Macron Menang Berkat Gelorakan Liberte, Egalite dan Fraternite

0
101
Presiden terpilih Prancis Emmanuel Macron dan istrinya Brigitte Trogneux merayakan di atas panggung di reli kemenangannya di dekat Louvre di Paris, Prancis, Minggu (7/5). ANTARA FOTO/REUTERS/Benoit Tessier/cfo/17

Nusantara.news, Jakarta – Slogan revolusi Perancis Liberte (Kebebasan), Egalite (Kesetaraan) dan Fraternite (Persaudaraan) seolah mewarnai kemenangan Emmanuel Macron dalam Pemilu Presiden Perancis, Minggu (7/5) kemarin.

Setidaknya itulah yang diucapkan Presiden Dewan Eropa Donald Tusk saat mengomentari kemenangan Macron sekaligus memberikan ucapan selamat padanya. “Kemenangan Macron sebagai bukti Rakyat Perancis tetap memilih kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan,” ungkapnya pada Senin (8/5) tadi.

Hasil gambar untuk kampanye macron

Ucapan Tusk sepertinya mewakili perasaan 65,9% pemilih Macron yang sudah pasti didukung oleh mayoritas imigran (pendatang berkewarganegaraan Perancis). Sebab selain imigran, Perancis juga dihuni oleh warga pendatang yang bukan warga negara Perancis, atau dalam bahasa setempat disebut “etranger.” Sedangkan yang sudah berkewarganegaraan Perancis disebut “immigre”.

Jumlah immigre sebesar 8,3% (5.253.000) dari keseluruhan populasi berkewarganegaran Perancis yang mencapai 63.713.926 jiwa (2010) sebenarnya kurang signifikan untuk memenangkan Macron. Namun “ideologi” Kebebasan, Kesamaan dan Persaudaraan yang sudah establish di kalangan pemimpin dan warga negara Perancis membuat Le Pen yang dianggap keluar dari “ideologi” itu dianggap musuh bersama yang dianggap menjadi faktor kemenangan Macron.

Padahal, persoalan bangsa pendatang bukan persoalan sepele di Perancis. Di sejumlah kasus pemerintah Perancis sendiri dibuat repot oleh kenakalan remaja dan isu terorisme yang mengarah ke warga negara pendatang. Isu pembatasan pendatang sudah diterapkan oleh Presiden Sarkozy meskipun mendapat penentangan dari para penggiat hak-hak azasi manusia di Eropa.

Tidak mengherankan apabila Marine Le Pen yang mengikuti jejak ayahnya lolos ke putaran kedua Pilpres Perancis menggelorakan isu anti-pendatang, anti-globalisasi, anti-Muslim dan anti-Uni Eropa. “Kita harus membebaskan diri dari kalangan elite yang mendikte rakyat bagaimana mereka harus bersikap,” begitu ucap Le Pen dalam kampanyenya sekaligus menyebutkan diri sebagai kandidat rakyat.

Tampilnya Marine Le Pen yang bersama Macron mampu mengalahkan 9 kandidat lainnya dalam Pilpres Perancis putaran pertama yang diikuti 11 kandidat sebenarnya sebuah sinyal tentang keinginan yang kuat dari rakyat Perancis untuk perubahan. Kedua kandidat itu setidaknya telah mengalahkan kandidat dari Partai Sosialis dan Partai Republik berhalauan konservatif yang biasanya bersaing ketat dalam perebutan jabatan presiden.

Marine Le Pen adalah Ketua Partai Front Nasional yang diwariskan oleh ayahnya, Jean Marie Le Pen. Pada babak pertama, Le Pen meraih 6,9 juta pemilih (21,4%). Dalam sejarahnya, Partai Front Nasional baru dua kali mengantarkan ketuanya maju ke putaran kedua Pilpres Perancis. Sebelumnya, ayah Marine, Jean Marry Le Pen juga maju ke putaran kedua pada Pilpres 2002 dan dikalahkan oleh calon petahana Jacques Chirac.

Hasil gambar untuk kampanye macron

Macron sendiri yang sebelumnya berkiprah di Partai Sosialis menyatakan mundur dari partai establish itu pada Agustus 2016. Sejak itu dia lebih fokus mengurus Partai Gerakan Maju! (En March!) yang dia dirikan bersama sejumlah relawan pada April 2016. Ternyata partai yang baru berusia setahun itu membawanya ke kursi presiden, dan itu juga sejarah baru bagi Perancis.

Dalam pilpres putaran pertama, Macron yang dalam setiap kampanye menyertakan bendera Perancis dan Uni Eropa secara berdampingan meraih 23,9% suara. Pilpres putaran pertama di Perancis hanya diikuti oleh 69,9% dari 47 juta warga negara Perancis yang memiliki hak pilih. Macron dan Le Pen mampu mengkandaskan dua kandidat dari partai mapan, masing-masing Benoit Hamon dari Partai Sosialis dan Francois Fillon dari Partai Republik.

Namun sebelum pilpres putaran kedua berlangsung, kedua kandidat dari partai mapan yang kandas di putaran pertama sudah menyatakan dukungannya kepada Emmanuel Macron. Hamon secara terbuka di hadapan pendukungnya menyatakan dukungannya kepada “pengkhianat” partainya. “Saya mendukung Macron bahkan jika dia bukan dari sayap kiri sekalipun,” cetusnya.

Sedangkan Fillon yang sebelum skandal korupsinya diunggah ke publik tercatat sebagai kandidat terkuat tampaknya masih menyimpan dendam kepada Le Pen. Dia menyebut Front Nasional memiliki sejarah buruk kekerasan dan intoleransi. “Kita harus memilih yang lebih baik untuk negara kita, dan saya tidak akan bersuka cita, terutama ketika partai ekstrimis hampir berkuasa,” tuturnya.

Ternyata dukungan dua mantan pesaing dari partai yang sebenarnya selalu berseberangan itu menjadikan Macron mengukir sejarah baru bagi Perancis, baik soal usianya yang masih 39 tahun maupun usia partainya yang baru satu tahun namun mampu mengantarnya menjadi Presiden Perancis ke-25 atau Presiden ke-8 dari Republik ke-5 Perancis, karena sejak Revolusi Perancis sistem ketatanegaraan Perancis memang berubah-ubah.

Tapi yang jelas, kemenangan Macron yang didukung oleh sejumlah partai berseberangan telah mewarisi semangat kebebasan, keseteraan dan persaudaraan yang bergelora saat Revolusi Perancis 14 Juli 1789. Terus kapan munculnya tokoh muda Indonesia yang mewarisi Revolusi 17 Agustus 1945? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here