Lambannya Pembangunan Pasar Jadi Topik Kampanye

0
78
Ilsutrasi Pasar (Foto: Teknologi.id)

Nusantara.news, Kota Malang – Agenda Pemerintah Kota Malang untuk merevitalisasi beberapa pasar tradisional di Kota Malang belum sepenuhnya selesai. Bahkan muncul berbagai persoalan di sejumlah pasar – seperti misal Pasar Blimbing dan Pasar Comboran yang hingga kini tak kunjung tuntas.

Melihat satu titik kelemahan pembangunan di Kota Malang tersebut, para calon Walikota dan Wakil Walikota Malang dalam kampanye Pilkada 2018 menyasar beberapa titik pasar untuk mencuri perhatian dan menampung aspirasi serta keluhan permasalahan yang ada dalam pasar tersebut.

Untuk diketahui, pasar merupakan salah satu wadah pendongkrak roda ekonomi masyarakat dan negara. Oleh karenanya, hal itu menjadi sangat penting. Khususnya, pemerintah sebagai penyelenggara negara dapat melakukan kontrol dan pengayoman pada para pedagang untuk memutar arus perekonomian masyarakat.

Regulasi tentang Pasar dan Sistem Pengelolaannya sudah diatur lengkap dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 53/M- DAG/PER/12/2008 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan, yang diturunkan ke daerah yakni Peraturan Daerah (Perda) Kota Malang Nomor 12 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Pasar dan Tempat Berjualan Pedagang.

Berdasarkan regulasi itu sudah jelas, urusan pengelolaan pasar ada di bawah naungan pemerintah, dalam hal ini Dinas Perdagangan Kota Malang, yang kemudian turun pada Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pasar sebagaimana diatur dalam Perda Kota Malang Nomor 4 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan Daerah (Lembaran Daerah Kota Malang Tahun 2008 Nomor 1 Seri E, Tambahan Lembaran Daerah Kota Malang Nomor 59, yang menyebutkan bahwa urusan perdagangan dan pengelolaan pasar ada pada negara, dalam hal ini adalah pemerintahan.

Ada sekitar 28 Pasar Tradisional di Kota Malang, hanya sebagian yang sudah dilakukan renovasi namun hanya sementara dan belum maksimal.


No


Nama Pasar


Alamat

1. Pasar Besar Kota Malang Jalan Kyai Tamin, Sukoharjo, Klojen, Sukoharjo, Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65118
2. Pasar Rakyat Oro-0ro Dowo

 

Jalan Guntur No. 20, Kelurahan Oro-0ro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang

 

3. Pasar Gadang Malang Jalan Pasar Gadang, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Sukun, Kota Malang
4. Pasar Klojen Jalan Cokroaminoto, Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang
5. Pasar Blimbing

 

Jalan Tunggul Wulung, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Blimbing, Kota Malang

 

6.  

Pasar Tawangmangu

Jalan Tawangmangu, No.8, Kelurahan Lowokwaru, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang
7. Pasar Rakyat Bareng

 

Jalan Terusan Ijen, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klojen, Kota Malang

 

8. Pasar Pandanwangi Jalan Simpang Laksda Adi Sucipto, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang
9. Pasar Kasin Jalan IR Rais, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang
10. Pasar Kebalen Jalan Zaenal Zakse, No. 28-38, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang
11. Pasar Kota Lama Gang 5, No. 3B, Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang
12. Pasar Kota Lama Gang 5, No. 3B, Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang
13. Pasar Sukun Jalan S. Supriadi, Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang
14. Pasar Tlogowaru Jalan Tlogo Waru, Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang
15. Pasar Kedungkandang Jalan Muharto Timur, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang
16. Pasar Dinoyo Jalan MT. Haryono No. 171A, Kelurahan Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang

 

Maraknya beberapa pasangan calon yang melakukan kegiatan kampanye di pasar-pasar tradisional Kota Malang, dengan masing-masing jargon memperbaiki perekonomian Kota Malang pun menjadi sorotan beberapa kalangan.

