Macron Cemas, Populisme “Mengunyah” Jantung Eropa

0
92
Macron berpidato tentang penyelamatan demokrasi di Parlemen Eropa Strasbourg

Nusantara.news, Strasbourg – Presiden Perancis Emmanuel Macron cemas atas hasil pemilihan umum (Pemilu) di dua negara Uni Eropa – masing-masing Hongaria yang selama tiga kali berturut-turut memenangkan pemimpin sayap kanan Victor Orban dan kemenangan besar dua partai pinggiran di Italia.

Macron, sebagaimana dikutip dari judul berita BBC, mendesak Uni Eropa  menghindari nasionalisme khas Eropa yang anti-pendatang. Presiden yang belum berusia 40 tahun itu juga mengingatkan tentang kemungkinan terjadinya perang sipil Eropa – antara demokrasi liberal dan meningkatnya otoritarianisme.

Saat berpidato di hadapan parlemen Uni Eropa, Macron dengan penuh semangat mendesak Uni Eropa memperbarui komitmennya terhadap demokrasi. “Saya tidak ingin menjadi bagian dari generasi sleepwalker yang melupakan masa lalunya sendiri,” tandas Macron.

Anti Pendatang

Persoalan warga pendatang (migrant) di tengah kelesuan ekonomi dunia yang menjalar ke sejumlah negara menjadi trigger bangkitnya populisme di jantung Eropa. Perdana Menteri sayap kanan Hongaria Victor Orban yang mengobarkan “Perang Salib” dengan menawarkan Kristen sebagai identitas Eropa mendapatkan sambutan hangat warganya yang rata-rata hidup miskin dan berpendidikan rendah.

Peta Hungaria

Dalam sejarahnya Bangsa Hongaria memang bermasalah dengan bangsa asing (Secara khusus akan disajikan Nusantara.news pada Sabtu besok).  Narasi anti pendatang – khususnya muslim – terus dia gali dan eksploitasi untuk membakar simpati pemilih.

“Kami tidak akan membiarkan Hongaria menjadi negara target bagi para imigran. Kami tidak ingin melihat melihat minoritas menggoyahkan karakter dan latar belakang budaya yang berbeda di antara kami. Kami ingin menjaga Hongaria sebagai Hongaria,” ungkapnya saat berpidato yang disiarkan oleh TV Hongaria.

Sedangkan Pemilu di Italia yang kini negara paling makmur ketiga di Uni Eropa setelah Inggris berhasil mengangkat 2 partai pinggiran menjadi partai arus utama – masing-masing Partai Gerakan Bintang Lima dan Partai Liga dengan platform tegas anti pendatang. Bahkan Partai Gerakan Bintang Lima tampil sebagai pemenang dengan Raihan suara 32,22% dan Partai Liga tampil sebagai pemenang ketiga dengan suara 17,69%.

Data Imigran Gelap Italia/ BBC

Kedua partai pinggiran yang kini menjadi partai utama hampir meraih suara mayoritas di Parlemen untuk membangun koalisi. Satu-satunya koalisi tanpa melibatkan banyak partai hanya bisa dibangun kalau Bintang Lima bisa mendekat Partai Demokrat yang berhalauan kiri tengah. Partai Demokrat sebagai pemenang kedua meraih 18,9%.

Sedangkan Partai Forza yang mengantarkan Silvio Berlusconi membangun kekuatan politik tak tertandingi sejak 1994 kini terpuruk di posisi ke-4 dengan raihan suara 13,94%. Di bawahnya ada Partai Persaudaraan Italia 4,35% dan Partai Sayap Kiri “Kebebasan dan Persamaan” yang hanya meraih 3,38%. Partai Forza, Partai Liga dan Partai Demokrat masih memungkinkan membentuk pemerintahan apabila Bintang Merah dan Partai Demokrat gagal membangun pemerintahan koalisi.

Agenda Macron

Dalam pidatonya tampak sekali Macron mencemaskan kemenangan partai-partai populis – baik di Hongaria maupun Italia. Untuk itu Macron mengingatkan generasi baru yang terputus dari sejarah Perang Dunia II untuk membela demokrasi. Dia pun – cetus analis BBC News di Strasbourg Adam Fleming membangun narasi “perang sipil” antara otoriterianisme Vs liberalisme.

