Magnet Trah Cendana bagi Kemenangan Prabowo

0
160
Enam anak Presiden Soeharto berlabuh ke Partai Berkarya dan mendukung Prabowo Subianto di Pilpres 2019

Nusantara.news, Jakarta – Selepas Presiden Soeharto lengser dari tampuk kekuasaan Orde Baru, untuk beberapa saat Keluarga Cendana seperti tiarap dalam urusan politik. Kini mereka bangkit kembali, utamanya lewat Partai Berkarya besutan Tommy Soeharto dan kiprah gemilang Titiek Soeharto di Partai Golkar sebelum akhirnya “hijrah” ke Partai Berkarya. Mereka kembali ke gelanggang politik dengan mendukung capres Prabowo Subianto di Pilpres 2019. Namun apakah wangi cendana itu masih semerbak bagi publik di tanah air?

Tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, jika melihat kiprah anak-anak Cendana saat ini, mungkin keharuman citra Keluarga Cendana belum akan usai, setidaknya jelang gelaran Pilpres 2019 mendatang. Kini kehadirannya mencoba menawarkan romantisme era Soeharto dan mengembalikan program positif Orde Baru seperti Rencana Pembangunan Lima Tahunan (Repelita) dan Trilogi Pembangunan (Stabilitas Politik, Pertumbuhan Ekonomi, dan Pemerataan), juga mimpi harga-harga kebutuhan yang murah.

Keluarga Cendana memang masih menjadi kekuatan utama dalam konstelasi politik nasional pasca reformasi 1998. Bahkan, anak-anak Soeharto ini diprediksi masih akan menjadi faktor kunci yang menentukan hasil akhir kontestasi politik di tahun depan. Isu Orde Baru dengan Soeharto di dalamnya memang menjadi salah satu bahan kampanye politik dan dikemas dengan masing-masing perspektif oleh kandidat yang akan bertarung, baik Prabowo Subianto maupun Joko Widodo (Jokowi).

Kubu Prabowo menjadi tempat berkumpulnya anak-anak Soeharto. Kini semua anak Soeharto, mulai dari Siti Hardiyanti Hastuti (Tutut), Sigit Harjojudanto (Sigit), Bambang Trihatmodjo (Bambang), Siti Hediati Harijadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy) hingga Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek) telah masuk menjadi bagian dari Partai Berkarya. Partai yang didirikan oleh Tommy itu pun telah menjadi bagian dari koalisi pemenangan Prabowo.

Selain itu, faktor Prabowo yang pernah menjadi suami dari Titiek pun memperkuat kedekatan kedua kubu ini. Maka, kampanye Prabowo pun diwarnai oleh isu “membangun kembali” kesuksesan era tersebut.

Perdebatan lanjutannya adalah apakah konteks pangan dan kejayaan ekonomi saja yang ingin dikembalikan, atau konteks Orde Baru sebagai sebuah rezim yang diwarnai oleh kekuasaan otoritarianisme dan segala penyimpangan kekuasaan yang menjadi tujuannya? Konteks terakhir inilah yang diperdebatkan oleh kubu Prabowo. Sebagian besar memang hanya ingin menjual magnet Orde Baru dari sisi keberhasilan ekonomi.

Sementara di kubu Jokowi, menggunakan semua hal yang berbau negatif tentang Orde Baru untuk mendiskreditkan Prabowo. Model kampanye yang menyebutkan bahwa Prabowo adalah bagian dari kekuasaan elite lama, merupakan kontra-narasi yang digunakan untuk membangun persepsi bahwa memilih mantan Danjen Kopassus itu, sama dengan membawa kembali Orde Baru dengan segala macam kekelamannya ke permukaan.

Sekilas, isu “Prabowo kroni Orba” mengingatkan masyarakat pada Pilpres 2014. Saat itu, Prabowo dihantam dengan tuduhan otoriter, antek Orba, hingga kasus pelanggaran HAM di seputaran 1998. Manuver politik semacam itu ternyata berhasil. Konten-konten negatif yang menghantam Prabowo melumpuhkan ambisi sang jenderal untuk menjadi presiden di 2014.

Sebaliknya, kemenangan Pilpres 2014 pun pada akhirnya jatuh ke tangan Jokowi, sebagai figur politik yang tidak punya hubungan dengan Orba. Jokowi disebut-sebut sebagai pemimpin yang memberikan harapan akan perubahan. Jokowi pun dianggap sebagai tokoh politik yang bersih dari pelanggaran HAM di masa lalu. Dia dilabeli pemimpin yang merakyat, sederhana, demokratis, dan jauh dari sikap otoriter– demikian banyak orang berpendapat kala itu.

Namun, jika ditelusuri, konteks kampanye kubu Jokowi yang kembali ingin melabeli Orde Baru pada kubu Prabowo cukup “berbahaya” bagi tingkat keterpilihan sang petahana. Sebab, setelah empat tahun menjabat sebagai presiden, sebagian masyarakat kian sadar, Jokowi sudah tak lagi seperti dulu. Banyak yang menilai Jokowi yang sekarang berbeda dengan Jokowi pada Pilpres 2014.

