LEU Mart, Mengisi Kekosongan Bisnis Ritel Umat Islam

0
302
Presiden Jokowi mengunjungi toko LEU Mart disela-sela peresmian Lembaga Ekonomi Ummat Mart di Banten

Nusantara.news, Jakarta – Kehadiran toko ritel modern belakangan ini bak cendana dimusim dingin, tumbuh bagai tak terbendung. Padahal industri ritel secara global, regional dan nasional sedang terpuruk. Karena faktor ikatan komunitas yang kuatlah ia tetap tumbuh.

Sepertinya halnya kehadiran toko ritel modern 212Mart, Kita Mart, Shodaqo, NU Mart dan lainnya. Anehnya pertumbuhan ritel modern ini bagai tak terbendung, apakah ini pertanda kebangkitan ekonomi umat?

Baru-baru ini Presiden Jokowi meresmikan toko ritel konsinyasi modern pertama di Indonesia bernama LEU Mart yang dicetuskan oleh Lembaga Ekonomi Umat (LEU).

Peluncuran tersebut dilakukan langsung oleh Presiden Jokowi  berbarengan dengan peresmian rumah susun dan bank wakaf. Tak tanggung-tanggung, dalam acara tersebut hadir para menteri,  lembaga negara, CEO BUMN, dan para tokoh masyarakat dari kalangan ormas Islam. Seolah sebuah dukungan nyata, betul kah?

Saat menandatangani prasasti Ummart, Presiden Jokowi mengungkapkan, keberadaan LEU Mart bisa membantu pengembangan dan pembangunan ekonomi di pondok-pondok pesantren. ” Hal ini sangat baik sekali untuk masa depan pendidikan para santri di pondok pesantren,” kata Presiden.

Dalam keterangannya yang disampaikan Ketua Umum LEU Bambang Wijonarko yang juga dirut  PT LEU Ritel Indonesia, mengatakan kehadiran Ummart merupakan jawaban konkrit yang ditunggu-tunggu oleh umat dari tema arus baru ekonomi umat di Kongres Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia 2017.

Di kongres itu, umat ingin terlibat langsung dalam memberikan solusi tegas terkait persoalan kesenjangan sosial yang terjadi di tanah air.

“Maka dari situlah munculnya LEU untuk merumuskan strategi-strategi apa yang bisa diberikan umat dalam sumbangsihnya kepada negeri ini,” paparnya.

Dipilihnya ritel, lanjut Bambang, karena LEU mengajak umat untuk menjadi pedagang dan saudagar yang berkualitas sekaligus mengimplementasikan ekonomi syariah di sektor riil. LEU Mart adalah salah satu contoh buktinya, bahwa sektor riil syariah di Indonesia bisa dikembangkan selain sektor moneter yang ada selama ini.

Selain itu juga dengan adanya bisnis ritel ini, kata Bambang, akan mendorong produk-produk UKM milik umat bisa terdistribusikan secara benar dan termanajemen dengan baik dalam kemiteraan dengan Ummart. Dengan demikian Ummart bukan sekadar memasarkan  produk-produk UKM saja tapi lebih dari itu melakukan pendampingan dan pemberdayaan terhadap UKM.

“Dari perspektif inilah, kami ingin penyerapan tenaga kerja lebih progresif di sektor ritel dan akan meningkat pesat. Inilah misi sekaligus  solusi bagi kesenjangan sosial bagi bangsa ini,” kata Bambang yang juga ketua umum Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM).

Untuk mengembangkan LEU Mart secara masif, Bambang mengajak, kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk menjadi mitra dari LEU Mart. Apalagi konsep bisnis yang ditawarkan oleh LEU Mart sangat murah efisien dibandingkan dengan bisnis-bisnis lainya. Apalagi sistem konsinyasi didukung degan sistem IT yg terintegrasi yang  belum dimiliki oleh ritel lain. Ditambah lagi diperkuat dengan adanya pelatihan dan pendampingan para mitra secara gratis, LEU Mart mampu menghadirkan sebuah konsep baru dalam bidang ritel.

