Lagi, Peritel Tutup Gerai Hadapi Lesunya Ekonomi

0
168
Lotus department store diserbu pembeli karena mengobral barang dagangan menjelang penutupan 5 gerainya akhir bulan Oktober 2017

Nusantara.news, Jakarta – Lotus department store, took ritel milik PT Mitra Adi Perkasa Tbk, harus menelan pil pahit lesunya ekonomi dengan menutup dua dari lima gerainya. Bahkan tiga gerai lainnya menyusul akan ditutup pada akhir Oktober 2017 lantara kinerja yang tidak baik.

Ketiga gerai yang tersisa dan dijadwalkan akan ditutup itu ada di Jl. Thamrin, Bekasi dan Cibubur. Penutupan ini menggenapkan penutupan peritel lainnya yakni PT Matahari Departemen Store Tbk yang menutup dua gerainya di Pasar Raya Blok M dan Manggarai, serta Metro department store, beberapa bulan lalu. Termasuk Lippo Group menutup Hypermart karena sepi pembeli.

Fenomena tutupnya peritel modern ini bukan lah hal yang baru, sebelumnya malah 7-Eleven telah menutup 166 gerainya di seluruh Indonesia pada 30 Juni 2017. Bahkan Indomart mengalami penurunan laba bersih 71,03% pada Juni 2017 menjadi Rp30,5 miliar. Sedangkan laba bersih Alfamart pada periode yang sama anjlok 16,38% menjadi Rp75,5 miliar.

Fenomena jatuhnya sejumlah bisnis peritel pakaian, termasuk peritel sembako, menggenapkan lesunya pembelian. Bahkan para pedagang di Tenabang dan Glodok, Mangga Besar, ikut mengeluh karena sepinya pembeli. Indofood dan Unilever juga melaporkan adanya penurunan penjualan sangat signifikan.

Walaupun para peritel membungkusnya dengan istilah restrukturisasi, sebagaimana dikatakan manajemen PT Mitra Adi Perkasa Tbk, bahwa perusahaan tengah melakukan restrukturisasi. Manajemen lebih tepat memiliki dua atau tiga konsep departement store.

Selain dari sisi jumlah, demikian ungkap manajemen Mitra Adi Perkasa dalam paparan publik, restrukturisasi juga dilakukan dari sisi internal yaitu sumber daya manusia (SDM), kombinasi produk, serta konsep shop in shop untuk mendatangkan lebih banyak konsumen.

Seperti diketahui Mitra Adi Perkasa memiliki lima konsep gerai department store, yaitu Sogo sebanyak 17 gerai, Seibu 1 gerai, Galeries Lafayette 1 gerai, Debenhamas 2 gerai dan Lotus 5 gerai.

Saat ini kontribusi laba usaha departement store hanya 2%, sementara Sogo merupakan kontributor penjualan terbesar bagi perusahaan dari divisi department store.

Tekanan daya beli

 Pemerintah selama ini menghindari kata penurunan daya beli untuk menghadapi fenomena jatuh bangunnya industri ritel nasional. Pemerintah lebih nyaman menggunakan istilah tekanan daya beli. Alasannya, penurunan daya beli berarti terjadi penurunan kemampuan masyarakat untuk membeli cukup drastis, sementara tekanan daya beli bahwa sebenarnya tetap ada pertumbuhan daya beli hanya saja tidak sebesar pertumbuhan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lepas dari malu-malu kucingnya pemerintah mengadopsi istilah penurunan daya beli, by the fact, terjadi kelesuan ekonomi. Hal inilah yang menyebabkan tutupnya ratusan gerai 7-Eleven, Matahari, Lotus, Metro, dan anjloknya laba bersih Indomart dan Alfamart.

Ekonom Faisal Basri juga punya istilah sendiri mendefinisikan fenomena yang terjadi bukan penurunan daya beli, justru konsumsi masyarakat sedang meningkat.

Data pertumbuhan ekonomi terbaru yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Agustus ini menunjukkan perekonomian Indonesia pada triwulan II-2017 tumbuh 5,01%, persis sama dengan pertumbuhan triwulan I-2017.

Konsumsi rumahtangga pada triwulan II-2017 justru mengalami kenaikan pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya walaupun sangat tipis, dari 4,94% menjadi 4,95%. Memang dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan konsumsi masyarakat menunjukkan kecenderungan menurun.

Pada triwulan II-2017, pertumbuhan investasi bahkan lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, masing-masing 5,35% dan 4,78%. Lambat laun peranan investasi dalam PDB meningkat (berkebalikan dengan peranan konsumsi rumahtangga), dari hanya 8,1% rata-rata setahun pada periode 1960-1965 menjadi 31,5% pada semester I-2017.

Tidak hanya konsumsi rumah tangga yang menunjukkan peningkatan (pertumbuhan positif). Survei Bank Indonesia terbaru pun menunjukkan penjualan eceran Juni 2017 meningkat sejalan dengan kenaikan permintaan masyarakat selama Ramadhan dan menjelang Idul Fitri sebagaimana tercermin dari  peningkatan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2017 sebesar 6,3% dibandingkan Juni tahun lalu.

