Lapangan Yani Golf, Warisan dari Abad ke 18 di Surabaya

0
566

Nusantara.news, Surabaya – Surabaya kini mempunyai jenis wisata heritage baru dan lain daripada yang lain, yakni lapangan A Yani Golf di bukit Gunungsari.  Lokasi ini tepatnya berada  jalan Gunungsari, Surabaya. Kehadirannya sekaligus melengkapi deretan wisata warisan budaya Kota Pahlawan, seperti kampung, pasar dan gedung bertingkat.

Ahmad Yani Golf merupakan salah satu lapangan golf tertua di Surabaya dan dibuka pada tahun 1898 masa kolonial Belanda oleh NV. Shell Indonesia Wonokromo. Dulunya, lapangan golf ini bernama Lapangan Golf Bukit Gunungsari, namun pada tahun 1965 lapangan golf ini berganti nama menjadi Lapangan Golf Ahmad Yani, untuk mengenang Jendral Ahmad Yani yang sering bermain golf di lapangan ini.

Ketua Umum Perkumpulan Golf Ahmad Yani (PGAY) Abdul Hamid kepada Nusantara.News menuturkan bahwa dalam catatan sejarah, Yani Golf adalah salah satu yang tertua di Indonesia. Bermain golf di area seluas 60 ha dengan 18 hole ini, memiliki fairway dengan dominasi rintangan pohon-pohon yang berusia lebih dari 100 tahun.

Di lapangan golf ini terdapat pula peninggalan bersejarah berupa makam tua Belanda era jaman penjajahan. Jika kita bermain di lapangan Yani Golf, mungkin yang kita jumpai orang-orang yang bermain golf bersama dengan para caddie nya. Tapi jika dicermati  di beberapa fairway akan dijumpai makam belanda yang umurnya sudah puluhan tahun, bernama Fredrik Jacob Rothen Buhler (1758-1836), persisnya di Hole 18.

Fredrik Jacob Rothen Buhler sendiri adalah seorang pebisnis asal Belanda yang menjabat sebagai penanggung jawab wilayah ujung Timur yang berkedudukan di Surabaya. Gezaghebber Van Het Oost Hoek 1799-1809) juga dimakamkan di situ. Ia, sebelumnya menjabat sebagai Residen Pekalongan dan tinggal di daerah Simpang yang disebut Tuinhuis atau sekarang dikenal sebagai Gedung Grahadi yang dibangun oleh Dirk Van Hogendorp (pendahulu Gezahebber) pada 1795.

Pada masa penjajahan Jepang antara tahun 1942-1945, lapangan Yani Golf ini hampir rusak karena sebagian ditanami pohon jarak atas perintah Jepang. Beruntung, ada beberapa karyawan yang masih setia memelihara rumput golf sehingga masih bisa dipergunakan hingga akhir perang .

Bahkan kerusakan lebih parah saat masa perang kemerdekaan 1945-1950, karena pertempuran sengit yang terjadi pada 10 November 1945. Saat itu pasukan tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) terlibat baku tembak dengan tentara Inggris di bukit Gunungsari yang kini menjadi lapangan Yani Golf.

Dalam peristiwa itu, tentara Inggris mengerahkan satuan tank dan peralatan tempurnya. Dalam pertempuran tersebut empat tentara TRIP gugur  di bukit Gunungsar. Kisah itu  antara lain diperkuat setelah pada 9 November 1995 ditemukan kerangka jenazah mereka, lengkap dengan atribut dan peralatan perangnya. “Tentara tersebut dikenali sebagai Soewarno, Soewondo, Soetojo, dan Syamsudin,” Jelas Hamid.

Untuk mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan itu, akhirnya kerangka tersebut dimakamkan ke Taman Makam Pahlawan di jalan Mayjen Sungkono. Sementara barang-barang yang ditemukan disimpan di Museum Brawijaya, Malang. Kini, di sebelah tempat ditemukannya kerangka itu dibangun sebuah monumen. “Bangunan monumen itu untuk menandai dan memperingati para pejuang kemerdekaan yang gugur di sini,” jelasnya.

Hamid juga menuturkan, sebelumnya di Yani Golf ini juga terdapat makam ayahanda Pangeran Pekik, Adipati Surabaya bernama Jayalengkara yang hidup pada masa abad ke 17. Seperti yang dikutip dalam buku “Sejarah Dalem” karangan Ki Padmasusastra. “Namun di mana letak persisnya makam tersebut sudah tak ada tandanya kini,” ulasnya.

Di samping itu, di sebelah barat Gunungsari, yang dulu bernama Dermo, pernah dibangun lapangan terbang komersial (Knilm), sebelum dipindah ke Morokrembangan. Area itu tepatnya kini ditempati kompleks marinir. Sedangkan di Morokrembangan kini ditempati Terminal Petikemas Surabaya (TPS). Baru pada 1980-an lapangan terbang pindah ke Juanda. [] (bersambung)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here