LinkAja Siap Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

0
310
Sebanyak enam BUMN penyelenggara Fintech siap bergabung menjadi Linkaja, sebuah dompet elektronik raksasa yang siap bersaing dengan Go-Pay, OVO, walaupun sulit untuk menghadapi Fintech China seperti Alipay dan WeChat.

Nusantara.news, Jakarta – Persaingan uang elektronik (financial technology—Fintech) belakangan semakin tajam mengingat gurihnya bisnis tersebut. Uang yang di tanam dalam uang elektronik tak ada beban bunga, sehingga sangat menguntungkan penyelenggara.

Sementara posisi Go-Pay dan Ovo sebagai pendahulu sudah laju melenggang dan meraup dana puluhan triliun. Di luar itu, WeChat dan Alipay yang berhasil menggeser industri perbankan di China, kabarnya juga telah eksis di tanah air. Pendek kata, Fintech asing perlu dihadapi secara berjamaah agar lebih ringan mengunggulinya.

Sementara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) penyelenggara Fintech berjalan nafsi-nafsi, sehingga jika disandingkan persaingan per individu, tentu saja jauh ketinggalan. BUMN belakangan mulai sadar diri dan siap bergabung untuk menghadapi persaingan meraup dana tunai dan ditanamkan dalam Fintech melawan Fintech asing.

Menurut Bank Indonesia, ada 41 uang elektronik yang sudah beredar, terdiri dari 30 uang elektronik berbasis server dan 11 uang elektronik berbasis chip, dan masih berpotensi untuk bertambah. Ini artinya potensi bisnis pembayaran digital sangat menjanjikan, maka tidak heran jika T-Cash, Go-Pay dan OVO berebut pelanggan.

Dua lembaga riset independen di bawah naungan Financial Times, FT Confidential Research Mobile Payment dan laporan Fintech 2018 dari DailySocial bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Riset FT Confidential Research Mobile Payment menyebutkan, Go-Pay yang merupakan bagian dari ekosistem Gojek memimpin pasar. Sebab, jumlah penggunanya mencapai hampir tiga perempat dari total pengguna uang elektronik.

CEO Go-Pay Aldi Haryopratomo menyatakan pada dasarnya masyarakat Indonesia butuh pendekatan yang komprehensif untuk mengadopsi pembayaran secara digital. “Upaya ini terus kami dorong secara berkelanjutan dengan memberdayakan masyarakat dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),” ujarnya beberapa waktu lalu.

Aldi ingin membangun ekonomi Indonesia dari bawah melalui UMKM. Untuk itu, 40% dari 240 ribu mitra Go-Pay saat ini merupakan UMKM. “Sebagai produk keuangan asli Indonesia, Go-Pay ingin mempermudah akses layanan keuangan bagi jutaan keluarga di Tanah Air terutama masyarakat yang memiliki akses terbatas terhadap layanan keuangan formal.

Pembayaran non tunai terutama yang terkait aktivitas sehari-hari merupakan langkah pertama yang disasar Go-Pay untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan jasa keuangan digital. Caranya, dengan merangkul mitra rekan usaha termasuk UMKM untuk mengadopsi transaksi non tunai.

Menurut laporan Fintech 2018 DailySocial menyebutkan, 79,4% dari 1.419 responden menggunakan Go-Pay. Sementara OVO dari PT Visionet Internasional (OVO) digunakan oleh 58,4% responden dan aplikasi pembayaran milik PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), TCash mendapat 55,5% suara.

Sebanyak 70,63% responden mengaku paham mengenai layanan keuangan digital. Ada tujuh alasan mereka menggunakan layanan keuangan digital, yakni kemudahan dalam penggunaan (74,9%); simpel (71%); efisiensi waktu (62,7%); tidak perlu repot pergi ke bank (48,9%); lebih aman (36,4%); adanya promo dan insentif (36,4%); serta, pengelolaan yang lebih baik (29,8%).

Menurut Aldi, selain kemudahan, kepercayaan merupakan kunci agar Go-Pay cepat diadopsi oleh masyarakat Indonesia, terutama UMKM. Adapun data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) menunjukkan, UMKM menyumbang lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan serapan tenaga kerja mencapai 97,2%.

Atas dasar itulah, Aldi percaya bahwa akar pertumbuhan ekonomi terbesar adalah UMKM. “Untuk itu kami terus berupaya untuk membantu dan mendorong UMKM untuk mulai terbiasa dengan sistem pengaturan keuangan secara digital,” katanya. Caranya, Go-Pay membangun kepercayaan UMKM akan sistem pembayaran digital.

Sementara dua platform pembayaran asal China yakni Alipay dan WeChat menguasai sebagian besar transaksi pembayaran di Tiongkok dan membuat bank tak bisa bergerak leluasa di bisnis ritel.

