Mahasiswa dan DPRD Kritisi Pemberian Penghargaan WTN 2016 untuk Risma

0
264

Nusantara.news, Surabaya – Mahasiswa Surabaya kritisi pemberian penghargaan kepada Walikota Surabaya Tri Rismaharini di bidang lalu lintas dan angkutan umum. Penghargaan itu dinilai belum layak diberikan kepad Tisma terutama dalam kaitannya dengan angkutan umum yang masih amburadul.

Penghargaan Wahan Tata Nugraha (WTN) Tahun 2016 Kategori Bidang Lalu lintas dan Angkutan Umum dan Kota dianugrahkan kepada Walikota Surabaya Tri Riusmaharini, Selasa (31/1/2017).

“Penataan lalu lintas memang sudah baik. Beberapa kali walikota turun ke jalan mampu mengurai kemacetan. Tapi kalau ngomong angkutan umum, apanya yang baik? Sampai sekarang bus kota di Surabaya kondisinya ya begitu?,” kata Iman Mursyidi salah satu mahasiswa IAIN Surabaya kepada NUSANTARA.NEWS, di Surabaya, Selasa (31/1/2017).

Menurut Iman transportasi publik masih memble. “Jadi sebetulnya belum pantaslah Surabaya mendapat penghargaan seperti itu,” kata Iman lagi.

Anggota DPRD D Surabaya Vinsensius Awey mengapresiasi penghargaan WTN 2016 untuk Pemkot Surabaya. Namun, seperti mahasiswa, ia juga mengkritisi pemberian penghargaan itu.  “Tolok ukurnya apa? Kalau masalah lalu lintas, dibandingkan dengan kota metropolitan seperti Medan, Makassar, Bandung dan Jakarta, Surabaya memang lebih baik. Tapi, transportasi publik masih belum terlihat kehebatannya,” kritik Vinsensius saat dikonfirmasi wartawan.

Pantauan Nusantara.news di lapangan, dari segi penataan lalu lintas kota, Tri Rismaharini memang oke, lalulintas Kota Surabaya lebih baik ketimbang laluliuntas Jakarta. Tapi kalau angkutan umum masih belum maksimal dan perlu sitem pembenahan lebih lanjut.

Soal lalulintas juga tidak semua ruas jalan lancar. Iman mengaku sering terjebak kemacetan di Jalan A Yani, tepatnya ketika melintas di Jalan Wonokromo depan Rumah Sakit Islam hingga Jalan Urip Sumoharjo. “Dulu Walikota Risma berjanji membangun jalur transportasi massal, sayang sampai sekarang belum terealisasi. Sementara perluasan jalan masih belum optimal karena pengerjaannya tergolong lamban, dan sampai sekarang masih banyak galian yang harus disempurnakan,” jelasnya.

Simpul kemacetan di depan RS Islam itu sendiri menurut Iman, parah. Apalagi saat jam-jam kantor dan pulang kantor. Kondisi diperparah dengan adanya Supermall Royal Plaza dan Pasar Darmo Trade Center yang berdekatan dengan Stasiun Wonokromo.

“Jika melintas di Jalan Wonokromo bersamaan pada jam pulang kantor dan pada saat bersamaan penumpang Kereta Api turun, maka kita akan dihadapkan dengan kemacetan yang parah,” gemesnya.

Hal senada dikemukakan Untung yang tinggal di kawasan Sidoarjo. Untung juga mengaku mengalami hal yang sama setiap kali melintas di Jalan A Yani. Titik kemacetan yang paling parah terjadi di Wonokromo, selebihnya di Jalan Jemursari tepatnya di Bundaran Bulog Jatim.

“Surabaya kota macet. Terutama jam-jam kantor dan pulang kantor tepatnya sore hari jangan coba-coba melintas di Jalan A Yani (Wonokromo dan Jemursari) bisa macet total,” ungkapnya.

Rasio Jalan dan Kendaraan

Sebelumnya Kepala Dina Perhubungan Kota Surabaya Irvan Wahyu Drajat mengakui rasio pertumbuhan kendaraan bermotor dan panjang jalan di Surabaya tidak seimbang. Kapasitas Jalan A Yani dan volume kendaraan sudah tak seimbang.

“Penyebabnya, daya dukung jalan terus merosot. Dalam setahu lebar jalan hanya bertambah 4%, sementara pertumbuhan kendaraan lebih besar, mobil mencapai 5% sementara sepeda motor bisa mencapai 10%,” ungkapnya.

Data terakhir yang dhimpun dari Dishub Surabaya mencatat bahwa jumlah kendaraan bermotor yang melewati Jalan A Yani mencapai 310.991 unit/hari dari Sidoarjo menuju Surabaya atau sebaliknya. Sedangkan untuk mobil ada 71.586 unit, daya tampung jalan mencapai 3.310 perjam.

“Jika ditotal komposisi pengguna jalan sudah melebihi kapasitas jalan itu sendiri. Belum termasuk angkutan kota, bus, pic up, truk dan trailer. Jangan heran jika kecepatan saat melintas di Jalan A Yani sangat rendah seiring kepadatannya,” ungkapnya.

Meski demikian Irvan masih bisa berbangga diri, inovasi Dishub Surabaya terkait program ATCS-ITS dinilai bisa sedikit mengurai kemacetan di Kota Pahlawan. Menurut Irvan, hingga akhir tahun 2016, ATCS-ITS sudah terpasang sekitar 97 titik, dan target bisa mencapai 200 lebih sensor.

“Hingga akhir tahun 2016, sudah terdapat 97 titik ITS. Direncanakan pada tahun 2017 akan ditambahkan 17 titik ITS. Sedangkan untuk Kamera CCTV, hingga akhir tahun 2016 sudah terdapat 244 titik Kamera CCTV yang terdiri dari Kamera Fixed dan Kamera Surveillance, serta 288 Kamera Traffic Sensor,” ungkap Irvan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here