Lemotnya Pemerintah Mengangkat Dirut Pertamina

0
234
Foto : Istimewa

Nusantara.news, Jakarta –Lemot betul negara ini ya! Memilih satu orang bakal  dirut Pertamina saja bisa sampai berlarut-larut dua bulan ( 2×30 hari). Tugas 30 hari Plt Dirut Pertamina Yenny sudah selesai, eh  malah diperpanjang lagi 30 hari. Hingga saat ini, realitas yang berkembang di Pertamina, Presiden Jokowi belum bisa juga memastikan siapa yang bakal duduk di kursi nomor satu Pertamina itu. Persoalan ini pun membuat kesal para pekerja yang tergabung dalam Ferderasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB). Ada apa sih? Mungkin Pak Jokowi lagi repot ngurusin Raja Salman kali? Ah, itu’kan cuma alasan.

Lho, bisa jadi begitu, tamu yang datang kali ini sangat berbeda dengan tamu lainnya. Datang bawa uang karungan ratusan triliun mau berinvestasi tanpa banyak cingcong siapa pula yang matanya tidak melirik dan mendelik lihat duit seperti hujan jatuh dari langit. Lagian, syaratnya juga nggak bertele-tele kayak aseng. Investasi tanpa syarat harus SDM-nya dari Mekah atau Madinah atau dari daerah Arab lainnya. Beda dengan China. Mulai dari kuli bangunan, sampai tukang masak, tukang kebun (tanam cabai di kebun orang),  pun dia bawa. Kalau nggak malu-malu amat, mungkin juga China akan menyertakan tukang gorengan ke sini disuruh jualan dekat-dekat proyek yang dia kerjakan, bersaing, deh dengan tukang gorengan domestik.

Dengan belum diangkatnya Dirut Pertamina yang baru pengganti Dwi Sucipto, cukup mengesankan kepada kita, apakah pemerintah cq Kementerian BUMN memang tidak “becus” mengurus perusahaan strategis sekelas Pertamina, atau pengangkatan itu disertai dengan sarat kepentingan kelompok tertentu, sehingga perlu menyelesaikan tawar-menawarnya dahulu? Entah apa yang mengganjal di pikiran mereka sehingga memilih satu orang dirut BUMN pun bertele-tele dibuatnya. Jangan-jangan…..??

Padahal, beberapa nama calon dari dalam perusahaan Pertamina sendiri, seperti yang ditetapkan oleh komisarisnya, sudah terkumpul. Dua hari yang lalu beberapa nama calon baik dari kalangan internal Pertamina maupun dari eksternal disebut di beberapa media, seperti Elia Massa Manik Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III (Persero), Budi Gunadi Sadikin Staf Khusus Menteri BUMN,  Rachmad Hardadi Direktur Mega Proyek Kilang dan Petrokimia (internal), Sofyan Basir Dirut PLN, Syamsu Alam  Direktur Hulu (internal), lalu ada Budi Gunadi Sadikin mantan Direktur Mandiri Tbk.,kini jadi Staf Khusus Menteri BUMN, M.Iskandar Direktur Pemasaran (internal),  dan Dwi Wahyu Daryoto Direktur Sumber daya Manusia, teknologi dan informasi (internal).

Untuk memilih satu dirut saja cukup membuat repot pemerintah juga ya rupanya. Padahal, di dalam Pertamina sendiri banyak profesional yang mumpuni. Tetapi kita harus memahami juga, karena pemilihan dirut ini diwarnai lobi-lobi kalangan tertentu. Tidak menutup kemungkinan ada kelompok tertentu dari luar yang ikut cawe-cawe cari celah keuntungan dari pengangkatan itu nantinya. Urusannya bukan sekedar perut, tapi soal “keserakahan”.

Sebagaimana lazimya jika Pemerintah akan mengganti pejabatnya tentulah sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya siapa yang pantas bakal menduduki jabatan itu. Tetapi, dengan adanya pencopotan Dirut dan Wadirut Pertamina yang dadakanitu telah memberikan kesan kepada masyarakat bahwa sedang terjadi suatu masalah besar di Pertamina. Bermasalahkan Pertamina? Sejauh yang kita pahami berjalan baik-baik saja bahkan di bawah Dirut Dwi Sucipto, Pertamina mengalami kenaikan laba yang tinggi pada semester 1 -2016 dibandingkan sebelumnya pada semester 2015.

