Lepas KKN UMM, Mensos Ajak Mahasiswa Wujudkan Kesejahteraan Rakyat

0
67
Mensos RI, Khofifah menghadiri pelepasan KKN Mahasiswa Unversitas Muhammadiyah Malang (Sumber: Berita Muhammadiyah)

Nusantara.news, Kota Malang – Kedatangan Rombongan Kementerian Sosial (Mensos) RI ke Kota Malang pada Rabu, (19/7/2017) kemarin menjadi perhatian publik. Kedatangannya dalam rangka ceremonial melepas keberangkatan 5.151 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam program Kerja Nyata (KKN) di Hall UMM Dome dan datang dalam agenda Forum Universitas Islam Malang (Unisma) Update 2018 di Gedung Ali bin Abdul Muntholib.

Tidak hanya seutas menghadiri beberapa agenda di atas saja, namun Khofifah bersama rombongan Kemensos RI memiliki misi tersendiri dalam mendatangi beberapa agenda tersebut. Salah satunya yakni memberikan motivasi dan juga pandangan  kepada mahasiswa.

“Pentingnya kontribusi mahasiswa sebagai generasi intelektual bangsa untuk turut aktif dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, dengan turun langsung ke beberapa daerah yang masuk dalam kategori 3T (Tertinggal, Terluar, Terdepan),” ungkapnya saat memberikan materi pada mahasiswa KKN di Hall UMM Dome, Rabu (19/7/2017).

Ia mengatakan, dalam hal ini Perguruan tinggi memiliki peran yang besar sebagai penggerak dan pengawal kemajuan bangsa termasuk dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

“Dengan putra-putri kampus perguruan tinggi yang akan ‘turun gunung’, merupakan salah satu bentuk aksi nyata dan peran mahasiswa sebagai pengontrol sosial masyarakat (social control). Semangat ini yang perlu ditekankan karena dengan aksi tersebut sama dengan mengikuti jejak KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah sebagai panji masyarakat,” ujar Khofifah menganalogikan.

 

“Di depan saya, saya berhadapan dengan ribuan calon-calon penggerak, calon penentu arah bangsa yang memiliki kemampuan untuk memetakan, menganalisis, dan menemukan alternatif solusi permasalahan bangsa. Kami berharap banyak pada generasi muda,” tegas Khofifah.

Saat ini, terdapat enam kabupaten di Jawa Timur yang terindikasi mengalami gizi buruk. Untuk itu, program Desa Sejahtera Mandiri (DSM) diupayakan menjadi media untuk mengurangi luasnya daerah yang terkena gizi buruk tersebut.

”Sebanyak 63 persen penyebab disabilitas adalah kurang gizi. Hal ini bukan hanya harus dicegah saat ibu hamil, melainkan gaya hidup saat remaja sudah harus diperhatikan,” ungkapnya.

Hal tersebut terbukti karena beberapa perguruan tinggi yang ikut serta dan berkomitmen dalam mengintegrasikan mahasiswanya pada Program Desa Sejahtera Mandiri (DSM) milik Kementerian Sosial dan Kementiran Desa & Pembangunan Daerah Tertinggal Transmigrasi.

Target 5000 Desa Sejahtera untuk Masyarakat

Target Kemensos RI untuk tahun 2019 adalah terdongkraknya kesejahteraan masyarakat, dengan targe 5000 desa di Indonesia dapat mandiri. Hal tersebut selaras dengan garis Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang telah dirumuskan beberapa tahun lalu.

“Dalam RPJMN disebutkan, tahun 2019 ada 5000 Desa Sejahtera, yang selanjutnya akan kami integrasikan dan koordinasi dengan Kemendes PDTT untuk mencapai target tersebut,” pungkas Mensos RI tersebut.

Sejauh ini pihak kementerian dalam mencapai target tersebut sudah menggandeng beberapa perguruan tinggi, mereka berharap banyak khususnya pada kaum intelektual muda. “Karena masalah kemasyarakatan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan tanggung jawab bersama. Dan kami berharap banyak pada geneasi penerus untuk memiliki semangat dan arti peduli sesama. Ini perlu ditanamkan!” tandasnya.

“Tahun ini implementasi Program Desa Sejahtera Mandiri (DSM) terbilang cukup bagus dan ada progres, ditambah mitra dengan beberapa perguruan tinggi yang menunjang indikator program ini akan cepat tercapai, konsen tahun ini  pada papan masyarakat yakni rehabilitasi rumah tidak layak huni yang ada di pelosok pedesaan,” imbuh Khofifah.

Total dana yang akan disalurkan dana bantuan sebesar Rp 450 juta untuk masing-masing desa dalam kategori 3T, yang kemudian selanjutnya akan di kelola desa dibantu dan dikawal oleh perguruan tinggi dan dinas sosial masing-masing daerah.

Selain menggandeng mahasiswa bersama-sama untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, Khofifah menekankan juga perlunya juga penanaman nasionalisme dan keagamaan apalagi di walayah pedesaan yang notabene kualitas pendidikan di daerah tersebut masih tergolong belum maksimal.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here