Le Pen Lolos ke Putaran Final Pilpres Prancis

0
62

Nusantara.news, Paris – Kandidat calon presiden Prancis dari partai sayap kanan Front Nasional, Marine Le Pen berhasil lolos ke putaran kedua atau babak final pemilihan presiden Prancis 2017. Le Pen akan berhadapan dengan kandidat lain, Emmanuel Macron, politisi muda yang merupakan capres dari Partai Perubahan. Macron yang semula tidak diunggulkan, meraih suara tertinggi dalam Pilpres Prancis putaran pertama yang dilaksanakan 23 April 2017.

Sebagaimana dilaporkan CNN, pada pemilu yang digelar hari Minggu Emmanuel Macron meraup suara 23,9%, disusul Marine Le Pen dengan 21,4%. Artinya, menurut sistem pemilu Prancis, kedua kandidat ini akan bertarung di putaran akhir yang akan digelar 7 Mei mendatang memperebutkan kursi presiden Prancis.

Masuknya Le Pen ke putaran kedua Pilpres Prancis telah diduga sebelumnya, sejumlah jajak pendapat telah memprediksi Le Pen bakal lolos ke putaran kedua, namun masih harus berjuang keras untuk memenangi putaran final tersebut. Pasalnya, tiga kandidat lain yang tersingkir di putaran pertama kemungkinan akan memberikan suaranya ke Emmanuel Macron.

Le Pen, tokoh sayap kanan yang mengusung tema populisme, nasionalisme ekstrem, anti uni Eropa, anti imigran, dan anti Islam menjadi tokoh yang paling banyak mendapat resistensi di kalangan politisi Prancis dibanding kandidat lain.

Hasil pemilu menunjukkan, bahwa Le Pen telah sukses membawa partai sayap kanan warisan ayahnya yang selama bertahun-tahun dianggap partai rasis.

“Inilah saatnya untuk membebaskan orang-orang Prancis dari elite arogan. Saya adalah kandidat rakyat,” kata Le Pen.

Berbicara di Henin-Beaumont, sebuah lokasi bagi berkumpulnya kubu Front Nasional Prancis di utara Prancis, Le Pen mengumpulkan pendukungnya dengan pesan anti-imigrasi dan anti-Uni Eropa.

“Orang-orang Prancis harus memanfaatkan kesempatan ini, karena tantangan besar dari pemilihan ini adalah globalisasi tak terkendali yang menempatkan peradaban kita pada sebuah risiko,” kata Le Pen.

“Apakah kita terus hancur tanpa batas, tanpa kontrol, persaingan internasional yang tidak adil, imigrasi massal dan peredaran bebas teroris, atau Anda memilih Prancis dengan pembatasan,” tambahnya.

Majunya Le Pen ke putaran kedua Pilpres Prancis adalah fenomena tersendiri, tapi bukan tanpa preseden sebelumnya. Pada 2002, ayahnya, Jean-Marie Le Pen, pernah berhasil masuk ke putaran kedua berhadapan dengan Jacques Chirac, namun kemudian kalah.

Kemenangan Macron yang menakjubkan

Kandidat lain, Emmanuel Macron (39) mantan bankir yang minim pengalaman politik sebelumnya memenangkan pertarungan di putaran pertama. Sejumlah analis menyebut kemenangan tokoh yang pro Uni Eropa ini sebagai kemenangan yang menakjubkan. Dia sekarang adalah calon presiden Prancis terfavorit.

“Kami telah melakukannya,” katanya kepada para pendukungnya penuh semangat.

Kemenangan Macron disambut baik oleh pasar. Euro menguat terhadap dolar ke tingkat tertinggi sejak bulan November, karena investor yang semula meyakini kemungkinan Le Pen menang semakin memudar. Saham juga juga mendapat kenaikan, pasar berjangka mengindikasikan kenaikan lebih dari 0,5% untuk indeks Dow Jones dan S & P utama.

Perubahan arus politik di Prancis

Kendati demikian, sejumlah kalangan menilai masuknya Le Pen ke babak final Pilpres Prancis menunjukkan perubahan arus politik Prancis.

Hasil ini seperti pemungutan suara Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa, dan terpilihnya Donald Trump pada Pilpres AS, dimana para pemilih telah menolak elite politik tradisional.

“Ini adalah gempa politik di negara ini (Prancis) dan di Eropa,” kata mantan wartawan Prancis, Christine Ockrent sebagaimana dilansir CNN, Senin (24/4).

Politisi konservatif dari partai arus utama Prancis François Fillon dan Jean-Luc Mélenchon justru terlempar dari persaingan yang ketat dan tidak lolos ke babak berikutnya.

“Macron adalah prestasi yang luar biasa, karena dia mewakili optimisme,” kata Ockrent.

Sebagian pendukungnya melambaikan bendera Prancis tiga warna dan nama-nama Uni Eropa. Macron mengatakan pada sebuah kampanye di Paris bahwa dia akan membawa harapan yang diinginkan pemilihnya untuk Prancis dan Eropa ke putaran kedua.