Siapa Dwi Sucipto dan siapa Ahmad Bambang dan kenapa mereka dicopot, adalah sebuah pertanyaan yang menarik untuk ditelusuri bersama. Pro dan kontra pandangan terhadap sosok Dwi Sucipto, misalnya, sudah lama menjadi bahan isu yang dari mulut ke mulut membuat rasa penasaran orang. Selama kurang lebih tiga tahun, publik menilai kepemimpinan Dwi Soetjipto di Pertamina, menghasilkan catatan kinerja yang cukup baik. Tercatat dalam prestasi kerjanya, mulai dari pembubaran Petral Energi Trading Limited (Petral), Peluncuran Pertalite, Revitalisasi Kilang, kebijakan BBM Satu Harga, hingga berhasil mengalahkan laba Petronas pada 2016.

Pertamina di bawah Dwi pada semester I – 2016 mengalami lonjakan yang cukup signifikan dengan raihan laba bersih sebesar US$1,83 Miliar, dari yang sebelumnya di semester 1 – 2015 sebesar US$ 570 juta dollar AS. Kenaikan 221% year on year (y-o-y) ini disokong oleh peningkatan kinerja operasi dan efisiensi dari berbagai inisiatif dan langkah terobosan yang dilakukan perusahaan. Dwi mengatakan, situasi industri migas global masih terus berfluktuasi sehingga menuntut perusahaan migas melakukan berbagai upaya untuk mengatasi lingkungan usaha yang semakin menantang. Di sisi lain, Pertamina sebagai NOC ikut memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi selalu dalam kondisi aman untuk ketahanan energi nasional.

Kinerja Dwi cukup baik untuk mengangkat Pertamina menjadi perusahaan yang bisa bermain di level internasional. Tapi, tiba-tiba komisaris kompak dengan Menteri BUMN Rini Soemarno ‘menyodorkan’ Ahmad Bambang menjadi wadirut. Teka-teki pun merebak karena hanya beberapa bulan s sejak pengangkatan Ahmad Bambang, Dirut Pertamina dicopot.

Rumor dan spekulasi  pun berkembang, ‘penanaman’ wadirut Ahmad Bambang di Pertamina adalah sebuah skrenario untuk mencopot Dirut Dwi Sucipto. Sebagai orang lama di Pertamina, Bambang sering dinilai tidak mengindahkan atasannya, Dwi Sucipto, bahkan sering melangkahi garis kebijakan yang telah dibuat Dwi. Benarkah begitu?

Lantas orang mulai bertanya-tanya, siapa sih, sebenarnya Ahmad Bambang ini? Kok malah lebih patuh kepada Rini ketimbang ke Dirut Dwi Sucipto yang merupakan atasannya langsung? Bisa dipahami ketika rumor yang berkembang di masayarakat yang mengatakan Ahmad Bambang adalah orangnya Ari Soemarno ketika masih menjadi Dirut Pertamina. Nah, Ari Soemarno ini kakaknya Rini Soemarno. Klop deh, itu rumor dipahami orang dengan munculnya pertanyaan; untuk tujuan apa Rini menjadikan Ahmad Bambang mendampingi Dwi Sucipto, yang akhirnya menuai rentetan kekisruhan hingga saat ini? Bahkan, rumor  semakin makin jauh berkembang, mengatakan, Dirut Pertamina Dwi Sucipto dicopot karena kurang disukai Jusuf Kalla.

Komisaris Utama Pertamina Tanri Abeng mengungkap perselisihan antar keduanya yang menyebabkan hubungan kerja di Pertamina menjadi tidak harmonis. Salah satunya, adalah persoalan impor solar yang dilakukan Pertamina pada bulan lalu. menurut Tanri, Ahmad Bambang memutuskan menandatangani impor solar karena stok merosot hingga di bawah 20 hari. Keputusan itu diambil karena Dwi tak kunjung meneken permohonan impor yang diminta Bambang (3/2/17).

Dalam kaitan itu, sudah dilakukan permohonan minta pengalokasian, tapi antara Dirut dan Wadirut tidak sejalan. Dwi tidak mau tandatangan, maka Bambang jalan sendiri menandatangani. hal itulah yang dianggap Dwi Sucipto, Bambang melangkahi kewenangannya dirut.

