Like Father Like Son: Jejak “Dinasti” di Perpolitikan Dunia

0
109
Ilustrasi: Dinasti Bush/Foto: Sputnik

Nusantara.news – “Like father like son”, sebuah adagium umum yang merujuk pengertian, seorang anak akan menuruni bakat orangtuanya. Dalam istilah Indonesia, “Buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya”. Begitu juga bakat dalam berpolitik. Di sejumlah negara, kenyataan ini banyak terjadi, bahkan di negara demokratis sekali pun yang sudah tidak lagi menganut sistem dinasti, termasuk di Indonesia.

Orang menyebutnya sebagai “dinasti politik”, sebuah keluarga tertentu yang mendominasi jabatan politik tertinggi secara turun-temurun lewat pemilihan umum yang demokratis. Anggota keluarga bisa merupakan orang tua, anak, pasangan (suami/istri) atau saudara kandung.

Istilah “dinasti politik” digunakan dalam pengertian berbeda dari monarki atau kediktatoran, dimana anggota keluarga dilibatkan dalam jabatan atau kekuasaan tanpa proses pemilihan.

Terlepas dari kenyataan bahwa “dinasti politik” kerap tidak disukai karena dianggap nepotis, tapi pada kenyataannya banyak juga yang sukses di sejumlah negara.

Di Kanada, sekarang ada perdana menteri muda usia bernama Justin Trudeau. Nama lengkapnya, Justin Pierre James Trudeau, dia politisi Kanada yang saat ini memimpin Partai Liberal Kanada.

Trudeau merupakan putra sulung Pierre Trudeau dari Perdana Menteri Kanada pertama dan istrinya Margaret Trudeau. Justin Trudeau terpilih sebagai anggota Parlemen untuk konstituensi Papineau pada tahun 2008 dan kembali terpilih pada tahun 2011. Ia juga pernah menjabat sebagai anggota kabinet bayangan partai untuk pemuda dan multikulturalisme, kependudukan dan imigrasi, serta pendidikan tinggi, pemuda, dan olahraga amatir.

Pada 14 April 2013, Trudeau terpilih sebagai Pemimpin Partai Liberal Kanada. Dengan menangnya Partai Liberal dalam pemilu Kanada dengan suara mayoritas pada 19 Oktober 2015, secara otomatis ia pun terpilih sebagai Perdana Menteri Kanada.

Trudeau dikenal dunia karena tampangnya yang tampan, serta pembawaan yang tenang dan cerdas. Sebagai pemimpin muda, namanya mencuat saat ia dengan percaya diri bernegosiasi soal perdagangan dengan presiden baru Amerika Serikat, Donald Trump yang sangat senior dan cenderung angkuh. Saat itu Trump menganggap perdagangan AS dengan Kanada dan Meksiko yang tergabung dalam NAFTA harus dilakukan renegosiasi.

Dalam politik Kanada, terpilihnya Trudeau menandai dinasti politik yang pertama kali terjadi di negara itu. Sampai saat ini, kepemimpinan Trudeau dianggap positif.

Dinasti politik juga pernah berlaku di Korea Selatan, adalah Park Geun-hye presiden ke-11 Korea Selatan. Presiden perempuan pertama di negeri ginseng tersebut. Dia merupakan putri Park Chung-hee, seorang jenderal militer yang berkuasa pada tahun 1961 dan menjadi Presiden ketiga Korea Selatan. Sang ayah memimpin Korea Selatan selama 18 tahun, melakukan industrialisasi di negara tersebut dan memperbaiki ekonominya, sebelum dia dibunuh oleh kepala keamanannya sendiri pada tahun 1979.

Dinasti Park juga adalah yang pertama dalam sejarah Korea Selatan sebagai republik demokratis. Park Geun-hye mewakili partai Saenuri konservatif yang merupakan penerus Partai Republik Demokratik milik ayahnya yang sekarang sudah tidak berjalan.

Namun sayang, pemerintahan Park Geun-hye berakhir tragis karena dia akhirnya terjungkal setelah di-impeach oleh parlemen negara itu pada bulan Mei lalu karena terbukti terlibat korupsi.

Di Filipina dinasti politik juga berlaku. Filipina adalah sebuah negara republik demokratis dimana presiden adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan dalam sistem multi partai. Sebelum periode Presiden Rodrigo Duterte, Filipina dipimpin oleh Presiden Benigno Aquino III dari partai Liberal.

Aquino III terpilih pada tahun 2010 sebagai presiden ke-15 Filipina. Dia merupakan anak dari Corazon Aquino, presiden ke-11 negara itu sejak tahun 1986-1992. Corazon Aquino adalah presiden wanita pertama di Filipina.

