Senin (5/6). Padahal kedua negara satu jazirah itu selama ini sekutu akrab dalam politik Timur Tengah. Keputusan Saudi lalu diikuti oleh enam negara Arab lain: Bahrain, Uni Emirat Arab, Mesir, Yaman, Libya, dan Maladewa.

Negara-negara tersebut kini memberi batas waktu bagi para duta besar Qatar untuk “angkat kaki” dari negaranya. Arab Saudi, UEA dan Bahrain memberi batas waktu dua minggu bagi semua pengunjung dan warga Qatar untuk meninggalkan negara mereka. Bahkan, untuk diplomat UEA hanya memberi waktu 48 jam.

Alasan pemutusan hubungan diplomatik oleh Arab Saudi dikarenakan Qatar, bersama Iran dituding mendukung kelompok teroris di antaranya Ikhwanul Muslimin, al-Qaeda, Houthi dan ISIS di sejumlah negara. Qatar juga dianggap terlalu memuji Iran, musuh utama Saudi, serta malah mengkritik kebijakan Donald Trump (AS). Tuduhan yang telah disangkal oleh pihak Qatar.

Benarkah pecah kongsi di Teluk Arab, yang tergolong paling buruk dalam beberapa waktu terakhir ini, hanya karena persoalan dukungan terhadap kelompok terorisme yang dituduhkan Saudi terhadap Qatar?

Padahal, jika masalahnya dukungan terhadap terorisme, Saudi sendiri merupakan pendukung milisi bersenjata yang saat ini memberontak di Suriah. Saudi juga, dengan paham Wahabi-nya, dianggap menyebarkan ideologi terorisme ke sejumlah negara.

Motif persaingan bisnis dan ekonomi mungkin lebih pas mewarnai keputusan Arab Saudi “bercerai” dengan Qatar, mengingat Qatar saat ini merupakan negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia, di atas Luxemburg dan Singapura, boleh dikatakan Qatar merupakan negara terkaya di dunia.

Saat ini Qatar merupakan produsen gas cair (LNG) terbesar di dunia. Bisnis dan investasi Qatar juga  berkembang pesat di berbagai bidang di seluruh penjuru dunia dari mulai industri otomotif (VW), pesawat terbang, hingga sepak bola. Bagi Arab Saudi, ini adalah ancaman di kawasan Teluk Arab, Qatar bisa menjadi negara yang mendominasi, sementara Qatar terkenal cukup dekat hubungannya dengan Iran.

Masalahnya, Qatar dan Iran memiliki ladang gas bersama, yaitu North Field (Lapangan Utara/Qatar) dan South Pars (Pars Selatan/Iran) yang merupakan lapangan gas alam terbesar di dunia, berada di antara batas Qatar dan Iran. Ladang gas tersebut mencakup 97.000 km persegi dengan mayoritas (sekitar dua pertiga) berada di perairan Qatar. Meski ladang itu dimiliki bersama, ada distribusi yang tidak merata pada ekstraksi gas alam. Qatar mengekstrak sekitar tiga kali lebih banyak gas alam dari lapangan tersebut ketimbang Iran. Diperkirakan, total pendapatan Qatar dari lapangan tersebut sekitar USD 37 miliar.

Sebagaimana dilansir media Israel, Haaretz pada Senin (5/6) pasca-pemutusan hubungan diplomatik oleh negara-negara Teluk Qatargas, pengekspor gas alam cair terbesar di dunia, meyakinkan Jepang, importir terbesar di dunia, bahwa perpecahan di kawasan Teluk tidak akan mempengaruhi pasokan.

Qatar adalah eksportir LNG terbesar di dunia, sementara Jepang adalah importir terbesar, yang mengimpor sekitar sepertiga dari kebutuhan dunia. Qatar sempat melakukan moratorium produksi gas di lapangan tersebut karena terjadi perselisihan dengan Iran, tapi kemudian moratorium dicabut dan malah ingin meningkatkan kerja sama dengan Iran.

Iran, yang menderita kekurangan gas dalam negeri yang cukup parah, saat ini telah meningkatkan produksi yang cepat dari Lapangan South Pars dan sekarang menjadi prioritas utama mereka. Iran menandatangani kesepakatan kerja sama dengan Total Prancis pada bulan November 2016 untuk mengembangkan proyek South Pars II. Total merupakan perusahaan energi Barat pertama yang menandatangani kesepakatan besar dengan Teheran sejak pencabutan sanksi internasional.