Impor solar memang diperlukan, kata Tanri, untuk memenuhi stok normal sampai 32 hari. selain itu, Bambang sebagai Wadirut, memiliki tugas pengalokasian, termasuk mengajukan impor. Menurut Tanri, persoalan itu tak perlu terjadi jika Dwi menandatangani permohonan impor solar. Mereka tidak bekerja sama. Masalah lain lagi juga adalah terkait pergantian 20 tenaga kerja strategis yang seharusnya sudah harus diputuskan mengingat salah satunya PT Pertagas  beberapa waktu lalu sempat terjadi kekosongan jabatan. Itu pun terlambat, masih banyak yang masih kosong.

Butuh 30 hari untuk memasang orang nomor satu di Pertamina pun telah menimbulkan kehebohan tersendiri. Awalnya Rini bilang, calon Dirut pertamina bisa dari kalangan orang luar, tetapi dibantah oleh para komisaris bahwa calon dirut harus dari orang dalam semuanya. Nama-nama calon cukup banyak dan disaring lagi untuk menghasilkan 3 nama calon. Dari ketiga nama calon inilah yang akan disampaikan Rini kepada Presiden Jokowi untuk diputuskan salah satunya menjadi Dirut Pertamina yang baru.

Pengangkatan Dirut Pertamina yang baru tidak menutup kemungkinan diselimuti berbagai kepentingan dari para pemain minyak. Saling titip kepentingan terhadap jago-jago yang dielusnya sudah merupakan hal yang baru. Begitu lamanya menetapkan calon dirut, bahkan tugas Plt dirut pun diperpanjang lagi 30 hari, membuat masyarakat bertanya-tanya, segitu sulitnyakah mencari seorang dirut Pertamina?

Bertele-telenya urusan yang satu ini tentu saja membuat pegawai tidak nyaman bekerja. Apalagi, Pertamina selama ini sedang semangat-semangatnya mendorong kinerjanya untuk menjadi perusahaan BUMN yang jempolan untuk menyaingin Petronas Malaysia. Mungkin kesal kinerjanya diacak-acak oleh kebijakan yang merugikan itu, akhirnya Ferderasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menyegel tiga ruang kerja Komisaris PT Pertamina (Persero) pada Rabu, 1 Maret 2017. Ketiga ruangan yang disegel itu adalah ruang milik Komisaris Utama Tanri Abeng serta Komisaris Archandra Tahar dan Edwin Hidayat Abdullah.

Novriadi, Presiden FSPPB mengaku sangat kesal dengan kelakuan dewan komisaris karena  belum juga memberikan penjelasan rinci mengenai pencopotan Dirut dan Wadirut Pertamina, Dwi dan Bambang. Serikat Pekerja Pertamina itu ingin penjelasan detail. “Federasi merasa dilecehkan karena tidak bertemu dengan komisaris,” ujarnya.

FSPPB menganggap komisaris-lah yang harus  bertanggung jawab atas kepemimpinan ganda di tubuh perusahaan BUMN itu karena mengusulkan perombakan organisasi kepada pemerintah. Penambahan posisi wadirut, kata Novriadi,  menjadi penyebab munculnya matahari kembar di Pertamina. Kedua matahari kemudian diberhentikan karena dinilai tidak bisa bekerja sama. Jadi, kalau Dirut dan Wadirut dicopot, komisarinya pun harus dicopot!

Mengenai nama-nama calon dirut pertamina, Wakil Menteri ESDM Archandra yang juga komisaris Pertamina mengatakan bahwa nama-nama calon sudah di meja Presiden Joko Widodo, tinggal dipilih saja salah satunya.

Siapapun nanti yang diusulkan dan terpilih menjadi Dirut Pertamina, tentu saja masyarakat mengharapkan, akan mampu membawa perusahaan pemerintah yang strategis itu ke tengah arus global yang sarat dengan kompetitif. Bakal sulitnya jika yang terpilih sesuai dengan harapan para mafia migas, Pertamina bisa dipastikan akan berjalan di tempat. Bukan hanya berjalan di tempat tetapi bakal mundur jauh ke belakang.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here