London Attack dan Sejarah Panjang Terorisme di Eropa

0
418
Foto: Reuters

Nusantara.news – Serangan London yang terjadi Rabu 21 Maret 2017 di jembatan Westminster yang menewaskan 5 orang serta 20 luka-luka langsung mengarah pada teroris Islam, bahkan sebelum proses penyidikan dimulai. Ciri-ciri pelaku yang berkulit gelap dan berjenggot lantas dijadikan dasar oleh media-media internasional untuk “menuding” bahwa pelakunya dipastikan seorang Muslim. Diperkuat, oleh pernyataan kelompok ISIS yang mengklaim bertanggung jawab atas peristiwa serangan berdarah itu. Padahal belum ada bukti apapun yang mengaitkan pelaku dengan organisasi ISIS.

Beberapa saat setelah kejadian, pihak keamanan mengumumkan bahwa tersangka pelaku bernama Khalid Masood (52), pria berdarah Asia kelahiran Kent, Inggris bagian tenggara. Pihak kepolisian tidak menyebut agama yang dianut Masood, tapi karena namanya menggunakan bahasa Arab publik sudah menganggap dia Muslim.

Masood ditembak polisi di tempat kejadian, setelah aksinya menewaskan 4 orang. Dia mengemudikan mobil yang ditabrakkan terhadap puluhan pejalan kaki di trotoar, kemudian menikam seorang polisi hingga tewas. Masood tercatat tinggal di Saudi sejak November 2005 hingga April 2008. Selama tinggal di Saudi, dia bekerja sebagai guru bahasa Inggris.

Apakah dia bagian dari jaringan teroris ISIS?

Belum ada data yang mengaitkan Masood dengan ISIS kecuali klaim sepihak dari kelompok ISIS pasca-kejadian.

“Selama di Arab Saudi, Khalid Masood tidak muncul di radar layanan keamanan dan tidak memiliki catatan kriminal di Kerajaan Arab Saudi,” kata kedutaan Arab Saudi dalam sebuah pernyataan di akun Twitter-nya.

Terorisme di Eropa pada dekade akhir, selalu di arahkan kepada kelompok Islam, akibatnya kebencian terhadap Islam di Eropa meningkat. Muncul tokoh-tokoh politik seperti Geert Wilders di Belanda, Marine Le Pen di Prancis yang sangat membenci Islam, tapi mendapat dukungan politik signifikan dari publik Eropa.

Widers pernah berkampanye menutup masjid di Belanda dan menghapus Islam di negeri Kincir Angin itu, dalam kontestasi Pemilu Parlemen di Belanda lewat partai kanan (PVV) yang dipimpinnya. Beruntung tokoh yang pernah dikecam dunia karena film ‘Fitna’ yang menghina Islam ini tak terpilih sebagai pemimpin Belanda kendati partainya cukup menguasai di parlemen.

Marine Le Pen juga berjanji bakal membatasi gerak muslim di Prancis, Le Pen adalah kandidat capres pada Pilpres Prancis yang akan digelar April mendatang. Mengomentari Serangan London, Le Pen kembali mempertegas ide untuk menghentikan masuknya imigran ke Prancis terutama dari negara Islam, bahkan berencana mengusirnya. Tokoh sayap kanan Le Pen mendapat dukungan yang tinggi di Prancis, dan dalam sejumlah jajak pendapat di negeri menara Eifell itu Le Pen punya peluang untuk memenangi Pilpres mendatang.

Pengamat masalah Islam dan terorisme yang pernah tinggal lama di Eropa Prof. Azyumardi Azra menggambarkan bahwa di kalangan masyarakat Eropa kebencian terhadap Islam sekarang ini sudah semakin dalam, hanya saja mereka tidak mengungkapkannya secara terbuka karena konstitusi di negara-negara Eropa tidak memungkinkan untuk itu.

