Mahkamah Konstitusi Sudah Dicita-citakan Saldi Sejak Kuliah

1
404
Saldi Isra mengucap sumpah sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) saat acara pelantikan yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Selasa (11/4). Saldi Isra menggantikan posisi Patrialis Akbar yang kini menjadi tersangka dalam kasus suap hakim MK setelah tertangkap tangan oleh KPK. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/aww/17.

Nusantara.news, Jakarta – Lewat Keputusan Presiden No.40P/2017 , Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas, Sumatera Barat, resmi diangkat menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), menggantikan Patrialis Akbar yang tersandung perkara suap.

“Demi Allah saya bersumpah menjalankan tugas sebagai hakim konstitusi dengan sebaik-baiknya, memegang teguh UUD 1945 dan menjalankan peraturan perundangan dengan selurus lurusnya serta berbakti kepada nusa dan bangsa,” demikian Saldi Isra mengucapkan sumpah di hadapan Presiden RI, di Istana Negara, Selasa (11/4) pagi tadi.

Berdirinya Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga yang baru disahkan pada 13 Agustus 2013, sebenarnya sudah dicita-citakan Saldi sejak kuliah. Tahun 1993 lalu, Saldi sudah menulis Mahkamah Konstitusi dalam Lomba Karya Tulis di Universitasnya. Rektor pun tertarik dengan gagasannya dan memanggilnya ke gedung Rektorat.

Mahkamah Konstitusi sendiri lahir berdasarkan UU No.24 Tahun 2003. Dengan disahkannya Mahkamah Konstitusi maka Indonesia mengikuti jejak 77 negara yang sebelumnya sudah memiliki Mahkamah Konstitusi.

Kala itu Saldi risau, banyak produk perundang-undangan yang tidak memenuhi syarat, saling tumpeng tindih antara satu dengan yang lain, tidak sinkron dan saling bertabrakan. Sayangnya kala itu belum ada Mahkamah yang menguji keabsahan produk Undang-undang.

Dalam skripsinya Saldi juga mendalami gagasannya tentang Constitutional Court), “Kehadiran sebuah Mahkamah Konstitusi sangat urgen, karena produk undang-undang kita kerap tidak sejalan dengan aturan yang lebih tinggi, yaitu UUD 1945,” cetus Saldi saat mempertahankan argumentasinya di hadapan para pengujinya.

Berkat skripsinya tahun 1995 Saldi lulus S-1 dengan predikat summa cum laude. Saldi pun yang sudah diangkat menjadi Dosen di almamaternya melanjutkan kuliah paska sarjananya  di Universitas Malaya, Malaysia, dan lulus S-2 pada 2001. Gelar doktoralnya dia raih dari Universitas Gajahmada tahun 2009.

Lewat karya-karya tulisnya yang dimuat di sejumlah media nasional, nama Saldi Isra begitu dihormati sebagai pakar hukum tata negara dan sebagai tokoh anti-korupsi di Republik ini. Dia sangat mendukung Mahfud MD saat memperdengarkan rekaman patgulipat Korupsi dalam persidangan Anggodo yang membongkar korupsi di sejumlah lembaga tinggi negara.

Telat Kuliah

Padahal Saldi masuk kuliah di usia yang sangat telat. Maklum, sebelum diterima di Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, Saldi sempat dua kali gagal mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Umumnya lulusan SLA yang masuk perguruan tinggi negeri usinya berkisar 17 hingga 19 tahun. Namun Saldi menjadi mahasiswa baru di usianya menjelang 22 tahun.

Memang, Saldi lahir dari keluarga sederhana. Dia anak ke-6 dari 7 bersaudara dari pasangan keluarga petani, Ismail dan Ratina yang keduanya sudah almarhum. Saldi lahir di Nagari Paninggahan, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, 20 Agustus 1968. Ketekunan kedua orang tuanya yang bekerja keras untuk menghidupi keluarga menjadi sumber inspirasinya.

Setelah dua kali gagal mengikuti UMPTN, Saldi bekerja serabutan untuk menyokong kebutuhan orang tuanya. Pada kesempatan terakhir, tahun 1990, Saldi diterima menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas. Sejak kuliah di semester pertama Saldi sudah menunjukkan presitasi, baik akademis maupun organisasi.

Meskipun lahir dari keluarga sederhana, Saldi tidak minder untuk ikut berorganisasi. Setelah menjadi anggota Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) di tahun pertama, tahun berikutnya dia diangkat menjadi Ketua I Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Unand. Dia juga menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Hukum Tata Negara di fakultasnya.

Indeks prestasi Saldi di bidang akademis selalu di atas 3,5 yang membuatnya mendapatkan bea-siswa di tahun ketiga kuliah. Dia juga aktif membentuk kelompok-kelompok belajar di lingkungan teman seangkatannya. Lokasinya berpindah-pindah, dari tempat kos yang satu ke tempat kos lainnya. Setiap menjelang ujian semester kos-kosannya penuh, ada yang belajar bersama, ada pula yang sekedar meminjam catatan perkuliahan Saldi yang tulisan tangannya rapi.

Toh begitu, impian Saldi sebenarnya tidak terlalu muluk. Dia hanya ingin menjadi pengajar dan menularkan ilmu yang dimilikinya kepada mahasiswa di almamaternya. Impian itu sudah tercapai, bahkan telah membawanya menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi. Di usianya yang relative muda, tepatnya pada 2010, dia sudah dikukuhkan menjadi Guru Besar Ilmu Tata Negara di almamaternya.

Selain itu Saldi juga mendirikan Pusat Studi Konstitusi (Pusako) dan menjadi Direktur di lembaga yang didirikannya itu. Atas dedikasinya di dunia hukum, pendidikan dan gerakan anti-korupsi, Saldi meraih sejumlah penghargaan, antara lain Tokoh Muda Inspiratif versi Kompas (2009), Award of Achievement for People Who Make a Difference dari The Gleitsman Foundation, USA (2004), Bung Hatta Anti-Corruption Award (2004), dan Dosen Teladan untuk tingkat Universitas Andalas Tahun dan Fakultas Hukum Universitas Andalas Tahun 2002.

Atas prestasinya yang luar biasa itu, Saldi pernah disebut-sebut menempati pos kementerian dalam Kabinet Kerja di bawah pimpinan pemerintahan Jokowi-JK. Terlebih saat menjelang reshuffle jilid II Saldi pernah dipanggil Presiden Jokowi ke istana. Namun Saldi membantah gossip yang berkembang ketika itu. “Saya masih suka dan menikmati mengajar serta bertatap muka dengan para mahasiswa. Belum ada pikiran untuk berkarier di Jakarta,” ucapnya singkat kepada wartawan.

Toh begitu Saldi, pada Juni 2016 lalu dikukuhkan menjadi Komisaris Utama PT Semen Padang. Kini bahkan menjelang dirianya diangkat menjadi Hakim Konstitusi yang informasinya sudah dia dengar sejak Kamis (7/4) pekan lalu, saldi sudah mengundurkan diri dari semua jabatan yang disandangnya.

“Yang jelas, saya akan cuti sementara sebagai dosen dan melepaskan jabatan sebagai Komisaris Utama PT Semen Padang. Tentang anak-anak, mereka akan tetap melanjutkan sekolah di Padang,” jelas Saldi yang memiliki 3 buah hati dari pernikahannya dengan Leslie Annisaa Taufik itu. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here