Nanda, Kemakmuran Pedagang Tunjang Perekonomian Daerah

Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota  Malang nomor urut 1, Nanda Gudban-Ahmad Wanedi melakukan kegiatan kampanye salah satunya yakni dengan blusukan ke beberapa pasar yang ada di Kota Malang.  Beberapa lalu, pasangan calon ini mengunjungi Pasar Tawangmangu, Lowokwaru, Malang (20/2/2018).

Dr Ya’qud Ananda Gudban mengungkapkan  mengungkapkan jika faktor utama yang bisa mempengaruhi daya beli masyarakat menjadi menurun yaitu masalah ketidakstabilan ekonomi masyarakat.

Ia menjelaskan perlunya stimulus baik moril dan materil guna menunjang kemakmuran para pedagang. Hal itu, yang kemudian akan menunjang roda ekonomi suatu daerah. “Stimulus agar mampu berdagang, berdaya saing, memiliki wadah, tentunya infrastruktur pasar juga perlu diperbaiki guna menarik kedatangan para pedangan ke pasar tradisional,” jelasnya.

Menurut Nanda, menyebut juga banyaknya pedagang-pedagang modern juga menyebabkan masyarakat enggan belanja di pasar tradisional.

“Maka dari itu mohon doanya ya buk, pak… supaya kami Nanda-Wanedi Nomor 1 bisa jadi, karena kami akan perjuangkan kemakmuran pedagang-pedagang di pasar- pasar tradisional,” ajaknya untuk memilih dalam kampanyenya.

Tak sedikit, pedagang yang mengeluhkan terkait kondisi pasara kepada Nanda. Pedagang Sayur Sri (54), mengungkapkan bahwa daya beli masyarakat turun sehingga penghasilannya juga turun. Ia menyebut bahwa pengunjung pasar tak seramai dahulu.

“Pengunjung tak seramai dulu apalagi kondosi pasar yang seperti ini bocor, becek dan agak smrawut itu yang menjadi pengunjung juga enggan masuk pasar,” keluhnya.

Ia menegaskan perlunya perbaikan pasar yang sesuai dengan apa yang telah ia dan para pedagang berikan kepada UPTD Pasar. “Setidaknya ada perubahan yang lebih baik, padahal kami juga sudah iuran karcis pasar dan iuran kebersihan,” tegas dia.

Pertanyaan yang akan muncul adalah, sewaktu Nanda Gudban menjadi Ketua Badan Anggaran DPRD Kota Malang, yang mengurus terkait keungan dan ekonomi pembangunan. Sejauhmana dampak anggaran pembangunan yang dialokasikan untuk pasar, yang hingga 5 tahun akhir ini masih belum maksimal terkait pembangunannya.

M Anton, Pedagang dan Rakyat Kecil harus menjadi Perhatian

Sementara itu, pasangan calon nomor urut 2, yakni M Anton-Syamsul Mahmud berkunjung ke Pasar Blimbing. M Anton pun menyapa ramah ke para pedagang Pasar Blimbing, ia mengatakan akan segera melakukan renovasi Pasar Blimbing jika terpilih lagi.

“Ini dalam tahap penyelesaian, jadi sebentar lagi saya melihat pemerintah akan melakukan percepatan relokasi dan pembanguan. Sebelum saya cuti, kepala dinas sudah menyampaikan ke saya akan segera direlokasi pada pekan lalu. Katanya sudah diselesaikan masalah adendumnya,” ujar Anton.

Anton pun optimis kalau renovasi Pasar Blimbing akan selesai secepatnya. Dirinya juga mengatakan sudah mencatat semua persoalan yang ada di pasar itu. Catatan itu untuk menentukan langkah yang akan diambil jika nanti terpilih.

Menjadi sebuah anomali dari pasangan calon petahana yang melakukan kampanye di Pasar Blimbing. Mengingat, tahun 2018 merupakan tahun ke 8 pembangunan Pasar Blimbing sejak tahun 2010 pun belum kunjung selesai pembangunannya.

Calon Petahana Walikota, M Anton dahulu terpilih menjadi Walikota Malang tahun 2013, dalam rentang waktu 1 periode pemerintahannya hingga akhir jabatannya di tahun 2018 ini pembangunan Pasar Blimbing pun juga tak kunjung usai dan selesai.