Mengutip Forbes, saat ini kedua dompet digital ini menguasai 80% hingga 90% transaksi pembayaran di China. Bahkan kalangan anak muda lebih mengenal kedua alat pembayaran ini ketimbang uang kartal (uang kertas), seperti dikutip Rabu (6/2/2019).

Ada dua alasan berkembangnya pembayaran Fintech asal China tersebut. Pertama, infrastuktur. Di China infrastruktur internet berkembang dengan cepat dengan kecepatan tinggi.

Kedua, layanan perbankan China dianggap tidak ramah. Masyakat China menganggap ke bank menyulitkan. Harus antre dan harus memenuhi berbagi persyaratan agar mendapat memiliki rekening dan mendapatkan kartu debit.

Di China kartu kredit dari perbankan bahkan tidak populer. Alasannya, masyarakat China tidak terlalu suka berutang.

Alipay dan WeChat meraih popularitas fantastis. Mereka berhasil mengumpulkan masing-masing 520 juta dan 1 miliar pengguna aktif bulanan. Konsumen menaruh dana lebih dari US$2,9 triliun pada 2016, setara dengan sekitar setengah dari semua barang konsumen yang dijual di China, menurut konsultan pembayaran Aite Group.

Alipay dan WeChat dikabarnya sudah masuk juga di Indonesia, beberapa pengguna merasa nyaman dengan layanan kedua Fintech asal China tersebut. Tentu saja keduanya menjadi ancaman baru bagi penyelenggara Fintech lokal.

Untung saja BUMN penyelenggara Fintech mulai sadar soal perlunya melakukan sinergi dalam menghadapi serangan Fintech asing. Sedikitnya ada enam BUMN penyelenggara Tintech semeperi Telkomsel (T-Cash), Bank Mandiri (e-Money), BRI (T-Bank), BNI (Yap!), BTN dan Pertamina.

Cita-citanya, tentu ingin menjadi penyelenggara Fintech raksasa di tanah air. Bahkan misi besarnya adalah ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri, ini merupakan konsolidasi raksasa para pelaku bisnis Fintech lokal.

Seperti diketahui T-Cash memiliki 30 juta pengguna, adapun fasilitas yang ditawarkan adalah untuk beli pulsa, data harga termurah, bayar merchant dengan Tap dan Snap. Sementara E-Money memiliki 5 juta pengguna dengan fasilitas pengalaman social banking dan kemudahan pembayaran.

Sementara Yap! BNI diketahui memilii 400.000 pengguna dengan fasilitas QR Code scanner dan memungkinkan nasabah untuk memungkinkan nasabah menjadi inisiator transaksi. Belum lagi BRI, Pertamina dan BTN.

Keenam BUMN tersebut ke depan akan menggunakan LinkAja untuk bersaing dalam layanan dompet digital.
LinkAja sendiri adalah aplikasi baru pengganti T-Cash dan menggabungkan dengan Fintech BUMN lainnya. Pengalihan masing-masing Fintech BUMN ke dalam LinkAja dijadwalkan 21 Februari 2019 ini. Begitu semua sudah bergabung ke dalam LinkAja, maka Fintech terkait akan off memberikan pelayanan.

Dompet digital ini nantinya akan dikelola PT Tintek Karya Nusantara (Finarya). Ini adalah fintech yang dibentuk Telkom dan berada di bawah Telkomsel.

Pada tahap awal ini, Finarya akan membawahi produk dompet digital Telkomsel, T-Cash yang memiliki 30 juta pelanggan dengan 20 juta transaksi harian. T-Cash pun segera bertransformasi menjadi LinkAja.

Fasilitas layanan LinkAja nanti akan menyediakan layanan keuangan elektronik yang memberikan kemudahan dan kenyamanan bertransaksi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan fitur pembayaran seperti pembayaran tagihan, antara lain listrik, air, asuransi, internet dan lain-lain.

Ada juga layanan transaksi di merchant baik lokal maupun nasional, pembayaran moda transportasi, pembelian online hingga layanan keuangan lainnya seperti transfer saldo antar pelanggan. Tak lupa pula pembayaran menggunakan NFC dan QR Code.

“Layanan T-Cash tidak bisa diakses lagi setelah layanan LinkAja diluncurkan pada 21 Februari 2019,” ujar mananjemen.

LinkAja juga akan memberikan kelebihan Fintech dari masing-masing BUMN anggota, sehingga kemampuannya menjadi luas, demikian pula jaringannya pun semakin luas meraksasa.

Persoalannya, mana yang akan lebih unggul? Lebih inovatif? Dan yang terpenting lebih kompetitif dan efisien, maka dialah yang akan unggul. Kita berharap LinkAja bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, memiliki keunggulan teknologi informasi yang paling sempurna.

Karena itu diperlukan kemudahan transaksi (user friendly), infrastruktur teknologi informasi yang kuat dan kredibel, multi transaksi, dan melibatkan merchant sebanyak mungkin.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here