Satir

Lucunya Kabinet Jokowi

0
1036

Nusantara.news, Jakarta – Kekonyolan demi kekonyolan seakan tak henti dipertontonkan para anggota Kabinet Jokowi. Pasalnya, publik kerap dibikin geleng-geleng kepala dengan pernyataan asal bunyi (asbun) dari para pembantu Jokowi ini. Tak sedikit ucapan asbun itu dijadikan bahan tertawaan, meme lucu-lucuan, hingga ada satir: perlu dibikin lomba pernyataan lucu para menteri Jokowi untuk menghibur rakyat yang terus kesusahan akibat tekanan kebutuhan hidup lantaran buruknya kinerja tim ekonomi pemerintah.

Yang terbaru, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan harga telur ayam naik akir-akhir ini akibat ada Piala Dunia dan Pilkada Serentak. ‘Analisis’ sekenanya dari mantan pengusaha properti itu semula diduga sedang ngelawak, atau dikira punya bakat jadi pelawak, tapi ternyata dia memang tidak punya visi dan “tidak  mengerti” kondisi harga-harga pangan. Sebab, tak sekali ini menteri yang jago impor beras di saat para petani mengalami musim panen ini membuat “pernyataan mengejutkan”.

Pada awal 2017, ia pun pernah punya saran “cespleng” yang bikin rakyat ngakak dan geleng kepala. Katanya, kalau harga beras mahal harus ditawar. Kalau harga bawang putih mahal, tak usah makan bawang. Saat harga cabai mahal menembus angka 90 ribu/kg, masyarakat diminta tanam sendiri di rumah.

“Kalau 126 juta ibu di Indonesia mengurangi gosipnya lima menit dan bergerak menanam cabai, persoalan cabai akan selesai,” Kata Mendag asal Partai Nasdem ini. Enteng bukan, solusi dari Pak Mendag? Kata-kata tersebut sontak menjadi bulan-bulanan kritik. Mereka menyebut jika menanam cabai sendiri, beras harus ditawar, dan tak usah makan bawang, maka rakyat sesungguhnya tidak butuh negara.

Kini, tatkala harga telur mahal, Enggar seolah menuding Piala Dunia dan Pilkada Serentak sebagai biang keladinya. Anehnya, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman pun ikut-ikutan latah dengan menyebut naiknya harga telur hingga Rp30 ribu/kg itu karena bersamaan dengan musim haji. “Naik sedikit. Sekali-kali naik sedikit lah. Palingan seminggu ini sudah stabil kembali,” tambahnya saat berkunjung ke Kota Batu, Jawa Timur, Selasa, 17 Juli 2018.

Tak berhenti di situ, Mentan juga pernah menganjurkan resep menghebohkan saat harga daging sapi tembus Rp100/kg. Segala upaya jungkir-balik sudah dilakukan tapi daging sapi emoh turun, Mentan pun akhirnya mengajak rakyat untuk beralih konsumsi keong sawah.

Keong sawah? Ya. Mungkin bagi sebagian orang terdengar lucu. Tapi, Mentan Amran punya alasan kuat, tutut memiliki protein lebih bagus dari daging. Apakah pernyataan ini sebagai ajakan serius atau sekadar memberikan alasan karena angkat tangan atas naiknya daging sapi? Entahlah.

Menteri lain yang tak kalah gencar diolok-olok masyarakat adalah Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani. Pasalnya, saat kegiatan penyaluran beras untuk rumah tangga miskin (raskin) di Provinsi Bali, Puan mengeluarkan pernyataan yang meminta masyarakat untuk diet dan mengurangi makan.

Pernyataan itu memang dimaksudkan oleh Puan sebagai candaan. Namun, candaan tersebut terdengar sangat sarkastik, menyinggung perasaan masyarakat, dan tidak pada tempatnya. Dengan konteks Puan sebagai pejabat publik dan orang dari golongan berpunya, cucu Bapak Proklamator pula, pernyataan tersebut memang terkesan sangat merendahkan martabat masyarakat kelas bawah. Putri Ketua Umum PDIP Megawati ini juga dinilai tak paham kehidupan orang miskin yang sedang lapar. Orang sedang lapar kok disuruh diet.

