Listrik PKL Diputus, Wujud Hukum Hanya Runcing ke Bawah

0
72

Nusantara.news, Surabaya – Istilah hukum runcing ke bawah dan tumpul ke atas sudah berkembang menjadi kosa kata yang populer di Indonesia. Istilah yang merupakan simbol protes atas perlakuan penguasa terhadap rakyat kecil bukan isapan jempol. Realitas tidak adil itu betul betul dialami 32 lapak Pedagang Kali Lima (PKL) di Jalan Anggrek, Surabaya. Sudah satu bulan lebih aliran listrik ke lapak mereka dipadamkan, tak jelas sebab musababnya. Tak pelak omzet PKL yang kecil menjadi semakin kecil. Anehnya iuran untuk kebersihan dan keamanan tetap ditarik oleh orang yang sama dengan orang yang menagih iuran listrik.

“Padahal Laba dari hasil penjualan nasi pecel dan aneka minuman sachet maupun racikan yang saya jual jadi menurun drastis. Itu karena jeda waktu untuk saya berjualan terpotong empat jam, yang biasanya buka mulai pukul 07.00 pagi sampai pukul 23.00 Wib malam, kini terpaksa saya tutup pukul 19.00 WIB. Otomatis, uang untung yang saya gadang-gadang jadi berkurang,” kata salah seorang pedagang sebut saja bernama Laili kepada NUSANTARA.NEWS, Minggu (23/1/2017) sore.

Satu bulan ini betul-betul terasa. Dagangan tak seramai hari-hari sebelumnya, ketika lapak-lapak tenda di sini masi terang benderang. Sekarang, pelanggan enggan mampir karena gelap. “Saya nyalakan lilin tapi tak membantu. Entah sampai kapan pemadaman berakhir juga belum jelas. Yang jelas, saya dan pedagang lainnya sudah diminta membayar iuran sebesar Rp400 ribu untuk membeli terminal MCB (Miniature Circuit Breaker), yang katanya pihak pengelola, alat itu untuk menambah daya,” imbuh Laili.

Laili pun mengeluh bahwa iuran sebesar Rp15 ribu per hari menjadi sangat berat, karena omzet menurun. Anehnya, uang iuran ditarik rutin oleh pihak pengelola untuk alasan keamanan dan kebersihan. “Orangnya sama dengan orang yang mengurusi listrik termasuk yang mengatur parkir sepeda motor di sepanjang depan PKL di kawasan Grand City ini,” kata Laili yang mengaku membayar beban sewa tenda sebesar Rp1,5 juta per tahun..

Laili mengaku tidak bisa protes, karena tidak tahu dari mana sumber aliran listrik. “Tidak ada yang bisa saya perbuat selain bisa bersabar dan lebih bersabar lagi. Saya hanya berharap agar kondisi ini tidak berlangsung lama. Apapun aturannya, akan saya ikuti demi mempertahankan mata pencaharian untuk menambah pemasukan keluarga, terutama dua anak kesayangan saya,” katanya seraya mempertanyakan apakah perlakuan tidak adil sepeti itun itu sama dilakukan terhadap orang besar. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here