Selain Aquino, di Filipina juga ada dinasti politik lain, yaitu Gloria Macapagal-Arroyo, presiden ke-14 Filipina (2001-2010), ayahnya Diosdado Pangan Macapagal adalah presiden Filipina ke-9 (1957-1961).

Di India hal yang sama juga berlaku. Dinasti politik yang sangat populer yaitu dinasti Nehru-Gandhi. Jawaharlal Nehru adalah perdana menteri pertama India. Dia aktif dalam politik sebelum dan sesudah kemerdekaan India, dia juga berperan dalam mengakhiri pemerintahan Inggris-India sebagai pemimpin gerakan kemerdekaan.

Nehru menjabat perdana menteri dari tahun 1947-1964, kemudian putrinya Indira Gandhi menjadi perdana menteri wanita pertama di India pada tahun 1966. Indira menjadi perdana menteri yang paling lama di India, dia memerintah selama 18 tahun sebelum akhirnya terbunuh pada tahun 1984.

Segera setelah kematiannya, anaknya Rajiv Gandhi mengambil posisi sebagai perdana menteri. Dia menjabat hingga 1989 dan tewas dibunuh pada tahun 1991. Istrinya, Sonia Gandhi kemudian menjadi Presiden Kongres Nasional India dan putranya Rahul Gandhi adalah Wakil Presidennya.

Di Timur Tengah, tepatnya di Republik Arab Suriah ada nama Bashar Assad. Ketika Bassel Assad, putra sulung mantan Presiden Suriah Hafez Assad tewas dalam kecelakaan mobil, banyak yang meragukan bahwa adiknya, seorang dokter mata bernama Bashar Assad dapat menggantikannya sebagai ‘ahli waris’ dinasti politik.

Tapi, ternyata pemimpin Suriah itu ternyata politisi yang tekun dan gigih. Dia akhirnya berhasil mempertahankan kepemimpinan negaranya dengan dukungan rakyat yang cukup besar, terlepas adanya perang saudara yang tak berkesudahan serta intrik negara-negara asing yang kuat yang ingin menjatuhkannya.

Di sejumlah negara, dinasti politik ada yang berhasil dan ada juga yang tidak atau belum berhasil. Di Amerika Serikat misalnya, Hillary Clinton istri mantan presiden AS ke-42 Bill Clinton hampir menang dari rival politiknya, Donald Trump dalam Pilpres AS 2016 lalu. Hillary diusung Partai Demokrat sementara Trump dari Partai Republik.

Lalu ada juga John Ellis “Jeb” Bush, putra Presiden AS ke-41, George HW Bush, dan juga saudara laki-laki dari presiden AS ke-43 George W. Bush, dia gagal masuk nominasi capres tahun lalu dari Partai Republik.

Lalu ada juga Marine Le Pen, pemimpin partai kanan Front Nasional Prancis dan putri pendiri partai Jean-Mari Le Pen. Dia berhasil menggantikan ayahnya sebagai pemimpin partai bahkan nyaris berhasil menjadi presiden Prancis. Langkah Le Pen terjegal oleh Emmanuel Macron dari calon independen pada putaran kedua Pilpres Prancis bulan Mei yang lalu.

Di Indonesia, politik dinasti juga berlaku baik di panggung politik daerah maupun nasional. Lebih bari hitungan jari, jabatan kepala daerah baik gubernur, bupati atau walikota yang “dikuasai” dinasti tertentu. Setelah suami menjabat digantikan istrinya, lalu anaknya, lalu adiknya atau keponakannya dan seterusnya.

Ke depan, panggung nasional politik Indonesia tampaknya juga bakal diwarnai politik dinasti. Dari mulai nama Puan Maharani yang anak mantan Presiden ke-4 RI dan cucu dari presiden RI pertama, lalu Agus Harimurti Yudhoyono anak mantan presiden RI ke-6, hingga anak Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yeni Wahid.

Beberapa anak politikus di sejumlah negara dengan sistem demokrasi yang matang terbukti telah mampu menjadi pemimpin yang cakap bahkan terkadang berhasil melampaui kemampuan para orang tua mereka. Mereka ditempa dengan sistem politik yang keras dan bersaing secara setara dengan para politisi lain tanpa peduli anak siapa.

Bagaimana dengan di Indonesia? Sebetulnya, jika sistem demokrasi berjalan dengan baik, politik dinasti bukanlah menjadi soal, sejauh mereka mampu menjadi sosok politisi atau pemimpin yang bisa memenuhi kualifikasi sesuai keinginan dan kebutuhan rakyat. Selain harus mampu bersaing secara setara dengan politisi lain. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here