Jokowi tak lagi dianggap sebagai pembawa harapan dan perubahan. Jika dulu otoritarianisme selalu dikaitkan dengan Prabowo, kini tuduhan itu malah melekat dalam diri Jokowi. Jika sebelumnya telunjuk berwatak orde baru ditujukan ke Prabowo, saat ini sebagian orang menilai pemerintahan Jokowi serupa neo-orde baru, khususnya dari cara pengendalian kepada lawan-lawan politiknya.

Magnet Orde Baru

Bisa jadi, di Pilpres 2019 kali ini, mantan menantu Soeharto ini berpeluang mendapatkan lebih dari sekadar dukungan moril dan materil dari trah Cendana, tetapi juga pengaruh dan citra. Perlu diingat, Soeharto adalah pemimpin paling berhasil sepanjang sejarah republik ini menurut survei Indo Barometer pertengahan 2018 lalu. Jangan lupa juga, kecenderungan masyarakat pemilih (khususnya arus bawah) yang merindukan kehidupan ekonomi dan stabilitas keamanan seperti era Orde Baru, bisa menjadi berkah elektoral bagi Prabowo.

Artinya, menggunakan sosok Soeharto, Keluarga Cendana dan isu Orde Baru, berpeluang menjadi alat kampanye yang efektif bagi Prabowo. Bahkan, isu ini bisa mengantarkan Prabowo merengkuh kursi kekuasaan dengan memanfaatkan faktor pengaruh dan – tentu saja – faktor ekonomi-politik yang dimiliki Keluarga Cendana. Tentu dengan catatan, Prabowo cukup membatasi pada sisi keberhasilan ekonomi (semisal harga-harga murah, keberhasilan ekonomi, swasembada pangan, manajemen pemerintahan yang stabil dan berkelas), dan membuang sisi negatifnya: misalnya politik otoritarian, militeristik, oligarkis.

Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto dalam acara pembekalan relawan Pilpres di Istora Senaya, beberapa waktu lalu

Setidaknya terdapat beberapa alasan yang membuat masyarakat akan terpikat pada manuver kubu Prabowo yang mengusung citra Orde Baru dan mendapatkan dukungan dari trah Soeharto.

Pertama, masyarakat melihat performa partai politik yang selama ini berkuasa dinilai cukup mengecewakan, terutama perilaku politik uang dan banyaknya kasus korupsi yang menerpa elite partai politik. Orde reformasi dalam pandangan mereka, tidak lebih baik, bahkan justru makin memburuk (utamanya dari kehidupan ekonomi). Tingginya beban hidup karena kenaikan berbagai harga, tarif dan pajak di era Jokowi, membuat mereka melabuhkan harapannya pada kubu Prabowo yang didukung klan Orde Baru.

Kedua, Soeharto nampaknya masih memiliki loyalis yang cukup kuat hingga saat ini karena ternyata imajinasi publik pada masa jayanya Soeharto masih belum hilang. Publik yang lain cenderung melupakan praktik diktator rezim Orba tersebut. Kerinduan akan sosok presiden kedua Indonesia itu, khususnya bagi “generasi tua” yang pernah merasakan hidup tanpa beban ekonomi seberat sekarang, berdampak baik bagi masa depan politik trah Cendana.

Tak ayal, jargon “Piye Kabare, Isih Penak Zamanku toh?” hadir di ruang-ruang publik. Politik nostalgia ‘lebih enak era Soeharto’ ini memberi tempat bagi aktor politik Orde Baru untuk unjuk gigi lagi, termasuk keturunan Soeharto.

Di luar itu, mengapa hingga saat ini Keluarga Cendana masih sangat kuat secara politik di Indonesia, tak lain karena pada saat Reformasi 1998, yang terjadi hanyalah pergantian pucuk kekuasaan semata. Sementara, kekuasaan ekonomi dan sosial Keluarga Cendana dan Orde Baru yang sudah mengakar dalam sistem tetap bertahan. Jaring-jaring politik dan ekonomi trah Soeharto ini masih dianggap sebagai kekuatan ‘antitesis’ bagi elite politik saat ini yang kecenderungannya mengalami defisit kepercayaan dari publik.

Di titik inilah Keluarga Cendana masih memiliki peran dan pengaruh yang sangat besar untuk memuluskan Prabowo menuju RI-1 di Pilpres 2019. Prabowo jelas lebih diuntungkan berbekal kedekatannya dengan kelompok tersebut. Sementara bagi Jokowi, jika ingin merengkuh kursi kekuasaan untuk periode kedua, tidak ada cara lain selain membangun pendekatan yang berbeda dengan anak-anak Soeharto tersebut. Ketimbang menyatakan “perang terbuka”, adalah lebih bijak bagi Jokowi untuk melakukan pendekatan yang lebih politis terhadap anak-anak Soeharto ini.

Lepas dari apa pun, nyatanya Soeharto tak pernah benar-benar pergi. Ia seolah bereinkarnasi lewat anak-anaknya, mencoba menawarkan hal baru di panggung politik reformasi sembari merevisi segala cela yang pernah menempel di tampuk kuasanya. Akankah mereka kembali eksis? Apakah tuah mereka bisa mengantarkan Prabowo menjadi pemenang di Pilpres 2019? Biarkan rakyat yang menentukan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here