Le Pen dan Masa Depan Populisme di Eropa

0
136
Foto: CTV News

Nusantara.news Melajunya Marine Le Pen, politisi sayap kanan dari Partai Front Nasional Prancis, ke putaran kedua pemilihan presiden Prancis dianggap sebagai penanda masih adanya harapan bagi populisme di benua Eropa. Le Pen memperoleh 21,3% suara, berada di belakang politisi Tengah Emmanuel Macron (24,1%) yang maju lewat jalur independen pada pemilu Prancis putaran pertama, Minggu (23/4).

Le Pen dianggap sebagai harapan, karena sebelumnya politisi-politisi sayap kanan Eropa yang mengusung tema populisme kandas dalam pemilu.

Dalam pemilihan Eropa, terutama sejak kemenangan Donald Trump sebagai simbol kemenangan populis di Amerika, sebenarnya tren bagi para kandidat nasionalis kanan, yang mengusung tema populis tampil mengecewakan. Di Belanda, Geert Wilders dari Partai Kebebasan yang sangat anti Islam, kendati partainya mampu menambah perolehan kursi dalam pemilu legislatif, tapi gagal merebut kursi Perdana Menteri.

Sementara itu, di Austria, Norbert Hofer dari Partai Kebebasan Austria juga gagal dalam pemilihan presiden di negara itu Desember lalu. Kemenangan Donald Trump di AS menyusul kemenangan referendum rakyat Inggris (Brexit) sebagai simbol bangkitnya populisme, meski sempat mengerek perolehan suara partai-partai sayap kanan di Eropa, tapi belum bisa menempatkan tokoh-tokohnya sebagai pemimpin di negara-negara Eropa. Trump sempat populer di Eropa pada awal kemenangannya, tapi belakangan popularitasnya meredup setelah sejumlah kebijakannya banyak diprotes warga AS dan dunia.

Pemilu Belanda bulan lalu dianggap sebagai bellwether (pemimpinin biri-biri) bagi pemilu Eropa, artinya jika Geert Wilders, tokoh sayap kanan menang bakal diikuti kemenangan tokoh-tokoh sayap kanan lainnya di Eropa. Tapi kenyataannya Wilders kalah.

Namun kaum populis berkilah bahwa kekalahan Wilders tidak bisa dijadikan patokan karena sistem Pemilu Belanda memiliki karakteristik tersendiri, dengan sistem pemilihan legislati dan Perdana Menteri dipilih tergantung koalisi partai yang punya kursi di parlemen. Jadi, menurut mereka pemilu Prancis-lah bellwether-nya karena menggunakan sistem pemilihan presiden langsung. Oleh karena itu, Le Pen menjadi pertaruhan masa depan populisme di Eropa.

Mampukah Le Pen merebut suara pada putaran kedua atau putaran final pada tanggal 7 Mei nanti?

Masih belum dapat dipastikan bagaimana hasil pemilu Prancis nanti, meskipun sejumlah jajak pendapat mengatakan bahwa tokoh sayap kanan itu bakal terjungkal di babak akhir, dan biasanya jajak-jajak pendapat di Eropa cukup akurat. Masuknya Le Pen ke putaran kedua juga sudah diprediksi sebelumnya oleh sejumlah jajak pendapat.

Meski Le Pen kalah tipis dari rivalnya Emmanuel Macron, tapi tampaknya hasil pemungutan suara di putaran kedua nanti akan berkata lain.

Secara teoritis, dukungan terhadap Macron bisa membuat kemenangan Le Pen dalam pemilu hampir mustahil. Macron, pria berusia 39 tahun itu, mungkin akan dengan mudah mengalahkan politisi sayap kanan itu, menjadi pria termuda yang pernah memimpin Prancis.

Sejumlah survei juga mengatakan demikian. Sebelum putaran pertama berakhir, jajak pendapat menunjukkan Macron akan mendominasi putaran kedua dengan perolehan suara nyaris 60 persen.

