LGBT Ancaman Nyata

0
248

MASALAH lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) kembali menghangat setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan Pengujian Undang-Undang (PUU) Pasal 284, Pasal 285 dan Pasal 292 KUHP yang mengatur soal kejahatan terhadap kesusilaan. Permohonan PUU itu diajukan oleh Guru Besar IPB Prof. Euis Sunarti dan sejumlah aktivis perempuan yang tergabung dalam Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia.

Penolakan itu sempat memunculkan tuduhan bahwa MK melegalkan LGBT. Kita tidak hendak menyoroti aspek hukumnya, tetapi ingin melihat fakta bahwa LGBT semakin terbuka, massif, aktif mengkampanyekan hak-hak mereka dengan dalih universalitas HAM. Para pengidap orientasi seks menyimpang ini juga sudah mendirikan berbagai organisasi di sejumlah daerah. Untuk membiayai semua aktivitas itu, kucuran dana dari luar negeri mereka nikmati. WHO kabarnya mengalokasikan dana Rp108 miliar untuk kampanye LGBT ini.

Kekhawatiran terhadap fenomena ini sudah meluas. Pihak pemerintah melalui berbagai menterinya sudah sejak lama mewanti-wanti ancaman LGBT ini terhadap bangsa Indonesia. Luhut Panjaitan, ketika menjabat Menko Polhukam, tegas menyatakan Indonesia tak akan tunduk terhadap tekanan asing dalam soal ini. Mensos Khofifah Indar Parawansa  mengungkapkan, pelaku LGBT itu bahkan menjebak anak-anak remaja dengan iming-iming hadiah dan dalam tempo singkat perilaku anak-anak itu berubah.

Padahal, semua tahu, perilaku seks tidak normal ini adalah pemicu penularan penyakit HIV/AIDS. European Centre for Disease Prevention and Control  (ECDC) melaporkan hasil penelitian di 31 negara Eropa (28 negara anggota Uni Eropa, ditambah Islandia, Liechtenstein dan Norwegia) bahwa hubungan seksual  sesama  lelaki  adalah penyebab tertinggi infeksi HIV, sekitar 42 persen. Sebanyak 32 persen kasus terjadi lewat hubungan seksual orang beda jenis kelamin, dan 4 persen kasus terjadi karena penggunaan narkoba.

Coba simak jumlah penderita penyakit mematikan itu di Indonesia. Dalam laporan Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes pada tanggal 18 Mei 2016, sejak ditemukan penderita penyakit itu tahun 1987 sampai Maret 2016 sudah ada 276.511 penderita HIV/AIDS di Indonesia yang dilaporkan. Penderitanya pun sudah menyebar di 407 kabupaten/kota se Indonesia. Hampir merata di seluruh negara ini.

Itu baru yang dilaporkan. Padahal ini seperti gunung es, yang tidak terlihat jauh lebih besar. Sukar memang mengetahui penderita penyakit ini, jika penderitanya tidak pernah mencoba berobat ke lembaga pelayanan kesehatan. Penderitanya lebih suka mengurung diri sambil menanti ajal menjemput. Sebab, ini memang penyakit yang memalukan. Dan mereka lebih memilih mati ketimbang malu. Karena, kalaupun berobat, sudah malu toh mati juga.

Kita sangat prihatin dengan peningkatan jumlah penderita itu. Kita menaruh rasa kasihan dan simpati yang dalam kepada para korban, khususnya para korban harus menanggung derita akibat kelakuan orang lain. Seperti bayi dan anak-anak yang dilahirkan oleh orang tuanya yang menderita HIV/AIS. Para penerima darah dari donor pengidap penyakit terkutuk itu. Para istri yang ditulari suaminya yang bejat.

HIV/AIDS, kalau dipandang dari sudut moral dan agama, adalah hukuman. Dan hukuman itu tidak datang begitu saja. Sebelum penyakit itu menjangkiti, sudah banyak rambu-rambu yang diterabas. Sudah banyak peringatan yang tak diindahkan. Sebab, penyakit itu dulu hanya menimpa para pelaku seks sejenis. Kemudian melebar menulari  pelaku seks bebas, dan para pemakai narkoba yang bergantian memakai jarum suntik di kalangan mereka. Padahal tidak ada satu agama pun di muka bumi ini yang membenarkan seks bebas, seks sejenis atau pemakaian narkoba. Tapi, larangan itu toh dilanggar juga. Lalu, apalagi yang bisa kita katakan?

Simpati? Boleh! Tapi untuk siapa? Untuk para penderita yang tertular karena ulah orang lain, itu harus. Namun, untuk orang yang mengidap penyakit itu karena ulah mereka sendiri?

Penderita HIV/AIDS “aktif” itu  jangan dipandang sama dengan penderita penyakit malaria, muntaber, cacar, atau demam berdarah, misalnya, yang notabene jumlah korbannya jauh lebih besar. Atau penderita kanker, yang juga sama-sama mematikan. Mereka terkena bukan karena pelanggaran moralitas. Dan ini sangat berbeda dengan penderita AIDS yang mengalami penyakit itu karena kelancungan akhlak mereka.

Upaya dunia menghentikan penyakit ini selama ini dilakukan melalui pendekatan yang biasa di sebut A-B-C. Abstain (tidak berhubungan seks sama sekali dengan bukan pasangan sah), be Faithful (saling setia) dan Condom, menggunakan pelindung bagi orang-orang yang berisiko tinggi. Upaya ini dari sudut kesehatan memang benar.

Tetapi, kalau kita bicara dari segi moral, pendekatan yang paling memungkinkan adalah tidak berhubungan dengan pasangan yang tidak sah dan tetap setia pada moral seks yang berlaku umum. Menggunakan kondom bagi orang-orang yang berisiko tinggi secara seksual itu, jelas bukan pilihan yang sehat. Selain kondom tidak seratus persen aman, cara berpikir yang melandasi program “use condom”  ini juga menyimpang.

Pemerintah dan masyarakat harus menutup celah penularan penyakit itu serapat mungkin. Para petugas kesehatan mesti benar-benar disiplin, misalnya untuk tidak menggunakan jarum suntik bekas. Para calon mempelai harus memeriksakan diri untuk meyakini dirinya dan pasangannya bersih.  Jika berbagai upaya teknis sudah dilakukan, dan ternyata masih ada penularan juga, berarti itu masuk melalui pintu amoral tadi.

Terlalu idealistik? Mungkin. Tapi, adakah jalan lain?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here