Ma’atenu, Tradisi Kebal Senjata Tajam Ala Maluku Tengah

0
644
Seorang pemuda mengiris-iris bibirnya dengan senjata tajam

Nusantara.news – Kebal senjata bukan hal baru bagi masyarakat kepulauan nusantara. Di Banten orang mengenalnya dengan nama debus, di kalangan suku Banjar, Kalimantan Selatan, dikenal pula tradisi bataguh, dan di Pulau Haruku, Maluku Tengah, ada juga tradisi unik sejenis itu.

Letak Pulau Haruku, sebuah Kecamatan di Kabupaten Maluku Tengah

Tradisi unik itu dikenal dengan nama Ma’atenu yang hanya dimiliki oleh warga Desa Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Ma’atenu adalah uji kekebalan senjata, semacam Debus di Banten, yang disakralkan oleh warga desa setempat.

Kabarnya, tradisi Ma;atenu sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Ritual Ma’atenu sekaligus menggambarkan, betapa heroiknya pejuang-pejuang desa Pelauw mengusir penjajah Belanda.

Tradisi Ma’atenu diselenggarakan setiap tiga tahun sekali. Terakhir tradisi itu digelar pada 12 Maret 2015 yang lalu. Peserta Ma’atenu adalah lelaki dewasa asal Desa Pelauw atau setidaknya memiliki garis keturunan dengan warga desa Pelauw.

Tokoh adat dari bermacam marga (Soa) mengantar peserta Ma’atanu

Tak ada ritual khusus untuk ikut Ma’atenu. Siapa pun lelaki, asal seizin orang tua bagi yang masih memiliki orang tua, boleh ikut. Tidak mengherankan bila pesertanya mencapai ribuan orang.

Kekebalan senjata tajam, bagi orang Pelauw, diyakini sudah diwariskan secara turun-temurun dari para leluhurnya. Siapapun orang keturunan Pelauw memiliki kekuatan tersembunyi itu yang akan muncul ketika terdesak dalam menghadapi bahaya. Ketika dalam kondisi Ka’a atau trance itulah mereka kebal dari segala jenis senjata tajam.

Namun sebelumnya peserta Ma’atenu wajib menggunduli rambutnya, kemudian menyiapkan senjata tajamnya, baik itu pedang, golok, kelewang, silet, pisau cuter, beling, bahkan kampak.

Sebelum memasuki hari H Ma’atenu, peserta harus mengasah senjata tajamnya hingga setajam mungkin.. Tak jarang, saat mengasah senjata tajam, ada peserta yang sudah Ka’a atau Trance, meraung-raung histeris sambil memotong dan menyayat-nyayat bagian tubuhnya. Tapi aneh, tak ada luka sedikit pun.

Ada kalanya saat mengasah senjata tajam ada yang sudah Ka’a (trance) duluan

Memasuki hari H Ma’atenu, setiap peserta keluar dari rumah masing-masing menuju Rumah Soa atau Rumah Adat dan diantar oleh masing-masing orang tua atau sesepuh.. Sesampainya di Rumah Soa masing-masing (sesuai dengan tiap-tiap Marga), para peserta dikumpulkan dan dipakaikan pakaian serba putih, ikat kepala putih dan ikat pinggang atau sabuk merah.

Setelah semua peserta mengenakan pakaian adat serba putih itu, maka Kepala Soa melepaskan peserta menuju Soa Induk yang terbagi 3 (tiga) kelompok yaitu Kelompok Laturima yang terdiri dari Soa Latuconsina, Latupono, Latuamury, Sahubawa dan Talaohu.

Kelompok kedua yaitu Kelompok Waelapia yang terdiri dari Soa Tuasikal, Tualeka dan Tuahena.. Sedangkan kelompok ketiga yaitu Kelompok Waelurui yang terdiri dari Soa Salampessy, Tualepe, Tuankotta, Tuakia dan Angkotasan.

Sepanjang perjalanan menuju Soa Induk, para peserta dalam keadaan Ka’a atau Trance memotong-memotong dan menyayat anggota tubuhnya dengan segala jenis senjata tajam..

Dan ketika para peserta Ma’atenu melintas di depan keluarganya yang sementara berdiri menonton, keluarga mereka pun ikut Ka’a, baik Ibu-Ibu maupun remaja putri..

Sesampainya di Soa Induk, seluruh peserta yang terdiri dari beberapa Marga atau Soa itu, dilepas oleh tetua adat dan dipimpin oleh seorang Ma’ahala Lahat atau Panglima Perang yang selalu berada paling depan dari para peserta Ma’atenu..

Peserta Ma’atenu dalam jumlah ribuan itu pun beratraksi dengan senjata tajamn masing-masing.. Suasana mistis nan sakral sangat terasa.. Bulu kuduk penonton pun sontak merinding melihat atraksi demi atraksi peserta Ma’atenu yang menyayat, mengiris, memotong dan menusuk anggota tubuhnya dengan senjata tajam.

Jadi memang, perlu persiapan mental yang tangguh untuk sekedar melihat pertunjukan ini. Mau lihat prosesinya? Tunggu di tahun 2018 nanti. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here