Laksamana Malahayati, Penjaga Selat Malaka yang Disegani Dunia

0
661

Nusantara.news, Jakarta – Marsekal Daendels, Gubernur Jenderal Belanda yang menguasai Indonesia pada 1808-1811, pernah menulis catatan yang penuh sentimen male chauvinist (pemujaan kejantanan): “Perempuan tidak punya tempat dalam penghormatan umum, dan terhadap perempuan hanya ada urusan pribadi!”. Catatan itu tak lain ditujukan kepada perempuan nusantara yang ketika itu disebutnya: warga kelas dua dan tak punya kiprah di panggung publik.

Tentu saja, anggapan Daendels itu sangat keliru. Sebab, jejak-jejak sejarah menunjukkan bahwa mereka sebelum Kartini sekalipun, nyatanya bukan sosok perempuan yang terbelenggu. Faktanya, jauh sebelum abad ke-19 dan 20, sejarah perempuan di nusantara adalah riwayat tentang kepemimpinan dan perlawanan. Mereka tidak saja membangun kesadaran berpolitik, mengendalikan tampuk kekuasaan, tetapi juga bahkan memimpin perang di garis depan.

Sebut saja, Gayatri Rajapatni dan Tribuana Tunggadewi dari Majapahit, Ratu Sima dari Kalingga, Matah Ati dari Mangkunegaran, Nyi Ageng Serang dari Jawa Tengah, Laksamana Malahayati dan Cut Nyak Dien dari Aceh, Martha Christina Tiahahu dari Maluku, Rohana Kudus dari Sumatera Barat, atau Maria Walanda Maramis dari Sulawesi. Mereka tampil menjaga martabat tanah airnya, sekaligus pemegang panji emansipasi paling awal.

Karena itu, kita tidak lantas terkesima dengan konstruksi Barat bahwa emansipasi perempuan dimulai dan tentang Kartini saja. Sebab, Belanda berkepentingan untuk mencipta figur perempuan lembut yang tak membahayakan mereka, yang melawan tradisi feodal Jawa, dan memuja pikiran Barat. Tujuan politis Belanda melalui Kartini (tanpa mengecilkan peran besar Kartini) adalah: menampilkan wajah protagonis Belanda dan keberhasilan Politik Etis.

Konstruksi tersebut, juga sengaja dipropagandakan Belanda untuk menihilkan sejarah perlawanan (secara fisik) dari para perempuan nusantara. Karena jika kisah kepahlawanan mereka itu dibuka dan menjadi buah bibir di daerah jajahan, maka letusan pemberontakan melawan kolonial akan jauh lebih besar dan membahayakan. Pada titik ini, negeri penjajah perlu membentuk stigma bangsa Indonesia yang inferior, terbelakang, pasrah, dan tak berdaya.

Namun berkebalikan dari stigma dan kontruksi itu, satu dari sekian sosok perempuan nusantara penantang kolonial adalah Laksamana Malahayati. Dialah penjaga selat Malaka dari Kesultanan Aceh Darussalam.

Laksamana Perempuan Pertama di Dunia

Pemilik nama asli Keumalahayati ini, namanya mudah ditemukan di literatur Barat dan China, namun amat sulit dilacak di Indonesia. Padahal, dia adalah laksamana perempuan pertama di dunia, petarung garis depan, dan pemimpin laskar Inong Balee (para janda perang) yang disegani lawan maupun kawan.

Peta Kesultanan Aceh Darussalam (1496 – 1903 M)

John Davies, kapten Inggris yang bekerja untuk kapal Belanda mencatat: “Kesultanan Aceh pada masa itu memiliki armada laut yang terdiri dari 100 kapal, di antaranya berkapasitas muatan 400 – 500 penumpang. Yang menjadi pemimpin pasukan tersebut adalah seorang perempuan berpangkat laksamana, namanya Malahayati. Dengan perkasa, Laksamana Malahayati bersama anak buahnya terlibat pertempuran melawan portugis di Selat Malaka. Enam kapal Portugis di Selat Malaka berhasil ditenggelamkan.” (Davis dalam Yacobs, 1894).

Bahkan, di tangan perempuan asal Tanah Rencong inilah, Cornelis de Houtman, pemimpin armada laut Belanda yang terkenal dan sempat mendarat di Pelabuhan Banten, tewas dalam duel satu lawan satu di atas geladak kapal pada 11 September 1599. Fakta sejarah ini tercatat dalam literatur bertajuk ‘Vrouwelijke Admiraal Malahayati’ karya penulis Belanda Marie van Zuchtelen.