“Dua partai politik yang telah memerintah Prancis selama bertahun-tahun telah terlempar,” Macron.

Pemilu Prancis putaran pertama berlangsung di bawah keamanan yang ketat setelah terjadi serangan teror di Paris pada Kamis malam yang mengganggu hari terakhir kampanye pada Jumat.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Prancis, pada pukul 5 sore hari Minggu waktu setempat, sekitar 69.42% dari 47 juta pemilih terdaftar di Prancis telah memberikan suara mereka, jumlah ini sedikit lebih rendah ketimbang Pilpres tahun 2012.

Dengan 11 nama kandidat dalam surat suara, tidak ada calon tunggal yang bisa memenangkan suara secara  mayoritas, oleh karena itu, dua kandidat teratas akan menghadapi pemungutan suara putaran kedua pada 7 Mei nanti.

Presiden incumbent dari Partai Sosialis François Hollande, yang dukungan terhadapnya terus menurun  selama beberapa tahun terakhir, membuat keputusan yang tidak biasa untuk tidak mencalonkan kembali pada masa jabatan presiden kedua.

Suara kandidat yang kalah untuk Macron

Seiring hasil Pemilu yang sudah jelas memenangkan dua kandidat, Emmanuel Macron dan Marine Le Pen, beberapa kandidat yang kalah tampaknya lebih mengarahkan dukungan mereka kepada Macron, atau mengatakan untuk menentang Le Pen.

Calon dari Partai Sosialis, Benoît Hamon yang hanya memperoleh 6,4% suara berbicara di markas kampanyenya, mengatakan bahwa dia bertanggung jawab penuh atas hasil buruk tersebut, dan mengarahkan pendukungnya untuk memilih Macron untuk mengalahkan Le Pen di babak kedua, “Bahkan jika dia bukan sayap kiri sekali pun,” katanya.

Fillon, kandidat utama Partai Republik, yang merupakan favorit di awal pemilu, namun kampanyenya tersandung karena skandal korupsi yang dikenal sebagai “Penelope Gate” karena memberi honor dari uang negara untuk istri dan kedua anak perempuannya untuk pekerjaan yang tidak mereka lakukan. Meski Fillon telah membantah skandal itu, dia hanya memperoleh suara 20% di bawah Marine Le Pen, dan membuatnya tersingkir di Pilpres babak awal.

Fillon mengatakan kepada pendukungnya, “Kita harus memilih yang lebih baik untuk negara kita, dan saya tidak akan bersukacita, terutama ketika sebuah partai ekstremis hampir berkuasa,” katanya bermaksud menolak kemenangan Marine Le Pen.

“Partai yang diciptakan Jean-Marie Le Pen memiliki sejarah yang dikenal karena kekerasan dan intoleransi,” kata Fillon.

“Program ekonomi dan sosialnya akan membuat negara kita gagal, saya berjanji, ekstremisme hanya bisa membawa ketidak-bahagiaan dan perpecahan bagi Prancis,” tambahnya lagi.

Macron merupakan seorang anggota Partai Sosialis Prancis selama kurang lebih tiga tahun (2006-2009). Dia kemudian memutuskan menjadi seorang politikus independen pada tahun 2009.

Sejak itu, Macron aktif dalam dunia politik bahkan masuk dalam jajaran pemerintahan. Pada 2012 Macron bergabung menjadi staf ahli Presiden Francois Hollande sebelum akhirnya diangkat menjadi Menteri Urusan Ekonomi, Industri, dan Digital di bawah pemerintahan Perdana Menteri Manuel Valls.

Pada Agustus 2016, ia memutuskan  mengundurkan diri dan  fokus untuk menjadi calon presiden Prancis. Macron memilih Partai Perubahan sebagai kendaraan politiknya.

Selama kampanye, Macron berhasil menarik perhatian pemilih Prancis melihat sebagai kekacauan setelah pemilihan Donald Trump sebagai presiden AS dan Brexit di Inggris terjadi. Kebijakannya berlawanan dengan arus progresif yang muncul di AS dan Inggris.

Tidak seperti Le Pen, Macron menghindari pernyataan melawan muslim dan merupakan pembela sistem imigrasi terbuka.

Di sisi lain, Marine Le Pen adalah kandidat capres yang sejak awal sudah mendeklarasikan sebagai pengagum Donald Trump, meskipun dalam kampanye belakangan, Le Pen mulai tidak lagi menyebut-nyebut nama Trump. Le Pen adalah pendukung kebijakan anti-imigran dan anti-Islam. Dia juga mendukung Prancis untuk keluar dari blok Uni Eropa sebagaimana pendahulunya, Inggris (Brexit).

Jika Macron menang pada putaran kedua, dia akan menjadi pemimpin termuda dalam sejarah Prancis modern. Jika Le Pen yang menang ini juga yang pertama dalam sejarah politik Prancis, kemenangan Front Nasional sebagai partai sayap kanan Prancis. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here