Macron Menang, Presiden Termuda Sepanjang Sejarah Perancis

0
394
Calon presiden Prancis Emmanuel Macron, kepala pergerakan politik En Marche!, atau Maju! menyambut pendukungnya saat meninggalkan tempat pemungutan suara putaran kedua pemilihan presiden Prancis 2017 di Le Touquet, Prancis, Minggu (7/5). ANTARA FOTO/REUTERS/Philippe Wojazer

Nusantara.news, Paris – Sebagaimana prediksi sejumlah jajak pendapat sebelumnya, Emmanuel Macron akhirnya memenangkan Pemilu Presiden (Pilpres) Perancis pada Minggu (7/5) kemarin. Mantan Menteri Ekonomi dalam Kabinet Presiden Perancis sebelumnya, Hollande, ini sukses mengandaskan politisi Kanan Habis Marine Le Pen dengan perbandingan suara 65%:35%.

Dengan demikian Macron yang usianya baru 39 tahun akan tercatat sebagai Presiden termuda dalam sejarah Perancis. Kemenangan Macron dan juga tampilnya Marine Le Pen ke babak final Pilpres Perancis disebut-sebut sebagai kemuakan masyarakat Perancis terhadap establishment.

Sepanjang sejarahnya, pertarungan memperebutkan jabatan Presiden di Perancis selalu melibatkan persaingan sengit antara Partai Sosialis dan Partai Republik. Namun secara tidak terduga , dua kandidat yang bukan dari keduanya maju dalam babak final Pilpres Perancis 2017 ini.

Emanuele Macron sang pemenang Pilpres Perancis dengan selisih 30% ini berasal dari Gerakan Kemajuan (En March!), sebuah gerakan independen yang baru satu tahun dia bentuk dengan melibatkan sejumlah relawan. Sedangkan lawannya Marine Le Pen berasal dari partai sayap kanan jauh yang selama ini hanya menjadi kelompok sempalan.

Namun Macron bukan orang yang benar-benar baru dalam politik Perancis. Sebelum mendirikan Gerakan En March! dia adalah politisi dari Partai Sosialis. Selama menjadi kader partai Macron menikmati jabatan Menteri Ekonomi di bawah Presiden Hollande. Maka banyak kalangan yang menganggap sebenarnya Macron bagian dari establishment.

Sebenarnya Macron bisa saja menggunakan Partai Sosialis sebagai kendaraan politinya. Namun runtuhnya citra partai membuatnya lebih percaya kepada gerakan En March! yang baru setahun dibentuknya. Terbukti gerakan ini mampu mengalahkan para kandidat Presiden dari partai-partai politik yang lebih senior dan lebih mapan.

Kemenangan Macron adalah sebuah gejala politik baru di berbagai belahan dunia, yaitu ketika orang-orang muak dan ingin membersihkan ruang politik dari tokoh-tokoh tua dengan pikiran-pikiran lama yang mengabaikan perubahan generasi.

Macron memang bukan 100 persen orang baru. Tapi usianya yang sangat muda, baru 39 tahun, lebih dianggap sebagai tokoh yang lebih fresh dibandingkan para pesaingnya. Gagasan-gagasannya yang ingin tetap bersama Uni Eropa dianggap lebih masuk akal ketimbang gagasan Marine Le Pen yang juga anak tokoh nasionalis garis keras Jean Marie Le Pen yang ingin pisah dari Uni Eropa.

Maka tidak mengherankan bila kemenangan Macron juga disambut gembira oleh Kanselir Jerman Angela Markel. “Kemenangan Macron adalah juga kemenangan bagi Eropa yang kuat dan bersatu,” tuturnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here