Lomba Mewarnai Susu HiLo Cederai Dunia Pendidikan

0
583
HiLo School Drawing Competition 2018. Lomba ini menyasar anak-anak sekolah dasar (SD). Bagi pemenang akan mendapatkan hadiah berupa uang. Banyak kalangan menilai lomba tersebut telah mencederai dunia pendidikan Indonesia.

Nusantara.news, Jawa Timur – Produk susu HiLo menggelar kompetisi mewarnai tingkat nasional atau HiLo School Drawing Competition 2018. Lomba ini menyasar anak-anak sekolah dasar (SD). Bagi pemenang akan mendapatkan hadiah berupa uang. Untuk pemenang utama akan mendapat 2 paket tour ke Universal Studio Singapore.

Trik marketing yang dilakukan HiLo memang cukup mengena. Sayangnya, banyak prosedur-prosedur yang dilanggar. Salah satunya dengan mengajak kerjasama dengan pihak sekolah untuk mempromosikan acara tersebut.

Dengan berbagai alasan, guru lantas menginstruksikan semua anak didik untuk membeli produk susu HiLo agar dapat mengikuti lomba mewarnai tersebut. Akibat instruksi tersebut, banyak wali murid yang mengaku kecewa. Sebab, produk HiLo bukan barang yang murah. Untuk setiap pembelian produk, harga setiap kemasan HiLo berkisar Rp 70.000.

Di Surabaya, banyak wali murid mengeluhkan hal tersebut. Trik marketing yang dilakukan perusahaan HiLo telah membebani konsumen. Apalagi tidak semua murid SD mengkonsumsi susu. Jika mereka membeli produk HiLo paling hanya diambil bungkusnya untuk lomba, sedang isinya dibuang.

“Ini sebenarnya trik marketing yang membebani konsumen. Mereka mempromosikan lewat sekolah agar murid-murid membeli produk. Ini sudah tidak benar,” terang salah satu wali murid yang menolak disebutkan namanya.

Yang paling parah, produk HiLo menjalin bekerjasama dengan pihak sekolah untuk memasarkan produk-produknya dengan embel-embel kuis berhadiah. Dari instruksi para guru inilah, walau tidak wajib, setidaknya cukup membuat resah wali murid. Akibatnya banyak para murid merengek minta dibelikan susu. Jika tidak, mereka mengancam tidak mau sekolah. Ada juga murid yang bahkan berani melawan orangtua dengan cara memukul dan mengancam, meski sudah dijanjikan akan dibelikan susu HiLo.

Lomba berhadiah mewarnai yang digelar HiLo sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Program tersebut menyasar seluruh anak sekolah di seluruh Indonesia. Syarat lomba diikuti oleh anak SD kelas 1 hingga kelas 6.

Tentu saja hal ini mendatangkan untung cukup besar bagi HiLo. Mereka melakukan promo murah dengan hanya menyebarkan brosur-brosur ke setiap sekolahan. Padahal seperti diketahui, sesuai aturan pihak sekolah dilarang menjalin kerjasama dengan pihak luar dalam bentuk iklan atau promo sebuah produk. Ya, lagi-lagi dunia pendidikan dijadikan sarana untuk mengeruk keuntungan semata.

Sekarang ini banyak perusahaan-perusahaan swasta yang menawarkan kerjasama dengan pihak sekolah untuk memasarkan produknya. Seperti yang pernah terjadi di SD Negeri III dan IV Kepatihan, Kabupaten Tulungagung. Saat itu perusahaan Teh Botol Sosro  memberikan secara gratis produknya dalam rangka promosi penjualan di sekolah. Namun yang terjadi selanjutnya, para siswa mengalami keracunan massal. Para siswa mengeluh pusing, mual dan beberapa di antaranya muntah. Dalam waktu singkat jumlah itu terus bertambah.

Apa yang dilakukan perusahaan HiLo, secara garis besarnya sama. Mereka menjalin kerjasama dengan pihak sekolahan untuk memasarkan produk susu. Bahkan ada indikasi, kerjasama ini menjadi pendapatan baru bagi pihak sekolah, dalam hal ini kepala sekolah dan pendidik untuk mendapat prosentase dari setiap penjualan susu HiLo.

Komisioner Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Adrianus Meliala menganggap pihak sekolah tidak etis mengikat perjanjian dengan pihak swasta. “Tentu tidak etis jika pihak sekolah mengikat perjanjian dengan swasta. Apalagi bila berimplikasi pada kewajiban finansial bagi orang tua siswa,” terang Adrianus saat dihubungi Nusantara.News, Selasa (23/1/2018).

Dalam hal ini Adrianus mengatakan, kompetensi mengajar para guru juga akan dipertanyakan. Apakah mereka memiliki penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Dengan kata lain kompetensi tidak hanya mengandung pengetahuan, keterampilan dan sikap, namun yang penting adalah penerapan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan tersebut dalam pekerjaan.

“Juga bisa dipertanyakan secara pedagogik apa pentingnya guru menganjurkan kegiatan mewarnai susu HiLo. Mewarnai itu memang penting bagi aktivitas motorik anak. Tapi tidak harus dengan susu HiLo kan?” ujarnya.

