Lahan Tani Jadi Hotel, Banyak Warga Asli Kota Batu Jadi Juru Parkir

0
245

Nusantara.news, Kota Batu – Selama menjabat 2 periode, Eddy Rumpoko sukses menyulap Kota Batu menjadi destinasi wisata unggulan Jawa Timur. Kota yang dikepung pegunungan ini pun menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan setiap musim libur tiba. Namun ada potensi yang belum tergarap sempurna selain menghilangnya ikon Kota Apel. Ini akan menjadi pekerjaan rumah walikota baru periode 2017-2022.

Salah satunya pekerjaan rumah itu adalah persoalan parkir kendaraan wisatawan. Setidaknya, tiap akhir pekan lahan kosong di pusat Kota Batu penuh sesak. Sepeda motor, mobil maupun angkutan besar seperti bus yang didominasi plat nomor luar kota bersaing dengan pedagang asongan yang ironisnya didominasi waga asli Kota Batu.

Namun demikian, fakta menunjukkan pendapatan dari retribusi parkir yang targetnya terus meningkat tiap tahun, tidak pernah terealisir.

Data Dinas Perhubungan, saat ini ada 114 titik parkir dengan jumlah juru parkir (jukir) mencapai 235 orang, tersebar di sejumlah jalan di Kota Batu. Titik paling potensial di sekitar Alun-alun Batu. “Perlu kajian ulang, baik jumlah titik parkir dan potensi di masing-masing titik. Selama ini belum pernah ada kajiannya,” kata Kepala Seksi Parkir Dishub Kota Batu, Bambang Priambodo beberapa waktu lalu.

Padahal targetnya cukup kecil. Dalam kurun waktu 6 tahun terakhir, belum pernah retribusi parkir mencapai target. Tahun 2011 ditarget Rp550 juta, tercapai Rp.405.812.000 (73,78 %). Sedangkan tahun 2015, target Rp.669 juta, tercapai Rp.349.763.000 (52,28 %). Tahun 2016 bahkan lebih miris, ditarget Rp.996 juta, realisasinya hanya Rp.365.140.000 (36,66 %).

Hitungan kasar, potensi parkir bahkan harusnya bisa mencapai Rp.1 miliar. Dengan asumsi, data jumlah wisatawan yang berkunjung pada 2015 tercatat 2.249.201 orang (BPS, Red), dengan total kendaraan sebanyak 1 juta unit. Jika diklasifikasi jenis kendaraan, anggaplah ada perbandingan 60:35:5, dengan harga tiket Rp.2 ribu untuk roda 2, Rp.5 ribu roda empat dan Rp.10 ribu untuk bus, ditemukan angka Rp.3,45 miliar. Angka angka ini merupakan angka di lapangan, lebih rendah dibanding angka yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah (Perda), Tentang Tarif Parkir yang digedok hanya sebesar Rp.1.000/R2 dan Rp.3.000/mobil/minibus.

Selisih tarif parkir antara realiast pungutan di lapangan dengan tarif yang ditentukan pemerintah jadi lahan basah bagi jukir. Tidak heran kalau banyak anggota masyarakat yang

menjadi jukir dadakan, terutama dari kalangan generasi mudanya. Pola bertani yang sudah turun temurun ditinggalkan karena sulitnya mendapat pekerjaan. Apalagi sejak banjir serbuan investor yang membeli lahan sawah produktif dan disulap jadi lokasi wisata, penginapan maupun tempat hiburan lain.

Yuli, salah satu pemilik kedai makanan tradisional di sisi selatan alun-alun. Dia menyebutkan, lahan pertanian memang banyak yang dijual ke orang luar kota karena tawaran harganya cukup tinggi. “Sekarang nggak ada tanah di Batu yang murah. Semuanya sudah padat dengan bangunan,” terang ayah tiga putra tersebut, Kamis (2/2/2017).

Dampaknya, mereka yang dulu bertani kini beralih profesi baru. Bagi yang punya naluri bisnis, bisa mengembangkan usaha seperti milik Yuli. Namun bagi yang terlena, uang dari hasil penjualan tanah tak tersisa dan kini hanya bisa jadi penonton dari gemerlapnya kemajuan Kota Batu dan ujung-ujungnya jukir di sekitar alun-alun. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here