Macron dan partainya La République en Marche (LREM) yang berhaluan liberal memang memenangkan Pemilu di Perancis dengan platform yang sangat pro-Uni Eropa. Tapi perlu pula dicatat partisipasi pemilih yang memenangkan Macron pada putaran kedua di bawah 50%. Dengan demikian Macron tidak memiliki mandat yang cukup kuat di negerinya sendiri.

Kalangan kiri tengah di Perancis yang diwakili Partai Sosialis kemungkinan besar tidak datang ke tempat pemilihan. Pemogokan buruh kereta-api di Perancis telah melakukan pemogokan yang mengganggu pemerintahannya. Namun Macron yang pernah menjadi kader Partai Sosialis justru menjadi idola baru di kalangan konservatif dan banyak meraih suara dari kalangan ini saat pemilu putaran kedua melawan Marine Le Pen.

Tapi Macron cukup percaya diri “memanggul salib” tetap tegaknya liberalism di bumi Eropa dan mengecam keras ancaman terhadap keyakinannya itu. “Saya ingin mejadi bagian dari generasi  yang akan mempertahankan kedaulatan Eropa karena kami telah berjuang untuk mendapatkannya,” ucapnya berapi-api.

Demo anti pemerintah di Hongaria

Tahun 2017 saat berkampanye putaran kedua, lawan Macron adalah Marine Le Pen – seorang pemimpin partai Front Nasional – yang mengecam keras Uni Eropa. Namun Macron menentang keras gagasan lawan politiknya dengan gagasan reformasi Uni Eropa. Bahkan untuk mengisi kas Uni Eropa yang berkurang setelah ditinggalkan Inggris, Macron menyatakan Perancis siap membayar lebih banyak ke kas Uni Eropa.

Dalam debatnya dengan anggota Parlemen setelah dia selesai berpidato, Macron menegaskan ingin menjaga Inggris tetap berhubungan dekat dengan Uni Eropa. Dia mengatakan harus ada “penghargaan penuh” atas kebebasan pasar tunggal Uni Eropa, yaitu pergerakan bebas barang, jasa,modal dan orang.

Macron juga berharap banyak dengan Jerman – dalam konteks Uni Eropa – terutama bahaimana mangatasi perubahan iklim, masalah lingkungan, kesehatan, hak minoritas dan privacy. Dia berharap Perancis dan Jerman berada di barisan depan reformasi zona eropa yang ambisius – termasuk mengubah dana bailout – dari Europe Security Mechanism  – menjadi Dana Moneter Eropa. Atau semacam International Monetary Fund (IMF) di Eropa.

Ide dasar Macron yang memang berlatar-belakang perbankan – bagaimana Europe Monetary Fund dapat mengatasi masalah utang negara dan krisis keuangan lainnya sebelum menjalar ke Uni Eropa secara keseluruhan. Setelah Uni Eropa menghadapi krisis keuangan di Yunani, juga masih terhuyung mengatasi persoalan keuangan di Spanyol.

Sayangnya Kanselir Jerman Angela Markel dari Persatuan Kristen Demokrat Jerman (CDU) masih waspada terhadap skema apa pun yang bisa membuat negara-negara kaya harus memikul tanggung jawab atas utang mitra yang lebih miskin.

Set-piece dari pidato Macron di Strasbourg sesungguhnya memaparkan visinya untuk reformasi uni eropa untuk pertumbuhan nasional yang mencakup 28 negara/ Sedangkan masing-masing negara Uni Eropa menghadapi persoalan yang berbeda-beda. Setelah krisis keuangan memukul Yunani kini Italia dibuat sibuk oleh persoalan imigran tak berdokumen yang selama 4 tahun terakhir mencapai sekitar 600 ribu jiwa.

Di samping itu ada pula kegelisahan dalam menghadapi sepak terjang Rusia yang dicurigai akan membunuh demokrasi liberal lewat penyebaran “berita palsu” di media sosial. Maka para anggota parlemen memuji Macron saat dia berujar – demokrasi adalah kata dengan makna yang muncul dari pertempuran masa lalu.

Namun Macron akan menghadapi tantangan besar menjelang pemilihan Eropa 2019 karena LREM – partai baru yang didirikannya di Perancis – bukan milik satu di antara kelompok utama di Parlemen Eropa. Gagasan reformasinya yang ideologis belum mendapatkan pijakan kokoh dari kekuatan-kekuatan politik di Uni Eropa yang kini terancam oleh bangkitnya populisme. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here