Lecehkan Indonesia, Patung Jenderal Cina di Tuban Harus Diturunkan

0
891
Pembuatan patung dewa perang Cina bukan sekedar kebudayaan tetapi sudah bersifat politis.

Nusantara.news, Surabaya – Patung Jenderal Perang Cina, Kwan Sing Tee Koen setinggi 30,4 meter di Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur menuai banyak protes. Dinilai melecehkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan dianggap sebagai ancaman kedaulatan negara. Serta merendahkan keberadaan para pahlawan di Indonesia.

Terkait itu, sedikitnya ada seribu orang dari 50 lembaga, organisasi pemuda dan masyarakat akan bersama-sama menggelar aksi damai dengan tema ‘Boemi Poetra Menggugat’. Dengan mengusung tuntutan pembongkaran patung tersebut, yang juga ditengarai ada keterlibatan asing dalam merongrong kewibawaan NKRI. Aksi damai akan dilakukan di depan kantor DPRD Jawa Timur, Jalan Indrapura, Surabaya, Jawa Timur, Senin (7/8/2017).

Rilis yang dikirim ke Nusantara.news, disebutkan koordinator lapangan dipercayakan kepada Didik Muadi.

“Sedikitnya ada seribu orang dari 50 elemen yang menyatakan siap untuk mengikuti aksi damai di depan Gedung DPRD Jawa Timur di Jalan Indrapura, Surabaya,” kata Didik.

Dengan peserta aksi terdiri antara lain, FKPPI, PPM, PP, KOKAM, GNB (Gerakan Nusantara Bersatu, Bela Negara, Patriot Garuda, FUI Lamongan, PENGABDIAN RAKYAT SEJATI, Forum Relawan Anak Bangsa (FRAB), Lembaga Kedaulatan Rakyat Indonesia (LKRI), Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS), Laskar Garuda Nusantara, Komunitas Garuda Sakti, GM. KOSGORO, Pemuda Muslimin Indonesia, PAGASA (Pergerakan Gajah Mada Sakti) Jatim, Wira Karya Indonesia, Baladhika Karya, Garda Muda Merah Putih, Satria Jatim, Gema Kosgoro, KNPI, GM, Front Anti Komunis (FAK), Pemuda PUSURA, FRONT PANCASILA, Rumah Pancasila, Wahana Parade Nusantara, The Society of Maritime affairs and Fisheris Forum, PII SDA, Pemuda Bulan Bintang SDA, LASBANDRA (Laskar Pemberdayaan dan Peduli Rakyat), AKSIRA, SAKTI, Gema Al Ittihadiah, Indonesia Law Enforcement Forum, Perhimpunan BOEMI POETRA, FOPNAS, Perhimpunan Pergerakan Pribumi Indonesia (P3 I), Perhimpunan Muslimin Indonesia, Front Aliansi Umat Islam Bersaru Jateng – DIY, Laskar Barisan Muda Klaten, Gerakan Pemuda Islam, Divisi Peta Jatim, PEKAT Jatim, BHOEMINDO (Bhoemiputera Nusantara Indonesia), PKW (Paguyuban Kerukunan Warga), PWMI (Persatuan Wartawan Mingguan Indonesia), Kaum Fukoro & Masakin.

“Jika satu lembaga saja mengirimkan sedikitnya 20 orang, maka ada kisaran seribu orang pemuda Boemiputera Nusantara Indonesia bakal memenuhi halaman depan Gedung DPRD Jatim di seberang Masjid Kemayoran, seputar dan sekitar Tugu Pahlawan, Monumen Perjuangan Arek-arek Surabaya, November 1945 dulu. Tuntutannya, bongkar dan robohkan Patung Jenderal Perang Cina, Kwan Sing Tee Koen, di Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban karena menghina kedaulatan negara kita,” tegas Didik.

Aksi yang dilakukan sebagai wujud hak menyatakan pendapat, dan akan dihadiri di hadiri bukan saja gabungan pemuda dan masyarakat Surabaya, melainkan juga akumulasi dan gabungan serta aspirasi rakyat Jawa Timur.

Bahkan juga komunitas pemuda dari tlatah Kerajaan Sultan Hamengku Bhuwono X, dari Yogyakarta juga ikut datang. Tak menutup kemungkinan juga akan ikut berduyun-duyun pemuda dan masyarakat lainnya, bergabung di depan DPRD Provinsi Jawa Timur. Mereka elemen dari Sabang sampai Merauke, dari Rote hingga Talaut, yang ikut menyatakan Sumpah Pemoeda ke dua.