Pedagang Pasar Blimbing Sudiarti (48) menjelaskan memang pembangunan Pasar Blimbing memakan waktu yang lama. Pembangunan yang di agendakan sudah sejak walikota sebelumnya. “Dari pak Peni, hingga Abah Anton belum ada pembangunan hanya beberapa perubahan dan penutupan seng. Itupun dibongkar lagi,” jelasnya.

Artinya selama dari masa Walikota Malang, Peni Suparto hingga Abah Anton, belum mampu sepenuhnya menyelesaikan permasalahan pembangunan Pasar Blimbing. Akan kah bisa terseleseikan di periode selanjutnya?

Pengacara Investor Pasar Blimbing, Abdul Salam menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Malang, belum dapat menyelesaikan adendum yang dibuat sehingga pedagang belum bisa pindakh ke tempat yang dibangun Investor Pasar Belimbing (PT. KIS) sebagai tempat relokasi yakni, Ex Stadion Pasar Belimbing.

“Karena belum bisa mengosongkan pasar, hal ini membuat pembangunan molor dan akhirnya merugikan PT KIS dan pedagang pasar,” jelasnya.

Baca: Tujuh Tahun Berpolemik, Renovasi Pasar Belimbing di Kota Malang Masih Molor

Ia menjelaskan bahwa memang yang menjadi permasalahaan adalah Pemkot tidak menyerahkan Pasar Blimbing dalam keadaan kosong. “Alias Pemkot tidak mampu merekolakasi pedagang Pasar Blimbing ke tempat penampungan sementara,” ungkapnya kepada Nusantara.news ketika dihubungi melalui WhatsApp, Selasa (27/2/2017).

M Anton, sebagai sosok yang memiliki porsi besar pengambil kebijakan di Kota Malang, selama lima tahun akhir ini seakan belum memberikan dampak yang signifikan dan maksimal, terkait pembangunan beberapa pasar di Kota Malang.

Baca: Pembangunan Pasar Dinoyo Singkirkan Pedagang Kecil

Meskipun ada beberpa agenda pembangunan, namun pembangunan tersebut masih menyisakan beberapa masalah yang tertinggal hingga membuat kerugian beberapa pihak, baik itu pedagang maupun masyarakat. Sebagai contoh, permasalahan Pasar Dinoyo-Merjosari, Pasar Blimbing, Pasar Comboran dan lainnya.

Sutiaji, Kita Bangun Ekonomi Rakyat melalui Kesejahteraan Pasar Rakyat

Sedangkan pasangan calon nomor urut 3, yakni Sutiaji-Sofyan Edy Jarwoko juga tak mau ketinggalan melakukan kampanye di beberapa pasar. Salah satunya yakni di Pasar Tawangmangu, Lowokwaru, Kota Malang (18/2/2107).

Sutiaji mengkampanyekan gagasan ekonomi kerakyatan dengan rencana menyisir beberapa pasar dan UMKM yang ada di Kota Malang. Sebab, beber Sutiaji, ekonomi yang paling cocok di Indonesia adalah Ekonomi Kerakyatan. “Sesuai gagasan founding father kita mas, yang menggagas ekonomi rakyat dan ekonomi berdikari, gagasan emas ini harus dilanjutkan,” jelasnya

“Ekonomi kerakyatan, kita mulai dari pasar rakyat, yakni pasar tradisional yang ada di Kota Malang,” pungkasnya.

Sutiaji menjelaskan tetap akan menjaga budaya dan ketradisionalan pasar yang menjadi identitas dan jati diri masyarakat Indonesia. “Meskipun zaman berkembang, kita harus jaga budaya tradisional kita jangan sampai hilang. Tetap tradisional, budaya tawar menawar yang khas Indonesia harus tetap ada. Kedepan hanya akan kita perbaiki infrastruktur dan manajemen yang harus di tata,” tandas pria berkacamata itu.

Ke depan pihaknya akan melakukan revitalisasi pasar, yang sedikit berbeda dengan yang kemarin. Yakni dengan tidak melepaskan pasar ke pihak ketiga. Semua akan dikelola dengan pendanaan APBD. “Karena ada beberapa pasar yang bermasalah karena ada pihak ketiga. Jadi harapannya cukup pemerintah dan juga rakyat,” jelas Sutaji.