Terkait penjualan produk HiLo, sebenarnya hal ini sudah diatur dalam PP No.17 Tahun 2010 tentang Tenaga Pendidikan. Disebutkan pasal 181 pendidik dan tenaga kependidikan, baik perseorangan maupun kolektif, dilarang: a. menjual buku pelajaran, bahan ajar, perlengkapan bahan ajar, pakaian seragam, atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan; b. memungut biaya dalam memberikan bimbingan belajar atau les kepada peserta didik di satuan pendidikan; c. melakukan segala sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciderai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik; dan/atau d. melakukan pungutan kepada peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Meski sekedar saran dan anjuran, namun hal itu sama saja diartikan bahwa guru atau pendidik menginstruksikan secara tidak langsung pada anak didiknya untuk membeli sebuah produk. Tentu banyak pihak yang menyayangkannya.

Seperti dalam pepatah Jawa, seorang guru merupakan akronim dari digugu lan ditiru (orang yang dipercaya dan diikuti), bukan hanya bertanggung jawab mengajar mata pelajaran yang menjadi tugasnya, melainkan lebih dari itu juga mendidik moral, etika, integritas, dan karakter.

Dapat dibayangkan bagaimana jadinya jika seorang guru atau pendidik kemudian memiliki kepentingan lain dari cara mengajarnya, yaitu keuntungan semata dan pendapat dengan memanfaatkan peluang yang ada. Wajar, banyak siswa yang kini menjadi pribadi-pribadi konsumtif karena cara ajar guru yang tidak benar.

Karena itu Adrianus meminta kepada Dinas Pendidikan setempat untuk segera mengambil tindakan terhadap permasalahan ini. Pasalnya, lomba mewarnai HiLo telah mencederai dunia pendidikan Indonesia. “Secara Ombudsman, maka pihak regulator, dalam hal Dinas Dikbud perlu mengambil tindakan. Jika tidak segera berbuat, perlu dilaporkan ke Ombudsman,” tegasnya.

Siswa Diajari Berperilaku Konsumtif  

Saat ini perilaku konsumtif menjadi kecenderungan manusia untuk melakukan konsumsi tiada batas, membeli sesuatu yang berlebihan atau tidak terencana. Dalam banyak kasus, perilaku konsumtif ini tidak berdasarkan pada kebutuhan, tetapi didorong oleh hasrat dan keinginan.

Lomba mewarnai yang digelar produk HiLo merupakan bagian dari perilaku konsumtif tersebut. Apalagi pembelian produk diembel-embeli oleh kuis berhadiah.

Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ikut angkat bicara seputar lomba mewarnai berhadiah yang digelar HiLo. Menurut dia, lomba tersebut telah mencederai dunia pendidikan. Seorang anak sejak dini telah diajarkan cara berperilaku konsumtif. Bagaimana bila nanti mereka dewasa. Cara-cara tersebut sangat tidak mendidik.

Saat ini banyak kalangan remaja yang telah berperilaku konsumtif. Mereka hanya menggunakan faktor emosionalnya saja, misalnya dengan hanya memperhitungkan gengsi dan perstise. Sedangkan remaja yang memperhatikan faktor rasional cenderung memperhitungkan manfaat serta harga produk yang berwujud mode atau style popular. Ini disebabkan karena pola pikir dan cara didik yang salah.

“Itu cara yang tidak mendidik bagi anak-anak, karena anak-anak bisa berperilaku konsumtif,” terang Tulus dalam keterangannya pada Nusantara.News, Selasa (23/1/2018).

Menurut Tulus, pihak sekolah sebenarnya dapat langsung menolak tawaran kerjasama dengan model kuis berhadiah. Sebab, bagaimana juga model-model kuis berhadiah cuma akan membuat perilaku anak menjadi berubah.

Yang dikhawatirkan lagi, even yang digelar produk HiLo ini akan menjadi pendapatan baru bagi pihak sekolah. “Dan pihak sekolah seharusnya melarang (HiLo) menjadikan even tersebut untuk anak didik. Ini bisa saja sebagai upaya mencari pendapatan baru bagi sekolah dan atau pribadi,” ujarnya.

Sumartono dalam Tiurma Yustisi Sari 2009: 26-27, mendefinisi konsep perilaku konsumtif amatlah variatif. Namun semua muara perilaku konsumtif adalah membeli barang tanpa pertimbangan rasional atau bukan atas dasar kebutuhan pokok. Secara operasional, indikator perilaku konsumtif, di antaranya membeli produk karena iming-iming hadiah, membeli produk karena kemasannya menarik, membeli produk demi menjaga penampilan diri dan gengsi, membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat atau kegunaannya), membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status, memakai produk karena unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan, dan munculnya penilaian bahwa membeli produk dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi.

Hal ini tentu sangat disayangkan bila terjadi pada anak didik kita. Sejak dini mereka sudah diajarkan cara berperilaku konsumtif. Faktor keluarga dan sekolah menjadi sangat dominan dalam membentuk perilaku konsumtif. Pihak sekolah harus berani melakukan filter dan penolakan terhadap tawaran dari luar (swasta) yang dianggap merugikan anak didik, tidak malah memanfaatkan tawaran tersebut untuk mengeruk keuntungan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here