Literasi Gus Ipul Diragukan, Indikasi Rendahnya Minat Baca

0
127

Nusantara.news, Surabaya– Bangsa ini dilahirkan dari pemimpin yang gemar membaca. Beberapa di antaranya bahkan punya nama tenar di dunia internasional. Semisal dua proklamator bangsa, Soekarno dan Mohammad Hatta. Kehidupan mereka tidak jauh dari membaca yang menggugah rasa nasionalisme. Kegemaran itu bahkan tidak surut kendati pemerintah kolonial Belanda kala itu, mengasingkan mereka.

Karena, buku jadi salah satu barang pertama yang harus dibawa. Kebiasaan yang patut dicontoh dari founding father NKRI ini, ternyata tidak mampu ditangkap oleh para pemimpin dan calon pemimpin sekarang. Indikasi ini terlihat dari rendahnya minat baca bangsa Indonesa yang sangat memprihatinkan. Data UNESCO, minat baca penduduk Indonesia berada pada angka 0,001.

Artinya dari 1.000 orang hanya satu orang yang mempunyai minat baca. Ironisnya, kebiasaan minim literasi itu juga dicontohkan para pemimpin sekarang. Sampai-sampai sekelas Presiden Joko Widodo (Jokowi) salah sebut Blitar sebagai kota kelahiran Soekarno.

Lain dengan Jokowi beda pula dengan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf. Baru-baru ini, pejabat yang akrab disapa Gus Ipul tersebut menyebutkan bahwa jumlah data limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di Jawa Timur, mencapai 170 juta ton per tahun. Angka ini meningkat drastis, jika dibandingkan dengan data dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pada 2016 yang hanya sebanyak 19 juta ton.

Jika benar Jawa Timur menerima 170 juta ton per tahun, bisa jadi provinsi terpadat kedua di Indonesia ini mengalami situasi darurat limbah B3. Padahal dari catatan yang diterima Nusantara.news angka tersebut masih jauh dari data yang disebutkan Gus Ipul saat berkunjung ke Lakardowo (12/5/2017) lalu.

Baca juga:Sebut Limbah B3 Ada 170 Juta Ton, Gus Ipul Sebar Hoax? 

“Pemimpin sekarang kadar gila baca dan gila kuasa sangat tidak berimbang. Padahal sosok pemimpin besar bangsa Indonesia di masa lalu adalah sosok yang gila baca dan rakus melahap buku,” kata Bahrurrosi Ketua Klub Baca Bibliopolis kepada Nusantara.news, Selasa (16/5/2017).

Kualitas seorang pemimpin memang bisa dilihat dari tutur kata yang diucapkan. Sebut saja Presiden Soekarno saat membaca pidato selalu berapi-api dan mampu membakar semangat para pendengar.

“Kalau pemimpin gayanya kocak dan banyol, ini kan kurang baik. Masa saat pemimpin berpidato isinya cuma ketawa-ketiwi, ini pidato apa stand up comedy? Ini persoalan bangsa (rendahnya minat baca, red) jangan dijadikan candaan,” tambahnya.

Pemimpin besar Indonesia di masa silam selalu mampu meneluhkan gagasan yang luar biasa dalam menghadapi persoalan. Mampu mendiagnosis permasalahan sehingga setiap persoalan selalu pas dengan solusi yang dihasilkan.

“Gagasan besar yang dihasilkan para pendahulu kita adalah hasil dari akumulasi pengetahuan yang didapat dari sumber bacaan yang mereka baca. Jadi lihat saja gagasannya pasti kelihatan minat bacanya,” pungkasnya.

Jika pemimpinnya saja enggan untuk membaca apalagi rakyat yang dipimpinnya. Seperti potongan ajaran Ki Hadjar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodho yang artinya setiap pemimpin harus memberikan suri teladan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here