“Kami semua bahu membahu, bertekad untuk menyatakan hak berpendapat kepada para wakil kami di DPRD Jatim yang terhormat ini. Kami menuntut dan mendesak, agar segera dilakukan pembongkaran dan merobohkan patung Dewa Perang Cina, Kwan Sing Tee Koen, di Tuban,” tegas Didik.

Lebih rinci, Prihandoyo dari komunitas Rumah Pancasila yang ikut mengawal demo ini menguraikan, upaya mendesak untuk membongkar dan merobohkan patung kebanggaan negara asing, yakni Tiongkok (RRC) tersebut dilatarbelakangi oleh pertimbangan sebagai berikut :

1. Bukan bagian dari ritual pemujaan suatu agama yang diakui di Indonesia.

2. Bukan bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

3. Tidak mencerminkan kebudayaan bangsa Indonesia yang sesuai dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

4. Tidak mencerminkan rasa nasionalisme dan patriotik bangsa Indonesia.

5. Tidak mengindahkan rasa kearifan terhadap Budaya Lokal dan Boemiputera Nusantara.

6. Tidak mengandung nilai pendidikan sejarah bagi putra-putri generasi penerus bangsa Indonesia.

7. Karakter dan ukuran patung 30,4 m mengindikasikan kekuasaan, penindasan, dan penjajahan terhadap bangsa Indonesia.

8. Sebagai lambang keangkuhan bangsa asing (Cina) di Boemi Pertiwi Persada Indonesia.

9. Menandingi sekaligus sebagai bentuk penghinaan terhadap tokoh perjuangan pendiri bangsa Indonesia.

10. Sebagai bentuk pengkhianatan terhadap jati diri dan ciri khas Warga Negara Republik Indonesia.

“Oleh karena itu, demo yang diharapkan juga dihadiri oleh tokoh-tokoh Jawa Timur, termasuk bakal calon Gubernur ini adalah bentuk riil Bela Negara dan menjunjung tinggi Kebudayaan Asli BOEMIPUTERA NUSANTARA,” tegas Prihandoyo.

Selain itu, gelar aksi pemuda yang diharapkan menyedot perhatian nasional dan internasional itu juga dimaknai sebagai bentuk perlawanan Rakyat Indonesia terhadap dominasi dan penguasaan Cina di berbagai bidang kehidupan.

Prihandoyo, juga sangat menyayangkan di tengah keprihatinan bangsa Indonesia terhadap pelanggaran etika dan budaya, atas dibangunnya Patung Dewa Perang Cina, Kwan Sing Tee Koen, di Tuban, yang menelan biaya hingga 2,5 miliar dan diduga sebagai patung terbesar dan tertinggi se-Asia Tenggara itu tidak layak berdiri dengan sombong di negeri ini.
Mirisnya, lanjut dia, patung setinggi 30.4 meter itu ternyata peresmian dan pembukaan patung tersebut justru dilakukan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Zulkhifli Hasan.

“Ini mengundang keprihatinan kita, dan wajar jika ada protes dari berbagai pihak, dan dari segala penjuru Nusantara, ayo viral ke media sosial, kalau ini adalah sebuah pelanggaran,” tambahnya.

Tidak mustahil jika elemen di tanah air ini protes dan marah dengan keberadaan patung asing itu di Bhumi Ronggolawe itu, karena pahlawan negeri ini cukup banyak kenapa patung Cina itu yang berdiri.

Salah satu protes keras datang dari Presiden GEPRINDO Bastian P Simanjutak, saat dikonfirmasi lewat telepon, pada sabtu (29/7/2017), dengan lantang dia mengecam berdirinya patung tersebut.

“Saya mengecam keras didirikannya patung Jenderal Perang Cina, Kwan Sing Tee Koen yang tingginya 30,4 meter di Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur itu menyakiti bangsa kita,” tegasnya.

Kemudian Arukat, aktivis gaek Jawa Timur juga menyatakan kemarahan dan kekesalannya atas keberadaan patung Cina di Tuban itu.

“Ya, pendirian patung tersebut telah mencederai rasa Nasionalisme BoemiPutera. Dan lebih besar bermuatan politis daripada nilai-nilai keagamaannya, sama sekali tak ada hubungan langsung dengan ritual di dalam klenteng itu,“ kritik Arukat.

Kemudian Susi dari FKPPI, juga pedas menghardik, dia mengatakan Indonesia diperjuangkan oleh rakyat dan bangsa Indonesia, tidak etis jika ada simbol bangsa lain yang sok kuasa.

“Ingat, ini negara Indonesia, didirikan oleh bangsa Indonesia, dimiliki dan dikuasai oleh Bangsa Indonesia, oleh karena itu sungguh tidak etis, ada bangsa lain yang sok kuasa di Republik Indonesia ini dengan mendirikan patung jenderal perangnya di negara orang lain,” tegas Susi.