Berikut daftar beberapa peristiwa teror di Eropa yang kerap dialamatkan kepada Islam:

Rabu 21 Maret 2017: Serangan penabrakan mobil terjadi di jembatan Westminster London Inggris, tepat di depan gedung Parlemen Inggris menewaskan 5 orang dan 20 lain luka-luka. Tersangka pelaku ditembak di tempat bernama Khaled Masood (52), warga negara Inggris berdarah Asia. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

22 Maret 2016: Di Brussels, Belgia, bandara menjadi target pengeboman. Tak lama setelah itu, bom meletup di stasiun kereta api. Rangkaian serangan ini merenggut 150 nyawa dan melukai 150 orang. ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan ini.

13 November 2015: Rangkaian serangan terjadi di kafe, restoran, tempat konser, hingga stadion olahraga di mana Presiden Francois Hollande dijadwalkan menghadiri satu pertandingan persahabatan. Setidaknya 130 orang tewas dalam rangkaian serangan ini. ISIS mengaklaim menjadi dalang serangan.

14 Februari 2015: Penembakan di sinagoga dan kafe di Kopenhagen, Denmark, menewaskan dua orang. Pelaku teridentifikasi bernama Omar Abdel Hamid El-Hussein, ditengarai berbaiat kepada kelompok militan ISIS.

7 Januari 2015: Awal mula dari rangkaian serangan besar di Perancis. Sepekan setelah Tahun Baru, kakak beradik Kouachi menyerang kantor majalah satire, Charlie Hebdo.

Masih di hari yang sama, militan lain, Amedy Coulibaly, menembak mati polisi wanita dan beberapa pengunjung di salah satu swalayan Yahudi, Hyper Cacher. Total sebanyak 11 orang tewas dalam rangkaian teror ini. Al-Qaidah mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

24 Mei 2014: Empat orang tewas di Museum Yahudi, Brussels, akibat berondongan peluru dari senapan otomoatis Kalashnikov seorang yang teridentifikasi berwarga negara Prancis. Pria ini diduga terkait kelompok ISIS di Suriah.

Maret 2012: Seorang pria yang mengaku memiliki kaitan dengan al-Qaidah menembak mati seorang guru dan muridnya di sebuah sekolah Yahudi di Toulouse, Prancis. Di pekan yang sama, penembakan menewaskan tiga tentara dalam dua insiden berbeda di Prancis.

7 Juli 2005: Diduga Al-Qaidah menginspirasi empat pria yang melakukan bom bunuh diri terpisah di tiga kereta api bawah tanah dan sebuah bus di London. Akibatnya, 51 penumpang moda transportasi di Inggris ini tewas. Tragedi ini disebut-sebut sebagai insiden terorisme paling parah di Inggris. Dua pekan setelahnya, pengebom bunuh diri lain berupaya meniru aksi brutal tersebut, tapi gagal dan aparat menahan empat tersangka.

11 Maret 2004: Madrid dilanda rangkaian bom di kereta merenggut 191 jiwa dan melukai lebih 1.800 orang. Insiden disebut sebagai serangan teroris terburuk di Eropa sejak tragedi pengeboman di Lockerbie pada 1988.

Serangan terorisme London (London Attack) yang terjadi beberapa hari lalu, meski hanya berupa serangan kecil tanpa melibatkan rangkaian bom sebagaimana biasanya, tapi pengaruhnya begitu besar di Eropa. Selain karena lokasi kejadiannya di depan gedung parlemen Inggris yang merupakan simbol demokrasi negara itu, tetapi juga karena pelakunya diduga dari kelompok Islam.

Eropa memang saat ini tengah menghadapi phobia terhadap Islam dengan alasan sejumlah pelaku terorisme yang mengancam Eropa beragama Islam. Ketakutan terhadap Islam pada akhirnya dimanfaatkan para politisi untuk mendorong kebijakan yang rasis, yaitu pembatasan imigran terutama dari negara-negara mayoritas muslim. Amerika yang dikenal sebagai negara paling demokratis, sejak terpilihnya Donald Trump juga menerapkan kebijakan untuk mencegah imigran dari negara mayoritas Muslim masuk ke AS, meski banyak ditentang.

