Lapas Sukamiskin: Penjara Proklamator, Nirwana Koruptor

0
106

Nusantara.news, Jakarta – Kisruh dan rusuh di penjara seakan tak pernah usai. Kemarin lalu perkara rusuh napi teroris di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, sekarang perilaku cemar pegawai penjara dengan napi rasuah di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung.

Boro-boro berupaya menjadi manusia susila di dalam penjara, para napi malah melanggar pidana lagi dengan menyogok pegawai supaya tetap hidup nyaman di lapas. Padahal, asal-usul kata “penjara” berasal dari bahasa Jawa, penjoro, yang berarti “tobat”. Pegawai pun enteng saja menerima sogokan. Perilaku dua kelompok ini jauh dari tujuan awal pengelolaan penjara nasional setelah kemerdekaan.

Penjara berasal dari sistem hukuman Eropa abad ke-17 untuk menggantikan hukuman badan dan mati. “Pidana penjara adalah pidana pencabutan kemerdekaan,” ungkap R.A. Koesnoen dalam Politik Pendjara Nasional. Penjara masuk ke Hindia Belanda pada abad ke-19. Sistem hukuman ini tegak di atas landasan formal pasal 10 Wetboek van Stafrecht voor de Inlanders in Nederlansch Indie atau Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terbitan 1872.

Perubahan orientasi penjara nasional terjadi lagi pada 1962. Istilah lembaga pemasyarakatan mulai bergaung dari pidato Menteri Kehakiman Sahardjo di Blitar. Sahardjo menegaskan kembali gagasannya di hadapan Senat Guru Besar Universitas Indonesia pada 1963.

Sahardjo mengemukakan tentang apa itu lembaga pemasyarakatan melalui dua kalimat pidatonya. Pertama, “Negara tidak berhak membuat seseorang lebih buruk atau lebih jahat daripada sebelum dia dipenjarakan.” Kedua, “Tidak boleh selalu ditunjukkan pada narapidana bahwa dia itu penjahat.” Dua kalimat tadi membawa penjara kepada orientasi perlakuan yang kian humanis terhadap para narapidana. Meski gagasan ini memicu perdebatan luas di kalangan pemerintahan dan ahli hukum, konsep ini resmi sebagai orientasi baru politik penjara nasional.

Tapi gagasan ini tak selalu jalan. Ada saja pegawai penjara dan narapidana yang keluar dari gagasan pemasyarakatan. “Masyarakat penjara adalah miniatur masyarakat luar,” tulis Koesnoen. Di luar penjara ada perilaku korup, begitu pula di dalam penjara. Suap-menyuap atau tahu-sama-tahu antara pegawai penjara dan narapidana. Kongkalikong sindikat bohong kadung lumrah di penjara.

Penjara Sukamiskin: Antara Proklamator dan Koruptor

Penjara Sukamiskin yang kini disebut sebagai penjara khusus koruptor ini, sudah sejak era kolonial ditabalkan sebagai penjara para pelaku kriminal kerah putih dan para koruptor. Juga bui bagi mereka yang divonis mengancam kekuasaan Hindia Belanda seperti Soekarno. Istilahnya,” Straft Gevangenis Voor Intelectuelen.”

Bagaimana rasanya dibui di Sukamiskin di zaman kolonial dulu? Bung Karno menceritakan pengalamannya menghuni penjara ini dalam buku kumpulan tulisan, Di Bawah Bendera Revolusi. Dia berkisah lewat tulisan bertajuk “Keadaan Dipenjara Sukamiskin, Bandung” yang dia tulis di Sukamiskin, 17 Mei 1931.

Si Bung menuturkan, begitu dijebloskan ke Sukamiskin, ia diwajibkan mengganti pakaian dengan seragam penjara warna biru. “Rambutku dipotong hampir gundul, dimilimeter dalam bahasa Belandanya. Hampir segala apa yang saya bawa dari rumah tahanan (Penjara Banceuy, Kota Bandung)–semuanya diambil (petugas),”tulis dia.

Selama di Sukamiskin, Soekarno menghuni kamar di ujung sebelah barat lantai 2 blok Timur yang disebutnya “bilik ketjil 1,5 x 2,5 M”. Setiap siang dia wajib bekerja di percetakan penjara–kini posisinya di bangunan paling selatan kompleks penjara.

“Saya mesti berbaris ke tempat membuat kitab tulisan. Disanalah saya meladeni satu dari mesin garis dan mesin potong yang besar-besar. Tiap hari saya kerjakan berpuluh-puluh rim kertas, memedat barang, memuat dan membongkarnya,” kata si Bung. Lantas jika pekerjaan selesai, malam hari dia baru bisa istirahat, mandi, dan kembali ke kamar.