Kembali ke Bastian P. Simanjuntak, dia menegaskan kalau bangsa Indonesia tidak mengenal panglima perang itu.

“Bangsa Indonesia tidak mengenal panglima perang yang bernama Kwan Sing Tee Koen, sebab panglima perang Bangsa Indonesia adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman,” ucapnya dengan nada Geram.

Ditambahkan, dirinya mencurigai ada maksud lain di balik pendirian patung sebesar itu. Dan, pihaknya meminta Badan Intelijen Indonesia (BIN) turun tangan mengumpulkan informasi apa alasan sebenarnya dibalik pendirian patung sebesar itu, termasuk dugaan aliran dana dari Komunis Cina.

“BIN harus turun, menelusuri itu,” tegas dia.

Tidak berlebihan jika berdirinya patung Jenderal Cina di Tuban itu menuai reaksi. Karena Cina disinyalir memiliki kepentingan strategis terhadap Indonesia, ada rencana menghidupkan kembali jalur sutra juga pembangunan proyek-proyek infrastruktur. Di Indonesia, Cina melakukan pengakuisisian tambang energi dan mineral, perkebunan, pembelian hunian di pulau-pulau reklamasi, termasuk Meikarta, ada proyek kereta api cepat Bandung-Jakarta. Juga pencurian ikan, penyelundupan narkoba, kejahatan informasi teknologi dan banjirnya produk-produk Cina di pasar Indonesia.

Pemerintah harus segera bertindak dengan menerbitkan peraturan yang tidak memperbolehkan pembangunan simbol-simbol bangsa lain di Indonesia yang bisa memupuk rasa nasionalisme asing, sebaliknya melemahkan nasionalisme bangsa Indonesia.

Masih ingat pidato dan pesan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo? Di berbagai kesempatan dia berulang kali menyebut tentang perang asimetris, perang proxi. Namun, mengapa patung Jenderal Perang Cina itu tidak dianggap sebagai ancaman kedaulatan? Coba dipikir, bolehkah kita mendirikan patung Jenderal Sudirman setinggi 30 meter di Cina sana?

Sementara, aktivis Gerakkan Aliansi Laskar Anti Korupsi (GALAK), Muslim Arby, beberapa pernyataan kaum pendatang seperti, NKRI bukan Ayah Kandung tapi Ayah tiri, dan kesetiaan kepada Tanah Leluhur, yang pernah di contoh oleh Liem Sioe Liong, adalah fakta sebuah ketidakpatutan yang dilakukan Cina di Indonesia.

Terasa semakin rapuh rasa nasionalisme anak negeri ini, sebagai bangsa sejak amandemen UUD 1945 dan diamandemen nya kaum pribumi yang punya hak atas negara bangsa ini dan pupus pula kedaulatan sebagai bangsa.

Prihandoyo menambahkan, di negara mana pun di dunia, tidak ada orang mendirikan patung pahlawan bangsanya di negara orang lain. Bahkan, Amerika yang paling liberal pun tidak akan mengizinkan patung pahlawan bangsa lain berdiri di Amerika.

Bukan yang pertama, di TMII ada patung Po An Tui. Di Kenjeran Surabaya ada patung Dewi Kwan Im

Patung Kwan Sing Tee Koen yang di bangun di Tuban, bahkan jauh lebih besar dan lebih tinggi dari patung Pahlawan di negeri ini, termasuk Monumen Proklamator pendiri NKRI. Celakanya, patung itu diresmikan oleh Ketua MPR RI, Zukifli Hasan.

Patung Cina ini bukan yang pertama, sebelumnya telah dibangun lebih dulu di Taman Ismail Marzuki (TMII), patung Po An Tui dan di Kenjeran Surabaya, patung Dewi Kwan Im. Fenomena apa yang terjadi dengan bangsa ini, mana para ulama di Kota Wali Tuban? Mana TNI, mana Polri, mana penjaga persada negeri ini, mana yang biasa teriak NKRI harga mati, ternyata kita semua telah mati rasa.

Semua elemen bangsa Indonesia harus waspada, peristiwa pembangunan patung panglima perang Cina Kong Co Kwan Sing Tee Koen di Tuban benar-benar tak boleh dibiarkan. Bukan tidak mungkin ini adalah sinyalemen adanya persiapan menjajah Indonesia, baik secara halus (asimetris atau proxy war), atau terang-terangan melakukan invasi dan pendudukan.

Setidak-tidaknya itu adalah wujud penjajahan kultural. Bertentangan dengan ajaran TRI SAKTI Bung Karno, Berdaulat dalam Politik, Berdikari dalam Ekonomi dan Berkebudayaan budaya Nusantara Indonesia.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here