Langkanya Asam di Gunung Tak Selangka Garam di Laut Jatim

0
192

Nusantara.news, Surabaya – Harga garam di beberapa provinsi di Indonesia beberapa pekan terakhir naik. Kenaikan dan kalangkaan akan garam juga dirasakan oleh Provinsi Jawa Timur yang memiliki pulau garam “Madura” sebagai salah satu daerah penyumbang terbesar akan kebutuhan garam secara nasional. Apa penyebab naiknya harga dan kelangkaan garam?

Kenaikan harga dan kelangkaan akan garam hampir dirasakan seluruh kabupaten/kotamadya di Jawa Timur seperti di Madiun, Blitar, Probolinggo dan daerah lainnya di Jatim kini juga merasakan hal yang sama. Miris, dikelilingi laut Indonesia malah kekurangan stok garam, bahkan, di Jawa Timur stok akan garam dinilai tidak bisa mencukupi kebutuhan, buktinya, harga garam naik hingga 20%.

Penelusuran Nusantara.news, data dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Desperindag) Jawa Timur untuk harga garam per Juli 2017 mencapai Rp5.792 per kilogram. Harga ini naik dan lebih tinggi ketimbang Juli 2016 yang mencapai Rp3.883 per kilogram atau Juli 2015 sebesar Rp3.308 per kilogramnya.

Apa faktor utama penyebab kelangkaan stok garam di Jawa Timur? Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf alias atau akrab disapa Gus Ipul menyatakan bahwa harga garam di Jatim membuat semua mata terbelalak, seiring dengan naiknya harga garam dua kali lipat dari harga normalnya. Menurutnya, kelangkaan stok garam di Jatim ini akibat dari perubahan musim yang tidak karuan.

Panjangnya musim penghujan sejak 2016, berdampak kepada turunnya produksi garam di Jawa Timur sebear 123.873ton. Jauh di bawah target 2016 sebesar 1,2 juta ton. Kelangkaan garam ini membuat semua kalangan miris mendengarnya, mengingat Jawa Timur dikenal sebagai sentra garam karena berhasil menyumbang 40% produksi nasional.

“Pemprov Jatim mendesak Kementerian Perdagangan serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk segera merespon kelangkaan yang memicu mahalnya garam di Jawa Timur. Kalau di Jawa Timur saja garam sulit ditemui, bagaimana dengan daerah lain. Saya kira ini masalah serius,” jelas Gus Ipul kepada wartawan di Surabaya.

Jawa Timur Kekurangan Pasokan Garam
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Subianto menyatakan bahwa sejumlah daerah di Jatim saat ini mengalami kekurangan pasokan garam, akibatnya, garam tidak hanya langka di pasaran tapi juga dialami di kalangan industri, fatanya, sejumlah industri tidak bisa beroperasi. Menurutnya, harga garam saat ini melambung jauh dari harga eceran tertinggi (HET), dari harga Rp750 per kilogram melonjak hingga menembus Rp3.500 per kilonya.

Ironisnya lagi, tidak hanya harga yang melambung tinggi, di pasaran, garam sudah mulai langka untuk ditemukan. Politisi asal Partai Demokrat menyatakan bahwa langkanya garam diakibatkan dari produksi yang tidak maksimal, 2016 produksi garam Jawa Timur hanya mencapai 98 ribu ton. Padahal, di tahun sebelumnya produksi garam Jatim mencapai ratusan ribu ton bahkan jutaan ton.

“Alasan kegagalan produksi garam adalah cuaca, harusnya Pemerintah yakni dinas terkait yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan Jatim bisa melakukan berbagai upaya inovasi dalam memproduksi garam,” tegasnya.

Tak hanya itu, Subianto juga menuturkan bahwa Jawa Timur adalah provinsi penyumbang produksi garam terbesar unntuk kebutuhan tingkat nasional, dan pulau Madura mampu memenuhi 60% kebutuhan akan garam secara nasional. Ini menunjukan bahwa potensi garam di Jatim cukup tinggi, tinggal bagaimana memaksimalkan kuantitas serta kualitas garam di Jatim.

Subianto berharap agar peran pemerintah pusat lebih improvisiasi lagi terutama dalam hal alokasi anggaran untuk peningkatan produktivitas garam di Jatim, agar sebagian anggaran impor garam dialihkan untuk peningkatan kualitas maupun kuantitas garam petani di Jawa Timur.

Sementara itu, kepala dinas kelautan dan perikanan jatim, Heru Tjahjono saat dikonfirmasi terkait produksi garam di Jatim hanya memberi data Produksi garam rakyat sampai dengan juni ada pada angka 559,83 ton (KP1 sebesar 370,50 ton, KP2 sebesar 189,33 ton).

Madura yang merupakan darah produksi garam terbesar juga terkena imbas akibat kelangkaan garam di Jawa Timur. Salah satu aksesor PT Garam di Sumenep Ali Mahdi menyatakan bahwa harga garam sudah mencapai Rp3.000 – Rp4.000 per kilogramnya dari harga semula yang mencapai hanya Rp500 per kilogramnya.

Menurutnya, kenaikan harga dan langkanya garam di Jawa Timur akibat minimnya produksi garam selama dua musim terakhir akibat musim kemarau basah yang membuat stok garam tipis. Demi untuk mencukupi kebutuhan, PT Garam mengambil impor dan memaksimalkan hasil lahan produksi mereka, sebab minimnya produksi untuk kebutuhanmasyarakat membuat PT Garam tidak kebagian jatah juga.

“Tahun ini PT Garam Sumenep target 450.000 ton meski jumlah tersebut tidak bisa mencukupi kebutuhan garam dalam setahun. Selain itu kemarau basah membuat wilayah Madura mengakibatkan penurunan kualitas garam, maklum karena belum masak sempurna sudah diangkat dari lahan,” jelasnya.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here