Keunggulan LEU Mart dapat bernegoisiasi  secara langsung kepada para prinsipal, seperti Mayora, Orang Tua, Garuda Food, Indofood, Unilever, Wings, Central Pertiwi Bahari/Fiesta, dan lain-lain, serta didukung penuh oleh PT Pos Logistik, Infomedia Telkom, Telkom Sigma dan BNI Syariah sebagai mitra kerja.

Hal ini menjadikan  LEU Mart mampu menghadirkan beragam produk dengan harga yang kompetitif.

LEU Mart menargetkan, secara nasional tahun ini dapat berdiri 1.000 gerai di kawasan Jabidetabek.  Untuk itu ia berharap berbagai pihak bisa mendukungnya dan diharapkan sebagai alternatif peluang bisnis bagi umat.

Jika melihat keseriusannya dan penopangnya yang nyata, yakni basis pondok pesantren, maka LEU Mart harusnya lebih kokoh dan lebih masif ketimbang 212Mart, Kita Mart, maupun Shodaqo yang benar-benar murni dari kocek umat Islam. Selama setahun lebih berkiprah, saat ini sudah ada 150 toko 212Mart dan Kita Mart, dan 60-an toko Shodaqo.

Dengan cita-cita LEU Mart dalam tahun 2018 bisa mencapai 1.000 gerai, maka ini benar-benar nyata dan tak terbendung. Mengingat sentuhan langsung Presiden, para menteri kabinet, pengusaha ritel dan distributor utama industri ritel. Namun tidak jelas bagaimana format kerjasamanya, apakah hanya sebatas konsinyasi, atau ada kewajiban ritel lainnya yang mengikat.

Gandeng Hipmi

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan program ini dilakukan dengan menggandeng Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sebagai pembina sektor ritel. Enggar bilang peresmian program ini akan dilakukan pada Mei 2018 dengan pilot project di 10 pesantren yang ada di Jawa Timur.

“Kerja sama antara Hipmi dengan Aprindo untuk melakukan kegiatan ekonomi di pesantren dalam bentuk perdagangan ritel, dengan sistem yang modern,” kata Enggar beberapa waktu lalu.

Enggar menjelaskan, bentuk dukungan yang diberikan yakni dengan mendirikan atau menguatkan toko layaknya koperasi di sekitar lingkungan pesantren, kemudian menjamin suplai barang-barang yang diperjualbelikan, sebab, selama ini mereka kesulitan untuk pasokan barang sehingga membuat harga jualnya juga sulit untuk bersaing dengan ritel modern seperti Alfamart, Indomart yang memiliki pangsa pasar di daerah-daerah hingga yang terpencil.

Dangan adanya dukungan tersebut diharapkan harga jual barang yang ada di toko kelola pesantren bisa sesuai dengan harga pasaran.

Ada toko yang dibuka di sana. Mulai dari toko yang ada dari nol, kemudian barangnya akan disuplai dengan harga jual yang sama dengan harga jual pasar ritel modern. Dengan pola ini maka timbul persaingan yang sehat, bahkan lebih sehat lagi karena yang satu ada batasan jam operasional, yang di pesantren 24 jam.

Toko ritel ini tak hanya memenuhi kebutuhan santri, namun juga masyarakat yang ada di lingkungan pesantren. Nantinya juga akan ada pendanaan dari perbankan khusus untuk memenuhi pasokan barang yang dibutuhkan oleh toko ritel tersebut.

Ketua Hipmi Jatim Mufti Anam mengatakan kerja sama yang dilakukan dengan Aprindo tak hanya terkait ketersediaan produk, namun bagaimana pesantren diajari teori manajemen bisnis yang tepat dan mampu bersaing dengan ritel modern.

Sementara itu, Ketum Aprindo Roy Mandey mengatakan ada tiga hal yang akan dikerjasamakan, pertama, dengan mendukung sistem ritel modern, seperti bagaimana barang dikirim, dipesan, di-return, diperjualbelikan.