Ada lagi, Menteri Kesehatan (Menkes) Nyonya Nila Moeloek dianggap melukai perasaan publik dengan menyebut cacing boleh dimakan karena mengandung protein. Sebenarnya tak ada yang salah dari ucapan nyonya menteri itu. Yang jadi soal, publik saat itu sedang dibuat geram atas penemuan BPPOM yang merilis 27 produk makanan kaleng mengandung cacing tidak layak makan. Tak pelak, Menkes pun kena sasaran kritik: dibilang asbun, tak sensitif, bahkan dituding memihak produsen sarden.

Menteri Asbun, Citra Jokowi Tergerus

Pernyataan-pernyataan nyeleneh atau asbun dari anggota kabinet, tentu saja bisa menggerus citra Jokowi di tengah berbagai upayanya memoles diri menghadapi Pilpres 2019. Hal-hal semacam ini juga justru akan berdampak kurang baik bagi pemerintahan Jokowi secara keseluruhan. Publik boleh jadi menilai bahwa Jokowi tidak mampu memilih menteri yang kompeten untuk jabatan sepenting menteri dan melihat komposisi kabinetnya sebatas bagi-bagi kekuasaan.

Jika harus dibandingkan dengan kualitas kabinet era Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto, tentu beda kelas. Para menteri Soeharto adalah orang-orang nomor wahid di bidangnya, sedangkan Soekarno punya menteri berkelas adilihung. Menteri di era kedua presiden tersebut tampil elegan sebagai pejabat publik, tak sembarangan bicara, apalagi berselisih sesama anggota kabinet di muka umum.

Sebenarnya, selain menteri-menteri tersebut di atas, menteri-menteri Jokowi yang lain memang juga dikenal sering mengeluarkan pernyataan yang nyeleneh. Namun dibanding yang lain, pernyataan Puan, Enggar, Arman, dan Nila dianggap cenderung asbun. Walaupun dalam konteks faktanya, pernyataan Menteri Nila tentang parasit cacing dan Menteri Amran soal keong sawah memiliki nilai kebenaran yang lebih baik dibandingkan Puan dan Enggar karena dibuktikan dengan dukungan pendapat ahli.

Kiri ke kanan: Menteri PMK Puan Maharani, Mendag Enggartiasto Lukita, Menkes Nila Moeloek, dan Mentan Amran Sulaiman.

Jelas dalam kasus “asbun” Puan, Enggar, Amran, dan Nila, keempatnya gagal melaksanakan komunikasi publik. Puan sebagai bagian dari kalangan elite gagal memahami perasaan masyarakat miskin, Enggar gagal memahami perasaan para pedagang dan konsumen, Amran gagal memahami aspirasi petani, dan Nila gagal memahami perasaan masyarakat tentang parasit cacing.

Padahal, dalam konteks kedudukan keempatnya sebagai pejabat publik di Indonesia yang memiliki beragam latar belakang budaya, kemampuan komunikasi interkultural (lintas budaya dan kelompok sosial) mutlak dibutuhkan. Di titik ini, sebagai pejabat mesti berhati-hati memilih diksi dan menempatkan konteks pada tempatnya.

Selain itu, Puan Maharani selama ini memang dianggap sebagai salah satu tokoh yang tidak punya kompetensi cukup baik untuk menduduki posisi menteri. Bahkan dalam beberapa reshuffle kabinet, banyak yang mendesaknya untuk diganti. Sementara itu, ketidakmampuan Menteri Enggar menyusun strategi perdagangan dan mengontrol harga komoditas – termasuk cabai – serta kebijakan-kebijakannya terkait impor beras, garam, dan gula, juga membuatnya jadi bulan-bulanan publik dan dianggap layak dicopot.

Namun apa mungkin Jokowi berani mencopot Puan sebagai trah dari “pemilik partai” yang telah membesarkannya hingga ke RI-1? Juga apa mau mantan Gubernur DKI setengah periode ini “mendepak” Enggar yang di belakangnya ada Surya Paloh, pendiri Partai Nasdem sekaligus raja media yang selama ini getol memoles citranya?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here