Menteri Perminyakan Iran juga telah berjanji untuk meningkatkan produksi di ladang bersama dengan Qatar itu.

“Produksi gas Iran di South Pars bisa melebihi Qatar (berakhir pada 20 Maret 2018),” kata Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zangeneh seperti dikutip kantor berita Tasnim.

“Apa yang kita lakukan hari ini adalah sesuatu yang sama sekali baru dan kita di masa depan tentu saja akan berbagi informasi mengenai hal ini dengan mereka (Iran),” kata Chief Executive Qatar Petroleum (QP) Saad al-Kaabi menjelaskan soal kerja sama dengan Iran di ladang gas bersama tersebut.

Perekonomian Qatar, negara dengan populasi sekitar 2,6 juta jiwa pernah tertekan oleh kemerosotan harga minyak global pada tahun 2015. Dimana QP pernah merumahkan ribuan pekerja dan mengalokasikan sejumlah aset untuk divestasi. QP lalu menggabungkan dua divisi LNG, Qatargas dan RasGas, untuk menghemat ratusan juta dolar.

Selain kaya, Qatar juga mempunyai pengaruh besar di dunia internasional lewat Aljazeera yang kini  berkembang menjadi media multiplatform. Selain televisi berbahasa Arab dan Inggris, Aljazeera juga mengembangkan berbagai situs berita.

Alasan pemutusan hubungan diplomatik

Pemutusan hubungan diplomasi oleh Arab Saudi dan 6 negara Arab lainnya terhadap Qatar bermula dari pernyataan Emir Qatar, penguasa paling muda (37 tahun) di antara negara Teluk lainnya (Arab Saudi, Oman, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab), Syekh Tamim bin Hamad bin Khalifa al-Tsani. Syekh Tamim mengatakan, sebagaimana dikutip kantor berita Qatar QNA, bahwa Qatar tengah menghadapi kampanye hitam bersamaan dengan kunjungan Presiden AS ke Riyadh. Kampanye itu, katanya, bertujuan untuk menghubungkan-hubungkan Qatar dengan jaringan terorisme.

Syekh Tamim juga menjelaskan, Iran merupakan penyeimbang di kawasan maupun dunia Islam yang tidak dapat diremehkan. Qatar, menurutnya, mempunyai hubungan yang baik dengan AS dan Iran pada waktu bersamaan. Tidak ada gunanya menjauhi Iran. Bahkan harus bekerja sama. Apalagi Iran merupakan negara besar yang bisa menjamin stabilitas kawasan.

Pernyataan Syekh Tamim, langsung menjadi kontroversi di negara-negara Arab. Sejumlah media Arab  menyerang pernyataan itu. Bahkan Arab Saudi, UEA, Bahrain, dan Mesir sempat memblokir akses media Qatar yang didukung oleh pemerintah, seperti stasiun televisi Aljazeera. Media di Arab Saudi dan UEA menganggap pernyataan Emir Qatar telah merusak persatuan negara-negara Arab dan dunia Islam.

Sementara, menyikapi hal tersebut, lewat direktur direktorat komunikasi pemerintah, Saif bin Ahmad al-Thani, otoritas Qatar memberi penjelasan. Menurut mereka, pernyataan yang telah menimbulkan pro-kontra itu bukan dari Syekh Tamim. Tapi dari para peretas (hacker) yang berhasil membajak kantor berita Qatar QNA. Tapi, Arab Saudi dan negara Arab lainnya tampaknya tidak bisa menerima penjelasan tersebut sehingga mengambil keputusan mengejutkan: putus diplomatik dengan Qatar.

Jika masalahnya soal terorisme, tidak perlu Arab Saudi sedemikian “kejam” terhadap Qatar, negara tetangga yang selama ini juga selalu mendukung upaya Arab Saudi dalam memberangus terorisme. Misalnya, cukup seperti yang pernah dilakukan AS terhadap negara tersebut, dengan menjatuhkan sanksi terhadap orang atau entitas perusahaan yang terindikasi mendanai terorisme. Jadi, mungkin ini bukan hanya masalah terorisme, tapi kekhawatiran Arab Saudi bahwa Qatar akan melaju kencang secara ekonomi bersama Iran, dengan sumber daya gas alam yang dimiliki. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here