Kedua, dalam bentuk SOP yakni mulai dari barang diterima sampai dijual. Ketiga, service atau standar pelayanan. Ini bagian dari vokasi, literasi, dan edukasi yang akan dilakukan sehingga setiap santri yang akan membantu di ritel modern dapat memiliki standar dan kemampuan yang sama seperti layaknya menjalankan satu ritel modern.

“Sehingga mereka bisa berlaku layak sebagai profesional,” jelas Roy.

Buka 10 cabang

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jawa Timur akan membuka Ummart Mart di 10 pondok pesantren (Ponpes) di Jatim yang merupakan proyek percontohan (pilot project) nasional.

Ketua Dewan Kehormatan Hipmi Jatim Muhammad Ali Affandi mengatakan Ummart Mart yang akan dibuka di 10 ponpes itu akan memasarkan produk-produk yang dihasilkan para santri, UMKM di sekitar pesantren serta produk umum dari perusahaan.

Kesepuluh pesantren itu tersebar di sejumlah daerah, mulai Pasuruan, Malang, Banyuwangi, hingga Probolinggo. “Saat ini tim kami terus melakukan persiapan untuk peluncuran program ini dan bakal dipusatkan di Ponpes Bayt Al-Hikmah Pasuruan pada Mei mendatang,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Ketua Hipmi Jatim Mufti Anam menambahkan, program ini terselenggara berkat kerja sama Hipmi, Kementerian Perdagangan, dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Kerja sama ini juga menghasilkan sejumlah program kerja untuk ekonomi pesantren.

Pertama, penumbuhan kewirausahaan santri. Tim bakal menggelar pelatihan-pelatihan kewirausahaan secara berkala di pesantren. Saat peluncuran program pada Mei mendatang, akan hadir para praktisi bisnis terkemuka, seperti pengusaha Chairul Tanjung dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim.

Ini semacam ngaji bisnis, para santri belajar seluk-beluk dunia usaha, sehingga diharapkan bisa menjadi pengusaha santri yang bisa berbisnis dengan sukses dan menebar manfaat dengan berbasis pada etika usaha yang kokoh.

Kedua, pendampingan manajemen perdagangan hingga pemasaran produk-produk pesantren. Hipmi, Kemdag, dan Aprindo akan mendampingi untuk manajemennya, termasuk di 10 Ummat Mart yang menjadi pilot project. “Bahkan ke depan sudah disiapkan pintu agar produk pesantren bisa masuk ke jaringan ritel modern di seluruh Indonesia,” jelas Mufti.

Ketiga, upaya mendorong pembiayaan yang ramah bagi usaha para santri. Ada tiga skema yang disiapkan, yaitu fasilitasi ke bank syariah atau bank wakaf mikro yang telah dilontarkan Presiden Joko Widodo, crowdfunding (pembiayaan bersama), dan angel investor.

Secara berkala Hipmi juga menggelar kompetisi perencanaan bisnis pesantren dengan hadiah modal kerja, termasuk bisa dipertemukan dengan angel investor. Santri bisa mempresentasikan prospek bisnisnya ke investor untuk ikut mengembangkan bisnis berbasis pesantren.

Tentu saja kita sambut gembira hadirnya toko-toko ritel modern di seluruh Inodnesia, menggantikan peran warung-warung yang tersisih akibat hadirnya toko ritel modern yang ada. Hanya saja masalahnya kepemilikan LEU Mart itu apakah milik PT, koperasi atau hanya perpanjangan tangan peritel raksasa?

Atau jangan hanya menjelang tahun politik sehingga seolah-olah Presiden Jokowi semangat menghadirkan LEU Mart di pelosok-pelosok negeri. Untuk kemudian setelah Pilpres dilupakan. Kita tunggu saja kesungguhan Presiden sejauh mana, syukur-syukur jika ternyata Presiden Jokowi bisa menyisihkan dana pembinaan dari APBN yang menjadi wewenangnya dalam rangka memajukan ekonomi umat.

Kita lihat saja nanti…[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here