Terorisme Islam tampaknya dijadikan alasan pembenaran untuk menerapkan kebijakan anti-imigran, padahal yang ingin mereka bendung sejatinya pengungsi yang kebetulan mayoritas berasal dari negara-negara Islam. Banyaknya pengungsi memang akan membebani negara secara ekonomi, sementara jika mencegah pengungsi dianggap melanggar HAM.

Tidak make sense jika membendung pengungsi dengan alasan terorisme sebab menurut data, pelaku terorisme di AS sebagian besar adalah warga negara AS, bukan pendatang. Demikian juga di Eropa, menurut data Europol sepanjang tahun 2009 terjadi 294 serangan teroris di negara-negara Uni Eropa, tidak termasuk Inggris Raya. Kebanyakan aksi-aksi terorisme itu dilakukan kelompok separatis ETA di Spanyol dan kelompok Front Pembebasan Nasional Corsica di Prancis. Sedangkan aksi teroris yang dicurigai dilakukan kelompok Islam hanya terjadi satu kali.

“Terorisme kelompok Islam masih dipandang sebagai ancaman terbesar oleh negara-negara Uni Eropa, meski faktanya, hanya satu kali terjadi serangan teroris yang diduga dilakukan kelompok Islam di Uni Eropa sepanjang tahun 2009, yaitu serangan bom yang terjadi di Italia,” kata Europol.

Direktur Europol, Rob Wainwright ketika merilis laporan tersebut mengatakan, pada umumnya berdasarkan laporan kepolisian negara-negara Uni Eropa, pertikaian antara kelompok ekstrem sayap kanan dan sayap kiri rawan menimbulkan aksi-aksi terorisme di Eropa.

Eropa memang memiliki tradisi terorisme berdasarkan ideologi ekstrem kiri (Brigade Merah di Italia, Action Directe di Prancis, Fraktion Roter Armee di Jerman) atau gerakan nasionalis-regionalis (gerakan Basque di Spanyol, Korsika di Prancis, Sin Fein di Irlandia Utara).

Sejarah panjang terorisme Eropa

Terorisme di Eropa sudah berlangsung sejak tahun 1970-an, terinspirasi kelompok-kelompok seperti Tentara Republik Irlandia di Irlandia Utara, Basque Homeland and Freedom atau dikenal sebagai ETA di Basque Country di Spanyol utara.

Di Eropa Timur, serangan menjadi lebih sering setelah jatuhnya Uni Soviet pada tahun 1991. Kelompok teroris yang dibentuk dalam konflik berikutnya di seluruh bekas Republik Soviet di antaranya kelompok teroris Islam al-Qaeda.

Sebuah artikel pada tahun 2008 tentang ‘Terorisme di Eropa dan Timur Tengah’ yang ditulis Prof. Farhad Khosrokhavar, seorang Profesor di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris, menyatakan bahwa munculnya terorisme Islam merupakan fenomena baru di dunia. Sejumlah mantan teroris yang bertaubat percaya tetang peran utopis Islam yang menyebabkan gerakan teroris, sama halnya seperti kelas menengah pemuda sayap kiri pada tahun 1960 dan 1970-an yang berpandangan tentang Marxisme atau komunisme.

Menurut Prof. Khosrokhavar, terorisme Islam sebagian merupakan bentuk kelelahan dari ‘ideologi kiri’ yang tidak lagi menarik di mata dunia, sehingga kemudian memobilisasi para pemuda di Eropa.

Dari sejumlah kejadian teror baik di Eropa maupun Amerika, Islam kerap dijadikan ‘kambing hitam’ oleh media masa internasional, dituding sebagai penyebab terorisme, kendati dalam sejumlah kejadian banyak juga yang tidak bisa dibuktikan secara hukum di pengadilan, dan hanya merupakan klaim-klaim intelijen yang sulit diverifikasi kebenarannya.

Teror London, yang belum-belum sudah dikaitkan dengan Islam, bukan tidak mungkin juga merupakan “permainan” lama kelompok ‘ideologi kiri’ di benua Eropa yang menggunakan nama Islam untuk sejumlah kepentingan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here