Penolakan rakyat Prancis terhadap dua partai arus utama dan memuncaknya dukungan bagi Macron yang tidak diusung partai tradisional merupakan keuntungan tersendiri bagi Le Pen yang mengusung tema populisme yang anti establishment.

Partai Republik tersingkir setelah kandidatnya, Francois Fillon, terjerat skandal gaji palsu anak dan istrinya. Sementara, di sayap kiri, partai sosialis yang saat ini berkuasa pun tidak mampu meraih hasil memuaskan lewat kandidatnya Benoit Hamon. Hasil ini menunjukkan warga Prancis menginginkan perubahan di tengah problem pengangguran, ekonomi, dan keamanan. Situasi yang cukup menguntungkan bagi Le Pen.

Tapi masalahnya, kandidat lain yang kalah di putaran pertama hampir semuanya menolak mengalihkan dukungannya ke Le Pen. Satu-satunya kandidat yang menyatakan tidak akan mendukung Macron adalah Jean-Luc Melencon, kandidat sayap kiri yang menempati posisi keempat di putaran pertama.

Selain itu, bercermin dari pencalonan Jean-Marie Le Pen, ayah Le Pen dan pendiri Partai Front Nasional, tahun 2002 lalu, kemungkinan warga Prancis akan bersatu untuk mencegah politikus ekstrem kanan itu menguasai Prancis.

Sang ayah, Jean-Marie Le Pen, beberapa waktu lalu mengkritik putrinya, bahwa dia “terlalu santai” dalam kampanye pemilu. Dia mengatakan pada sebuah radio Prancis bahwa dirinya menginginkan Le Pen lebih keras lagi dalam kampanye, seperti halnya Donald Trump yang sangat agresif terhadap elite yang bertanggung jawab atas dekadensi Prancis.

Jean-Marie Le Pen, telah berulang kali dihukum karena kejahatan berlatar anti-Semitisme dan rasisme, dia mendirikan partai Front Nasional, sayap kanan yang sekarang dipimpin oleh anaknya.

Sang ayah mendukung pencalonan Le Pen dalam pemilu putaran  kedua melawan kandidat dari Tengah Emmanuel Macron, meskipun dia dan putrinya memiliki perselisihan politik yang keras sepanjang perjalanan. Tahun 2015, Le Pen mengeluarkan sang ayah dari partai karena menolak menghentikan provokasi anti-Semit yang merongrong usaha Le Pen untuk menjadikan Front Nasional sebagai alternatif politik yang dapat diterima masyarakat Prancis.

Dominic Thomas, profesor kajian Prancis di UCLA sebagaimana dilansir CNN, Selasa (25/4) mengatakan banyak warga Prancis akan merasa “diperas secara moral” untuk memilih Macron dalam rangka mencegah Le Pen menempati kursi kekuasaan.

Presiden AS Donald Trump sebelum pemilu Prancis putaran pertama berlangsung, memprediksi kemenangan Le Pen, dikaitkan dengan peristiwa teror Paris tiga hari sebelumnya yang menewaskan seorang polisi. Trump menganggap penentangan Le Pen yang keras terhadap terorisme dan keberpihakannya terhadap kebijakan pembatasan imigrasi akan menarik simpati publik setelah kejadian teror itu. Tapi prediksi Trump tidak terbukti.

Tabel Jajak Pendapat dan Hasil Pemilu di Negara-negara Eropa

Sejumlah jajak pendapat di Prancis memprediksi, meski Le Pen masuk ke putaran kedua tapi tampaknya dia masih belum mampu mengungguli perolehan suara pesaingnya. Tren menunjukkan, jajak pendapat di Eropa terkait kemenangan partai sayap kanan selalu sesuai dengan hasil pemilu.

Le Pen tentu saja akan menjadi penentu, apakah populisme bisa “digdaya” di benua Eropa? Kini, dia bellwether-nya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here