Mahasiswa Serang Menyemen Kaki Tolak Pabrik Air Minum Mayora Indah

0
234
Sejumlah aktifis lingkungan yang tergabung dalam ATOPSA (Aliansi Tolak Privatisasi Sumber Air) berunjuk rasa dengan mengecor kaki mereka di Bundaran Ciceri, Serang, Banten, Rabu (29/3). Dalam tuntutanya mereka menolak keras privatisasi sumber air, menuntut pencabutan izin usaha air kemasan PT Mayora Grup di Banten, serta menuntut pembebasan tiga petani yang ditangkap saat demo pembebasan sumber mata air di Baros. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/pras/17.

Nusantara.news, Jakarta – Kendati tiga warganya dijebloskan ke penjara, namun perlawanan rakyat Desa Cadasari, Kabupaten Pandegelang dan Baros, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, terus berlanjut. Bahkan perjuangan mereka menuai simpati mahasiswa setempat yang bergabung dalam Aliansi Tolak Privatisasi Air.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kehadiran Fresindo Jaya, anak perusahaan PT Mayora Indah yang mengokupasi sumber mata air di dua desa perbatasan Pandegelang dan Serang ditolak warga. Tindakan Fresindo Jaya yang menggunakan sumber mata air untuk pabrik kemasan minuman itu ditentang warga sejak lama.

Baca :  Perlawanan Terhadap Anak Perusahaan Mayora Berbuntut Intimidasi

Tindakan anak perusahaan PT Mayora itu juga ditentang penggiat lingkungan. Mereka berpandangan perizinan yang dikeluarkan Pemkab Pandegelang cacat hukum sebab bertentangan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang dibuatnya sendiri.

Bahkan RTRW itu diatur dalam Perda No.3 Tahun 2011 yang pada Pasal 31 ayat (1) dan ayat (2) secara gamblang menyebutkan Cadasari sebagai wilayah resapan air, selanjutnya pasal 35 ayat (4) menegaskan Cadasari sebagai kawasan lindung geologi (mata air) dan pasal 39 ayat (6) memasukan Cadasari sebagai kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Maka sejak 2014 masyarakat Cadasari dan tetangganya Baros yang terkena imbas langsung oleh berdirinya pabrik kemasan air minum menolak kehadiran Fresindo Jaya. Terakhir kali, saat warga bergerak ke kantor Bupati Pandegelang pada awal Februari lalu berujung penangkan tiga orang warga, masing-masing Bima, Puadi dan Sair yang dikriminalisasi dengan label provokator.

Sejumlah aktifis lingkungan yang tergabung dalam ATOPSA (Aliansi Tolak Privatisasi Sumber Air) berunjuk rasa dengan mengecor kaki dan menggelar aksi teatrikal di Bundaran Ciceri, Serang, Banten, Rabu (29/3). ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/pras/17

Namun intimidasi itu tidak meruntuhkan perjuangan petani di dua desa itu. Bahkan, Rabu (29/3) siang tadi, sejumlah mahasiswa yang bergabung dalam Aliansi Tolak Privatisasi Air (ATPA), melakukan aksi mengecor sepasang kaki. Perjuangan petani Kendeng tampaknya telah menginspirasi mereka.

Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Banten itu duduk-duduk santai saat proses penyemenan kaki mereka dimulai. Mereka hanya menggunakan caping yang biasa digunakan petani di Jawa. Aksi itu memang untuk mengingatkan kepada publik, konflik agraria yang terjadi di Cadasari dan Baros kurang lebih sama dengan yang dihadapi para petani Kendeng.

“Sebagaimana halnya petani Kendeng, petani di Cadasari dan Baros tidak pernah merdeka atas pengolahan tanah dan pemanfaatan sumber mata air untuk kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan orang per orang atau perusahaan. Namun sebagaimana kita saksikan bersama, sumber mata air yang dilindungi pasal 33 UUD 1945 kini jatuh ke tangan perusahaan,” demikian bunyi siaran pers mahasiswa yang diterima Nusantara.news, Kamis (30/3) dini hari.

Selain menggambarkan para petani yang dirugikan, aksi tersebut juga sebagai bentuk protes para mahasiswa terhadap perusahaan pengolahan air PT Tirta Fresindo Jaya di Baros dan Cadasari.

Perwakilan ATPA Haetami mengatakan, aksi ini mendesak pemerintah daerah untuk menutup PT Tirta Fresindo Jaya. “Kita menuntut agar PT Fresindo Jaya ditutup,” kata Haetami, di sela aksi di Jalan Jenderal Sudirman, depan Kampus IAIN SMH Banten, Ciceri, Kota Serang, Rabu (29/3) kemarin.

Selain itu, mereka juga mendukung masyarakat Kendeng dalam melawan PT Semen Indonesia. “Kami juga mendukung saudara kita di Kendeng dalam melakukan perlawanan atas korporasi. Baik nasib masyarakat Baros dan Cadasari maupun masyarakat Kendeng, sama melawan privatisasi air,” ungkapnya.

Gesekan antara petani dan pemilik perusahaan tersebut, menurut Haetami merupakan fenomena setumpuk masalah agraria di Indonesia. “Banyak masalah yang belum terselesaikan. Kami meminta kepada Presiden Jokowi untuk mencabut izin PT Fresindo di Provinsi Banten dan Pabrik Semen di Kendeng,” tuntut Haetami.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here