Jadi, kesimpulan Faisal, yang terjadi bukan penurunan daya beli masyarakat, melainkan perubahan pola konsumsi masyarakat sejalan dengan transformasi struktural yang terjadi. Peneliti Ari Kuncoro juga menjelaskan tidak ada anomali data mikro dan makro. Yang terjadi adalah pergeseran pola konsumsi, antara lain karena perubahan gaya hidup kelas menengah-atas.

Ada juga yang berpandangan bahwa penurunan omzet pusat perbelanjaan modern bukan disebabkan oleh penurunan daya beli masyarakat melainkan karena kehadiran belanja online atau ecommerce. Memang betul peningkatan penjualan ecommerce sangat pesat, bahkan berlipat ganda. Namun, porsi penjualan ecommerce di Indonesia pada tahun 2016 hanya 1,2% dari keseluruhan penjualan eceran. Singapura yang menduduki posisi teratas di ASEAN mencapai 4,1%. China memimpin dengan 13,8%.

Gambaran umum tidak selalu sejalan kalau kita melakukan pemilahan. Ada bukti cukup kuat bahwa kelompok masyarakat 40% termiskin (Botom-40) mengalami penurunan daya beli. Kelompok ini didominasi oleh petani, buruh tani, buruh bangunan, pekerja informal lainnya, dan pekerja pabrik.

Dalam dua setengah tahun terakhir, nilai tukar petani merosot. Kemerosotan paling tajam dialami oleh petani tanaman pangan. Upah riil buruh tani turun 2,75% selama kurun waktu November 2014 hingga Juli 2017. Pada periode yang sama, upah riil buruh bangunan juga turun 2,52%.

Penurunan daya beli kelompok Bottom-40 tidak menyebabkan penurunan daya beli nasional karena porsi belanja kelompok ini hanya 17%, sedangkan belanja kelompok 40% menengah (Mid-40) dan Kelompok 20% terkaya (Top-20) meningkat.

Sepanjang penurunan daya beli tidak merembet ke kelompok Mid-40 dan Top-20, pertumbuhan riil konsumsi masyarakat masih bisa bertahan di sekitar 5%.

Hanya saja Faisal mengakui, ada tanda-tanda di lapisan terbawah pada kelompok Mid-40 mengalami tekanan daya beli. Penyebab pertama, penghapusan subsidi listrik untuk pelanggan 900 VA yang berjumlah 19 juta. Akibat penghapusan subsidi, pengeluaran kelompok pelanggan ini naik lebih dua kali lipat, dari rerata per bulan Rp80.000 menjadi Rp170.000.

 Kedua, gaji PNS-TNI-Polri dan uang pensiun sudah dua tahun tidak naik. Untuk tahun 2018 pemerintah telah mengumumkan moratorium gaji. Ditambah penarikan premium pelan-pelan dan menggantinya dengan pertalite, ikut menekan daya beli masyarakat.

Consumer good merosot

Lepas dari terminologi yang ingin ditempelkan pada fenomana di atas, ada kelesuan pembelian terhadap produk-produk konsumen (consumer goods).

Tak bisa dipungkiri, para peritel modern tersebut semua menjual consumer goods, barang kebutuhan dasar, kebutuhan primer, sehingga seharusnya kebal resesi dengan penduduk Indonesia yang 258 juta. Penurunan pembelian bahan kebutuhan pokok, bukan kebutuhan sekunder apalagi tersier, itu artinya masyarakat mengalami penurunan daya beli sehingga untuk belanja kebutuhan pokok saja mengalami kemerosotan yang tajam.

Makanya data-data yang diumumkan pemerintah bertentangan dengan yang diumumkan Bank Dunia yang mengklaim adanya penurunan daya beli. Tapi Menkeu Sri Mulyani selalu berkelit sedang terjadi transformasi ekonomi dan perubahan pola konsumsi, sehingga ada beberapa segmen konsumsi masyarakat yang menurun (Mid-40).

Beberapa riset dan survei juga menunjukkan hal yang sama, bahwa rakyat mengalami kesulitan hari ini karena memang daya beli mereka menurun.

Yang diperlukan saat ini, di tengah lesunya industri ritel yang tentu akan berdampak pada menurunnya penerimaan pajak, harusnya pemerintah memompa perekonomian agar bisa bergairah kembali. Justru yang ditempuh pemerintah adalah menggencet para industiawan dan masyarakat dengan aneka pajak yang sangat agresif. Dapat dipastikan target penerimaan pajak pada 2017 semakin sulit terealisasi.

Sudah dapat dipastikan, laba bersih Mitra Adi Perkasa, Matahari, Indomart, Alfamart, Indofood, Unilever, Hypermart, pedagang Tenagang dan pedagang Glodok, akan anjlok. Itu artinya setoran pajak dari bisnis mereka juga akan anjlok.

Masih kah pemerintah akan membungkus realitas yang ada dengan istilah konsolidasi ekonomi, shifting dan perubahan pola belanja, peningkatan konsumsi, dan terminologi lainnya?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here