Lomba Kolintang, Cara untuk Lestarikan Budaya Nusantara 

0
127
Lestarikan budaya lokal, BKOW Jatim gelar lomba kolintang.

Nusantara.news, Surabaya – Banyak cara bisa dilakukan untuk melestarikan budaya asli Nusantara. Dan, siapa yang tidak kenal jenis musik dengan semua peralatannya terbuat dari bahan bambu, kolintang namanya. Salah satu cara untuk terus menjaga keberadaan perangkat musik tradisional ini diantaranya dengan menggelar lomba ketrampilan memainkan kolintang. Ini sungguh mulia, karena dengan melestarikan alat musik tradisional berarti ikut menjaga kelestarian jati diri dan kepribadian bangsa Indonesia. Upaya itu dilakukan oleh Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Jawa Timur dengan menggelar ‘Lomba Kolintang Dewasa’ di Atrium Utama Grand City Surabaya, Sabtu (22/4/2017).

“Lomba kolintang seperti ini, harus dipertahankan dalam menghadapi arus modernisasi agar budaya asli Indonesia tidak tergerus budaya luar,” ujar Ketua BKOW Jawa Timur, Fatma Saifullah Yusuf.

Menurutnya, di era global dengan infiltrasi budaya asing yang semakin gencar masuk ke Indonesia, tak terelakkan masyarakat terus disuguhi budaya barat yang belum tentu baik. Tidak jarang, budaya barat tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilaI budaya asli Nusantara.

“Untuk itu, berbagai budaya lokal harus senantiasa digelorakan sebagai upaya membangkitkan rasa cinta budaya dan tanah air. Salah satunya dengan lomba kolintang ini, ” tambahnya.

Ibu Wakil Gubernur Jawa Timur itu menjelaskan, lomba kolintang yang dilakukan itu sudah untuk yang ke enam kalinya. Kali ini, diselenggarakan untuk memperingati Hari Kartini. Tujuannya, agar masyarakat terus selalu mengingat perjuangan dan jasa besar Raden Ajeng Kartini.

“Perjuangan R.A. Kartini yang luar biasa tersebut harus diteruskan oleh Kartini Kartini di zaman sekarang. Salah satunya dengan cara melestarikan budaya lokal seperti ini,” jelasnya.

Kartini adalah sosok pejuang emansipasi yang memiliki cara pikir dan cara pandang yang maju. Wujud pemikiran maju adalah dengan berjuang mengangkat derajat wanita Indonesia, khususnya dizaman itu.

Hingga saat ini lanjut Fatma, semangat juang Kartini masih tetap relevan dan menjadi fenomena khususnya untuk kemajuan kaum wanita. Pihaknya tidak menampik gelaran pelaksanaan lomba kolintang sebenarnya mengalami kendala diantaranya keberlangsungan grup kolintang yang tergantung dari dukungan pimpinan. Khususnya soal dukungan materiil dan mobilisasi pemain kolintang yang kebanyakan adalah istri TNI, Polri maupun PNS sehingga tidak jarang mereka kemudian pindah karena mengikuti tugas suaminya.

Kendala lainnya adalah saat membentuk grup relatif sulit karena butuh waktu yang panjang, keseriusan dan bakat. Keahlian dalam memainkan kolintang bukanlah keahlian instan, tetapi membutuhkan keseriusan untuk menguasainya. Meskipun mengalami banyak kendala, tidak mengurangi semangat semua pihak dalam upaya melestarikan budaya lokal khususnya musik kolintang.

“Tujuannya agar musik kolintang terus eksis di Indonesia dan hingga ke mancanegara,” pungkasnya.

Benar, patut diacungi jempol upaya yang dilakukan BKOW Jawa Timur ini. Sebab, kalau bukan kita siapa lagi dan kalau tidak sekarang kapan lagi berbuat nyata untuk melestarikan budaya Nusantara, termasuk kolintang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here