Ekonomi Kerkayatan yang akan ditanamkan ke masyarakat dengan transfer pengetahuan “sehingga mereka tahu pentingnya ekonomi rakyat, dari situ akan timbul kepercayaan diri,” bebernya.

Selanjutnya transfer skill, “Jadi kita berdayakan, kita kembangkan para pengusaha  muda, pelaku UMKM, dan masyarakat. Selanjutnya tinggal kita injeksikan dana untuk mendorong dan menguatkan itu semua,” pungkas pria yang akrab disapa Abah itu.

Ia menyayangkan kondisi pasar yang masih semrawut. “Kedepan akan kita tata, tidak hanya membayar infrastruktur yang kemudian infrastruktur dan kebersihan tidak terlalu diperhatikan. Ini yang harus ditegakkan,” tegasnya.

Pasangan calon tersebut pun juga berkampanye politiknya di Kecamatan Kedung Kandangang. Kali ini menyasar Pasar Madyopuro termasuk kawasan pingiran Kota Malang di Dusun Baran Tempuran.

Sofyan Edy, dibandingkan dengan Kecamatan Klojen, Blimbing dan Lowokwaru, pembangunan fisik di wilayah timur Kota Malang relatif tertinggal. Masih banyak jalan berlubang, jumlah tiang penerangan jalan umum (PJU) sangat minim.

Hal itu kemudian, menurutnya harus menjadi prioritas pembangunan pasar. “Jika diamati, pembangunan fisik pasar di wilayah timur Kota Malang sungguh timpang. Harapannya kedepan kami akan membangun dari kawasan pinggir dimulai dari kampung,” ujar pria yang akrab disapa Bung Edy.

Sosok Sutiaji yang juga merupakan calon petahan Wakil Walikota Malang, dalam hal ini jika melihat beberapa fakta dan rentetan permasalahan pasar, figurnya masih belum berhasil secara maksimal melakukan pembangunan dan pengembangan pasar di Kota Malang selam lima tahun jabatannya.

Pembangunan Pasar di Kota Malang Belum Maksimal

Melihat berbagai gerak gerik para calon yang ingin mendapat simpatik perhatian dan juga dukungan dari para pedagang di pasar, membuat mereka (red: pasangan calon) gencar melakukan kampanye di pasar, karena dianggapanya bahwa pasar merupakan salah satu basis massa dan tempat berkumpulnya masayarakat.

Dengan dalih penyerapan aspirasi-aspirasi, sillaturahmi ke beberapa pedagang, dan menyapa masyarakat. bak mengobral sebuah harapan dan janji janji manis politik dalam berkampanye. Toh, pun di pilkada sebelumnya pun juga pernah dilakukan kampanye dipasar seperti saat ini. Namun, juga dapat dilihat dan diamati sendiri dengan seksama seberapa signifikan dampaknya ke masyarakat dan pedagang pasar, jika ditilik kampanye pasar tahun lalu.

Pembangunan pasar di Kota Malang yang belum maksimal menjadi sebuah anomali ketika beberapa dari mereka, terlebih calon petahana yang berkampanye ke pasar-pasar menarik simpati dengan kondisi pasar yang seadanya,

Hal ini akan menjadi pertanyaan dalam benak pedagang  ‘Selama lima tahun, hal apa yang berdampak kepada pasar dan para pedagang keseluruhan mereata?’

Baca: Pembangunan Pasar di Kota Malang Masih Bermasalah

Untuk diketahui, pembangunan beberapa pasar di Kota Malang, memiliki banyak cerita yang mulai dari Pasar Gadang, Pasar Blimbing, Pasar Kasin, Pasar Comboran, dan lainnya. Memang, dilain sisi ada beberapa pasar yang menjadi percontohan, yakni Pasar Oro-oro Dowo yang sudah tertata rapi.

Akankah ke tiga paslon akan dapat mewujudkan kesejahteraan pasar  dibanding pemerintahan sebelumnya, atau kah hanya memberikan janji? Jangan sampai dibohongi untuk kedua kali dalam satu periode pemerintahan.

Kesejahteraan masyarakat dan pelayanan publik menjadi hak bagi masyarakat untuk menagih beberapa infrastruktur dan sarana prasarana publik yang maksimal. Jika memang ada yang belum memadai dan layak, usulkan dan perjuangkanlah. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here