“Mandi yang lamanya ditentukan 6 menit. Makan, makan nasi merah dengan sambal yang sederhana,”kata Soekarno. Setelah itu, barulah dia bisa kembali ke kamar, melepas lelah. “Pukul sembilan (malam) cahaya (kamar) mesti digelapkan dengan tidak dapat disangkal lagi. Hari ini sudah bekerja dan besoknya bekerja keras lagi, saya mesti lekas tidur.”

Bung Karno pun merasa penjara Sukamiskin lebih parah ketimbang penjara Banceuy, tempat ia ditahan saat masih menjalani persidangan di pengadilan. Di penjara Banceuy, ia masih bisa mempelajari sejarah lewat buku dan suratkabar meskipun dengan syarat yang berat. Di Sukamiskin, Soekarno benar-benar dikurung. Sang istri, Inggit Garnasih, hanya boleh membesuk dua kali dalam sebulan. Itu pun dengan waktu besuk dibatasi hanya 10 menit.

“Segalanya di sini (Sukamiskin) dikerjakan dengan suruhan komando: makan, pulang-balik ke tempat kerja, makan, mandi, menghisap udara, keluar-masuk bilik kecil, semuanya dikerjakan seperti serdadu berbaris. Orang hukuman tak lain dari seekor ternak,” tulis si Bung.

Kisah Soekarno tentang Lapas Sukamiskin adalah cerita pilu, tetapi juga tentang semangat patriot yang berjuang demi bangsa dan negara. Soekarno bersama Gatot Mangkoepradja, Maskoen Soemadiredja, Soepriadianata (tokoh-tokoh PNI) diadili di Landraad Bandung pada Agustus 1930 dengan tuduhan revolusi kekerasan menggulingkan penguasa Belanda.

Atas: Kamar sel Soekarno saat dipenjara di Sukamiskin. Bawah: Kamar mewah salah satu napi koruptor di Sukamiskin

Hari ini, Sukamiskin juga tetap dengan cerita pilu, tetapi tentang watak-watak busuk, yang mementingkan diri sendiri. Sebuah kisah tentang perilaku bobrok yang akan menjerumuskan negeri ini ke jurang terdalam kenistaan. Sabtu, 21 Juli 2018 lalu, adalah hari memalukan ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membongkar “permainan-permainan” di Sukamiskin. Dalam operasi tangkap tangan itu KPK menciduk Kepala Lapas Sukamiskin Wahid Husein dan tiga napi lainnya, termasuk napi korupsi. Wahid ditangkap karena diduga menerima suap untuk pemberian fasilitas mewah kepada napi kasus korupsi di Lapas Sukamiskin.

Sejak Sukamiskin ditetapkan sebagai tempat tahanan napi korupsi pada 2012, tugas pembinaan agar napi korupsi kembali ke jalan lurus menjadi tanda tanya besar. Sebaliknya, justru memperpanjang praktik korup di Sukamiskin. Jual beli fasilitas, praktik suap, dan perbuatan lancung makin menjadi-jadi. Desas-desus seperti itu sebenarnya sudah lama terdengar, namun aparatur hukum seakan tak berkutik sebelum akhirnya KPK yang berani mengambil tindakan. Bagaimana negeri ini bersih dari korupsi jika sapunya saja berlumur kotoran?

Sukamiskin bukan lagi soal larangan membawa makan, atau membatasi jam besuk. Sekarang malah prabot apa saja bisa masuk: AC, kulkas, pemasak nasi, televisi, dan barang lain. Semuanya menu “konsumsi raga”. Kalau dulu, orang seperti Soekarno membawa satu jenis: buku bertumpuk-tumpuk. Bung Hatta pun demikian saat dibuang di Boven Digoel dan Banda, dia mengangkut berkotak-kotak buku. Mereka membawa menu “pikiran dan jiwa”. Itulah bedanya manusia Indonesia sekarang yang hipokrit dengan manusia zaman dulu.

Kini Sukamiskin serupa “potongan nirwana” bagi koruptor: keluarga dan tamu-tamu diterima di saung-saung yang dibangun oleh para koruptor, merenovasi kamar penjara penjara seelok mungkin dengan “tanda jadi” ratusan juta kepada petinggi lapas, bahkan napi pidana umum sebagai orang suruhan. Mereka yang berduit tetap berkuasa. Napi koruptor ini juga bebas keluar masuk: pulang ke rumah, izin ke rumah sakit, pelesiran, hingga bisa pulang kampong ke luar kota untuk urusan keluarga. Sungguh keterlaluan!

Karena itu, berbagai kalangan meminta agar Lapas Sukamiskin direformasi total, termasuk lapas-lapas di seluruh Indonesia mengingat praktik tercela tersebut tak hanya di Sukamiskin. Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham, Sri Puguh Budi Utami sebelumnya mengatakan, pihaknya berjanji melakukan berbagai pembenahan. Bukan hanya di Lapas Sukamiskin, hal serupa akan dilakukan untuk lapas di seluruh Indonesia. Kita lihat saja nanti, apakah akan terulang lagi seperti yang sudah-sudah atau tidak.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here