Magetan, The Beauty of Java

0
352
Acara kenduri massal dengan membawa tumpeng di tepi Telaga Sarangan, Magetan, ini bisa menjadi daya tarik wisata kota di kaki Gunung Lawu ini.

Nusantara.news, Surabaya – Kabupaten Magetan adalah salah satu daerah di Jawa Timur yang mempunyai potensi pariwisata sangat besar sekali. Kota di kaki pegunungan ini memang kecil, namun banyak harta karun yang belum terungkap. Jika digali dengan serius tidak menutup kemungkinan akan berdampak pada perekonomian Magetan itu sendiri. Beranikah Magetan menjadikan pariwisata sebagai arah tujuan pembangunan?

Pengamat ekonomi sekaligus Dewan Penentu Kebijakan Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Jawa Timur ini Arief Rahman, mengungkapkan, Magetan harus bercermin pada Kota Batu. Hanya dengan tiga kecamatan dan jumlah penduduknya 200 ribu jiwa, terdongkrak perekonomiannya oleh kemajuan sektor pariwisata yang memang menjadi visi utama pemerintah.

Hasilnya dalam 10 tahun ini bisa dilihat. Wisatawan dari hanya 900 ribu per tahun melonjak hingga 3,95 juta tahun 2016 lalu. Otomatis PDRB (Produk Domestik Regional Bruto, red) juga melompat. Tahun 2009 masih di kisaran Rp2,5 triliun, kini sudah menembus Rp11 triliun.

“Ini berarti ekonomi jalan dan tumbuh pesat. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batu tahun 2016 bisa sampai Rp124 miliar. Sementara Magetan dengan jumlah penduduk 821 ribu jiwa, PAD nya masih di kisaran Rp140 miliar,” jelasnya kepada Nusantara.news, Jumat (26/5/2017).

Lokomotif Ekonomi

Arief juga menambahkan, demi kemajuan, Magetan harus jadikan pariwisata sebagai arah pembangunan. Tidak ada pilihan lain bagi Magetan selain menjadi sebuah kota wisata berwawasan ecotourism ditunjang dengan pertanian dengan konsep agrowisata dan agropolitan. Menurutnya, konsep strategis pembangunan daerah kabupaten/kota di Jawa Timur berbasis potensi lokal dan karakter unik daerah.

Seperti diketahui target pemerintahan Jokowi-JK untuk mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia pada tahun 2019 merupakan tantangan sekaligus kesempatan emas. “Setidaknya ini visi cerdas yang harus ditangkap oleh Magetan yang sejak lama ingin menjadi destinasi wisata unggulan dengan tagline “Magetan The Beauty of Java”,” katanya.

Arief Rahman yang asli Magetan ini sangat yakin sektor pariwisata lah yang akan mampu menjadi lokomotif pembangunan ekonomi menuju kemakmuran. Karakter unik daerah Magetan, menurut Arief, sangat tepat dijadikan kota wisata.

“Lihat saja dari letak geografis, berada di perbatasan Jatim dan Jateng. Situasi topografi yang berada di kaki Gunung Lawu, suhu dan iklimnya, serta aspek sosial budayanya, paling pas Magetan dikembangkan sebagai destinasi wisata skala nasional bahkan internasional. Apalagi Magetan punya ikon Telaga Sarangan yang sudah populer dan melegenda,” papar Arief Rahman.

Sektor pariwisata lanjut Arief Rahman, bila digarap secara serius dan maksimal dipastikan bisa melejitkan perekonomian masyarakat Magetan. Menurutnya, efek berantai pariwisata ini  luar biasa. Ini ibarat lokomotif yang bisa menarik ‘gerbong-gerbong’ sektor primadona lain di Magetan seperti pertanian, industri kulit, kerajinan, perkebunan, peternakan, pedagangan, kuliner dan jasa. Muaranya nanti lapangan kerja baru terbuka, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan rakyat.

“Bagi saya tidak ada pilihan lain bagi Magetan selain menjadikan pariwisata sebagai prioritas pembangunan. Sektor lain sebagai pendukung untuk terwujudnya visi tersebut. Semua tetap jalan,” pungkas kandidat doktor Ilmu Manajemen Universitas Airlangga di bidang Manajemen Strategi ini.

Senada, Dwi Cahyono, Ketua BPPD Jawa Timur yang juga pemilik Museum Resto Inggil Malang ini mengatakan, banyak ‘harta karun’ wisata Magetan belum terungkap. “Era tourism lifestyle sekarang ini, hampir semua sudut wilayah dapat disulap menjadi obyek wisata. Meski yang tidak mempunyai modal, setiap potensi obyek bisa segera berjubel pengunjung hanya karena keajaiban sosial media,” kata penggagas dan pemilik hak cipta Festival Malang Tempoe Doeloe ini.

Menurut Dwi, syarat menarik wisatawan dari sebuah obyek bisa dari sisi geografis, keunikan, akses, juga kesejarahan. “Magetan sangat beruntung. Mempunyai satu faktor saja bisa menghidupi seluruh wilayah, apalagi Magetan mempunyai hampir semua syarat tersebut,” kata Dwi Cahyono yang dikenal sebagai pelestari cagar budaya di Malang.

Dwi Cahyono menambahkan, sudah saatnya magetan berdiri tegak dengan menjadikan pariwisata sebagai leading sector. Sudah waktunya PAD Magetan melampaui kota-kota pariwisata lainnya di Jatim. “Saatnya Magetan menuai harta karun yang dimilikinya,” tegas Dwi Cahyono.

“Pertanyaanya sekarang, beranikah Magetan menjadikan pariwisata sebagai arah tujuan pembangunan. Jika kota lain yang tidak punya potensi besar sisi pariwisata saja berani mempertaruhkan strategi jangka panjangnya pada pariwisata, bagaimana Magetan?” tantangnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here