Luhut Binsar Panjaitan Kagumi KH. Muchtar Mu’thi

0
879

Nusantara.news, Jombang – Salah satu alasan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Luhut Binsar Panjaitan (LBP) ke KH. Muchtar Mu’thi selaku Mursid Thoriqoh Shiddiqiyyah adalah karena kegagumannya terhadap sosok KH. Muchtar Mu’thi.

Pernyataannya itu disampaikan di saat kunjungannya ke Pondok Pesantren (Ponpes) Majma’ul Bahroin Wathon Minal Iman Shidiqiyah Ploso, Jombang, Selasa (21/03/2017). Kunjungan ini tentu memiliki makna politik.

Seperti diketahui, Ponpes ini menjadi pusat bagi jamaah Thorigoh shiddiqiyyah yang memiliki anggota jutaan dan tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, Thoriqoh ini juga terkenal karena memiliki kegiatan pemberdayaan perekonomian yang cukup baik.

Kepada media Luhut menyatakan, kunjungannya ini hanya untuk silahturahmi kepada keluarga besar Ponpes pinpinan KH Muchtar Mu’thi. “Sebenarnya satu tahun yang lalu saya sudah ada janji kepada Kiai Muchtar untuk mengunjungi beliau, namun pada hari ini baru bisa diagendakan. Kami juga meminta doa kepada beliau (Kiai Muhctar, red.) agar negeri kita aman dan damai,” ujarnya.

Luhut juga mengatakan, pihaknya membahas mengenai petisi yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo dari Ponpes tersebut tahun lalu. Petisi tersebut berisi permohonan perubahan istilah “Kemerdekaan Republik Indonesia” menjadi “Kemerdekaan Bangsa Indonesia”. Luhut mengatakan, “Itu sangat masuk akal, menarik untuk dikaji dan dicermati lebih dalam lagi mengenai perubahan istilah tersebut.”

 

Luhut menyatakan sangat kagum dengan peran Kiai Muchtar selama ini. Menurutnya, sebagai seorang tokoh ulama yang sudah berusia 90 tahunan, Kiai Muchtar masih konsisten memberikan nilai-nilai yang mendalam mengenai istilah “Kemerdekaan Republik Indonesia” atau “Kemerdekaan Bangsa Indonesia”.

Bagi Luhut pandangan-pandangan Kiai Muchtar menunjukkan pemahaman mengenai filosofi nilai-nilai kebangsaan sangat baik. “Beliau  bisa memberikan pengayoman bahwa Indonesia harus tetap utuh sehingga generasi dapat membangun bangsa ini dengan baik,” pujinya.

Di tahun 2016 dalam acara tasyakuran kemerdekaan Republik Indonesia ke 71, Kiai KH Muchtar Mu’thi, selaku Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah mengeluarkan petisi yang berisi tiga usulan kepada pemerintah Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Petisi yang diajukan tersebut berisi tiga hal. Pertama,  memohon perkenan presiden untuk mengeluarkan Keppres tentang penggunaan istilah “Kemerdekaan Bangsa Indonesia” dalam setiap peringatan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus. kedua, mensosialisakan Keppres tersebut di lingkungan pemerintahan di semua tingkatan dan masyarakat pada umumnya. Tiga, dengan terbitnya Keppres tersebut tidak akan ada lagi penyebutan “Kemerdekaan Republik Indonesia”.

Republik Indonesia berdiri pada tanggal 18 Agustus 1945 ketika PPKI mengadakan rapat pertama kali. Rapat tersebut antara lain memilih dan menetapkan Sukarno sebagai presiden dan Hatta sebagai wakil presiden. Jadi Republik Indonesia lahir setelah proklamasi, bukannya bersamaan, seperti selama ini dipersespsi secara luas.

Petisi itu sendiri, selain ditandatangani sang Mursid, juga ditandatangani Bupati Jombang Nyono W Soeharli, Ketua DPRD Jombang Joko Triono dan ribuan santri.

Usai mengunjungi KH Muchtar Mu’thi, Luhut beserta rombongan menyempatkan meninjau ke Jembatan Ploso. Setelah itu rombongan meluncur ke Ponpes Mambaul Ma’arif di Denanyar, Jombang.

Pondok Mambaul Ma’arif didirikan KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri jam’iyah NU dan Rais Am PBNU ketiga sepeninggal Rais Akbar KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah. Kiai Bisri yang juga kakek Gus Dur dari garis ibu itu dikenal sebagai ulama ahli fiqih yang konsisten dan tegas.

Kiai Bisri pernah menjadi tokoh paling penting di PPP setelah Partai NU diharuskan berfusi ke PPP dengan partai berbasis Islam lainnya di era awal Orde Baru. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here