Juni tahun berikutnya, Malahayati berhasil menangkap Laksamana Belanda, Jacob van Neck, yang tengah menjarah rempah-rempah di pantai Aceh. Setelah berbagai insiden, Belanda akhirnya mengirim surat diplomatik dan memohon maaf kepada Kesultanan Aceh melalui utusan Maurits van Oranjesent.

Peristiwa terbunuhnya de Houtman dan penangkapan Jacob Cornelisz van Neck, sesuatu yang menggegerkan bangsa Eropa dan terutama Belanda sekaligus menunjukkan kewibawaan Malahayati. Karena kepiawaiannya dalam bertempur, oleh peneliti Barat nama Malahayati disejajarkan dengan Semiramis, Permaisuri Raja Babilonia dan Katherina II, Kaisar Rusia, serta Jeanne d’arc dari Perancis.

Tidak hanya itu, reputasi Malahayati juga sampai ke telinga Ratu Elizabeth, penguasa Inggris. Tak seperti Portugis dan Belanda, negeri raksasa itu memilih berdamai dengan Aceh. Pada Juni 1602, Ratu Elizabeth I mengutus Sir James Lancaster ke Aceh untuk meminta izin melintasi Selat Malaka.

Malahayati ternyata juga merupakan sosok negosiator ulung. Pada Agustus 1601, Malahayati memimpin Aceh untuk berunding dengan dua utusan Maurits van Oranje sent, Laksamana Laurens Bicker dan Gerard de Roy. Mereka sepakat melakukan gencatan senjata. Belanda juga harus membayar 50 ribu gulden sebagai kompensasi penyerbuan yang dilakukan van Caerden. Denda tersebut adalah buntut tindakan Paulus van Caerden ketika datang ke Aceh menggunakan dua kapal, menenggelamkan kapal dagang Aceh serta merampas muatannya berupa lada, lalu pergi meninggalkan Aceh.

Peristiwa penting lainnya selama Malahayati menjadi Laksamana adalah ketika ia mengirim tiga utusan ke Belanda, yaitu Abdul Hamid, Sri Muhammad, dan Mir Hasan. Ketiganya merupakan duta-duta pertama dari negara/kerajaan di Asia yang mengunjungi negeri Eropa. Rombongan duta Aceh itu tiba pada Agustus 1602, namun pada 9 Agustus Abdul Hamid sendiri meninggal dunia di negeri Eropa dan dimakamkan di perkarangan gereja St Pieter di Middelburg, Zeeland.

Memimpin Pasukan ‘Janda Perang’

Malahayati atau Keumalahayati, diperkirakan lahir pada 1585. Namanya memiliki arti yang istimewa: batu indah dan bercahaya. Ia puteri dari Laksamana Mahmud Syah, cucu dari Laksamana Muhammad Said Syah, cicit dari Sultan Salahuddin Syah, raja di tahun 1530-1539, yang juga pendiri kerajaan Aceh Darussalam. Sedangkan ibunya, telah wafat sejak ia masih kecil.

Malahayati kecil sering diajak ayahnya pergi dengan kapal perang. Pengenalannya dengan kehidupan laut itu kelak membentuk sifatnya yang gagah berani dalam mengarungi lautan luas. Tak heran, darah bahari yang mengalir di jiwanya itu kemudian mengkristalkan cita-citanya menjadi pelaut tangguh.

Selepas menempuh pendidikan agamanya di Meunasah, Rangkang, dan Dayah, oleh karena ia ingin mengikuti karier ayahnya sebagai laksamana, maka ia mendaftarkan diri dalam penerimaan taruna di Akademi Militer “Mahad Baitul Makdis” milik Kesultanan Aceh Darussalam. Mahad Baitul Makdis ini terdiri dari jurusan Angkatan Darat dan Laut, dengan para instrukturnya sebagian berasal dari Kekhalifahan Turki Utsmani. Di sana, ia memilih angkatan laut dan dikenal sebagai taruna yang sangat pintar.

Di akademi ini pula, Malahayati berkenalan dengan seorang calon perwira laut yang lebih senior. Keduanya saling jatuh cinta. Sepasang kekasih ini pun sepakat menikah setelah sama-sama lulus dan menyandang gelar perwira angkatan laut. Keduanya kemudian mengabdi di Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil (1589-1604 M).

