Pemilu Prancis 2017

Le Pen yang Tak Lagi Menyebut Nama ‘Trump’

0
58

Nusantara.news, Paris – Calon Presiden Prancis dari Partai sayap kanan Fron Nasional (FN) Marine Le Pen adalah seorang pengagum Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kemenangan Trump secara mengejutkan sebagai Presiden AS, selalu menjadi referensi bagi Le Pen di setiap pidatonya. Le Pen menganggap Trump sebagai simbol populis melawan bentuk globalisasi.

Tapi, itu beberapa minggu yang lalu, saat kemenangan Trump dianggap sebagai kejutan bagi kalangan yang percaya bahwa populisme telah bangkit. Terlebih, kemenangannya menyusul teristiwa British Exit (Brexit) sebagai simbol pengingkaran terhadap globalisasi. Belakangan, beberapa pekan menjelang Pemilu Prancis, Le Pen tak lagi bersemangat menyebut nama Trump, tokoh yang sempat dianggapnya garda depan populisme itu.

Kenapa demikian? Apakah Le Pen menganggap popularitas Trump sudah tak lagi mentereng, meski baru beberapa pekan menjadi presiden namun banyak kontroversi yang ditimbulkan. Sehingga dengan begitu, membawa-bawa nama Trump dianggap tidak akan menaikkan dukungan suara Le Pen, yang memang dalam beberapa hari ini terus mengalami kemerosotan. Hanya Le Pen yang tahu jawabannya.

Pada dini hari 9 November 2016, Marine Le Pen adalah politikus asing pertama yang mengucapkan selamat kepada presiden AS yang baru terpilih, Donald Trump.

Dalam minggu-minggu berikutnya, pemimpin partai sayap kanan Front Nasional Prancis itu melakukan segala yang dia bisa untuk mengaitkan kampanye presidennya dengan kemenangan Donald Trump. Le Pen mengklaim bahwa dia akan menjadi bab berikutnya dalam “pemberontakan” kaum populis melawan bentuk globalisasi.

Pagi hari setelah pemilihan Presiden AS, Le Pen berpidato di markas partainya di luar Paris, menggembar-gemborkan Brexit dan Trump sebagai bagian dari fenomena tak terbendung di seluruh dunia. “Pilihan demokratis yang mengubur orde lama dan langkah untuk membangun masa depan dunia,” demikian dia memuji kemenangan Trump.

Tapi sekitar sebulan sebelum Pemilu Presiden Perancis putaran pertama yang akan digelar 23 April, sebagaimana dilaporkan The Washington Pos, nada dari pidato-pidato Le Pen tampaknya telah berubah, kini Le Pen menganggap Trump hanyalah seorang presiden, tidak lebih.

Le Pen, hampir pasti lolos ke putaran kedua Pilpres Prancis, menurut sejumlah jajak pendapat. Tampaknya Le Pen memilih menjaga jarak antara dirinya dengan citra Donald Trump. Kata “Trump” jarang sekali muncul dalam pidato dan kampanye, bahkan ketika dia berdebat dengan empat calon presiden Prancis lainnya, di televisi pada 20 Maret lalu.

Le Pen, sebagaimana dilaporkan The Washington Pos, tampak sekali telah menghindari untuk menyebutkan nama Trump dalam diskusi kebijakan, meskipun sebetulnya banyak kesempatan untuk melakukannya.

Bisa jadi, ini perubahan strategi Le Pen untuk memenangi Pemilu Prancis, menyusul kekalahan populis lain, Geert Wilders dalam pemilu Belanda bulan lalu, dan semakin tingginya resistensi publik terhadap pemerintahan Trump di AS.

Le Pen dan timnya bahkan cenderung menghindari klaim bahwa mereka akan memmenangi Pemilu karena gelombang populisme dari berbagai belahan dunia. Sekarang, mereka mengatakan akan menang karena rakyat Prancis, bukan karena pengaruh gelombang populisme.

“Saya mengandalkan Anda untuk melaksanakan ‘pertempuran’ saya untuk Prancis!” kata Le Pen Kamis pekan lalu saat berbicara tentang konsep pertanian adil pertanian di pedesaan Brittany.

“Saya akan terlibat di jalan patriotisme ekonomi Prancis, untuk usaha kecil kami, untuk pertanian kami,” katanya lagi pada Minggu (2/4) di Lille.

Pengamat mengatakan bahwa pergeseran tema kampanye Le Pen mencerminkan pelunakan yang terjadi baru-baru ini dari sikapnya yang selama ini keras terhadap Uni Eropa dan euro. Le Pen selama ini telah berkampanye yang sebagian besar mendorong Prancis keluar dari keduanya.

“Sulit bagi Le Pen menggunakan Trump, ketika dia tahu bahwa begitu banyak pemilih Prancis tidak setuju dengannya,” kata Dominique Moisi, ilmuwan politik dan pendiri Prancis Institute untuk Hubungan Internasional yang berbasis di Paris.

Menurut jajak pendapat, hampir 8 dari 10 pemilih Perancis berpandangan sangat negatif terhadap presiden AS yang telah berulang kali berkomentar negatif tentang Prancis, bahwa “Paris tidak lagi seperti Paris” dan “Prancis tidak lagi seperti Prancis”, yang dibangun dari serangan teroris dengan mengorbankan 230 nyawa sejak awal 2015.

Bagi orang Prancis, perilaku Trump dianggap terlampau tidak sopan. “Di Perancis, bahkan jika Anda seorang ekstrem kanan, seperti Marine Le Pen, Anda dianggap tidak memiliki kredibilitas jika tidak tahu bagaimana menyelaraskan subjek, kata kerja dan predikat,” kata François Heisbourg, ketua Pusat Kebijakan Keamanan Jenewa dan mantan anggota komisi presiden Prancis untuk keamanan nasional.

“Trump tidak akan bertahan 20 menit saja dalam sistem politik Perancis, bukan karena ide-idenya, tetapi karena cara dia mengekspresikan ide tersebut,” katanya.

Bahkan, sebetulnya ide-ide Trump populer di kalangan pemilih Prancis, karena mereka juga mendukung kembalinya kedaulatan nasional, larangan imigrasi dan pemulihan hubungan dengan Presiden Vladimir Putin, Rusia. Ini semua merupakan tema kampanye Le Pen, dan diharapkan menggalang setidaknya 40% suara, menurut jajak pendapat terbaru.

Atau bisa juga, Le Pen mulai jarang menyebut nama Trump karena ada hubungannya dengan pertemuan Le Pen dengan Presiden Rusia Vladimir Putin bulan lalu. Sebagaimana diketahui, hubungan Trump dan Putin agak merenggang setelah penyelidikan kasus hubungan ilegal antara tim kampanye Trump dengan Rusia, terkait campur tangan Rusia terhadap Pemilu AS. Mungkin Le Pen ingin memberitahu pendukungnya bahwa Rusia menjanjikan bagi Prancis.

Dalam pidatonya baru-baru ini di Lille, sehari setelah kembali dari Rusia, Le Pen menyebut Putin sebagai “negarawan sejati” terlibat dalam “perang melawan terorisme”, sama seperti Prancis. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here