Dalam suatu pertempuram melawan Portugis di Teluk Haru, armada Aceh sukses menghancurkan para tentara Portugis. Namun, kesuksesan perang yang dipimpin Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil itu harus dibayar mahal dengan gugurnya sekitar seribu orang pasukan tempur Kesultanan Aceh, termasuk suami Malahayati yang juga seorang laksamana yang saat itu menjabat sebagai Komandan Protokol Istana Darud-Dunia.

Sejak suaminya gugur dalam perang itu, Malahayati berjanji akan menuntut balas dan bertekad meneruskan perjuangan sang suami, meski seorang diri. Dia pun meminta kepada Sultan  untuk membentuk armada laut Aceh, yang semua prajuritnya terdiri dari janda-janda yang suaminya gugur dalam perang Teluk Haru. Armada ini dikenal dengan nama Inong Balee, berkekuatan 2.000 orang janda.

Setelah memangku jabatan laksamana, Mahayati mengkoordinir pasukannya di laut, mengawasi berbagai pelabuhan yang berada di bawah penguasaan Syahbandar Kesultanan Aceh. Teluk Lamreh Krueng Raya dijadikan sebagai pangkalan militernya. Di sekitar teluk ini, ia membangun Benteng Inong Balee di atas perbukitan yang ketinggiannya 100 meter dari permukaan laut. Benteng batu yang dindingnya selebar 3 meter ini menghadap ke laut dengan lubang-lubang meriam yang moncongnya mengarah ke pintu teluk.

Benteng Inong Balee saat ini

Dari balik benteng, pasukan Inong Balee mengintai armada-armada Portugis, Belanda, dan Inggris di Selat Malaka. Di benteng itu, Laksamana Malahayati juga melatih para janda menjadi prajurit kesultanan yang tangguh.

Armada Inong Balee berulang kali terlibat dalam pertempuran di Selat Malaka, daerah pantai timur Sumatera, dan Malaya. Seorang wanita penulis asal Belanda, Marie van Zuchyelen dalam bukunya Vrouwolijke Admiral Malahayati, memuji Laksamana Malahayati dengan armada Inong Baleenya itu, terdiri dari 2.000 prajurit wanita yang gagah dan tangkas.

Pada masa pemerintahan Sultan Muda Ali Riayat Syah V yang memerintah pada 1604-1607 (menggantikan Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV), keberadaan prajurit wanita itu masih tetap dipertahankan, yaitu dengan dibentuknya Sukey Kaway Istana (Kesatuan Pengawal Istana). Kesatuan Pengawal Istana itu terdiri dari Si Pa-i Inong (prajurit wanita) di bawah pimpinan dua pahlawan wanita: Laksamana Meurah Ganti dan Laksamana Muda Cut Meurah Inseun. Kedua pimpinan Kesatuan Pengawal Istana itulah yang telah berjasa membebaskan Iskandar Muda dari penjara tahanan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil (Jamil, 1959:114).

Setelah pemerintahan Sultan Muda Ali Riayat Syah V Mukammil berakhir, tahta dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Perkasa Alam Syah pada1607-1636 M. Pada masa itu, Kerajaan Aceh Darussalam berkembang pesat dan mengalami masa keemasannya. Perhatian sultan kepada para prajurit wanita cukup besar. Sultan memperbesar dan mempermodern Angkatan Perang Aceh, di antaranya membentuk suatu kesatuan pengawal istana yang terdiri dari prajurit wanita di bawah pimpinan seorang jenderal wanita, Jenderal Keumala Cahaya.

Namum, setahun sebelum Sultan Iskandar Muda memerintah, Laksamana Malahayati wafat. Ia gugur saat masih memimpin pasukan Aceh menghadapi armada Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Castro yang menyerbu Kreung Raya Aceh pada Juni 1606. Laksamana Malahayati lalu dimakamkan di lereng Bukit Kota Dalam, sebuah desa nelayan yang berjarak sekitar 34 kilometer dari Banda Aceh, yang jaraknya tidak jauh dari Benteng Inong Balee.

Karena perjuangannya, nama Laksamana Malahayati menjadi legenda dan diabadikan untuk nama jalan, nama rumah sakit, nama pelabuhan, nama universitas di Sumatera, hingga nama kapal perang TNI Angkatan Laut. Namun sayangnya, Laksamana Malahayati belum diberikan gelar pahlawan nasional oleh pemerintah. Namanya sempat dibahas di Kementerian Sosial RI pada tahun ini (2017) untuk diberikan gelar pahlawan, namun tak begitu jelas kelanjutannya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here