Majapahit Jaya, Nusantara Kuat, Ini Rahasianya

0
252

Nusantara.news,  Surabaya – Kerajaan Majapahit, dikenal seantero benua sebagai sebuah kerajaan maritim terbesar. Bersatu rakyatnya mendukung kebijakan raja yang punya cita-cita besar, kekuasaan untuk memakmurkan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Nusantara berjaya melalui kerja sungguh-sungguh Maha Patih Gajah Mada. Untuk hidup airnya, tanahnya, udaranya, apinya dengan memiliki pemimpin yang berkualitas kepemimpinannya. Pemimpin yang mampu menggunakan setiap kelebihan dari alamnya, bukan sebaliknya menjual atau menggadaikan kekayaan alam kepada asing.

Pemimpin (Raja saat itu) mampu memanfaatkan setiap jengkal wilayahnya, untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan membangkitkan Pesona Nusantara. Seorang pemimpin yang bisa membawa kebesaran Nusantara menjadi kenyataan, berjaya dan dinikmati bersama oleh seluruh elemen rakyat. Dan, Gajah Mada yang mampu membawa Nusantara mencapai puncak kebesaran dan kejayaan.

Saat itu, perluasan wilayah oleh pasukan dibawah komando Gajah Mada dilakukan tidak hanya melalui daratan. Ekspedisi pelaut ulung dalam jumlah besar saat itu, dilakukan dengan menggunakan armada laut yang sangat besar. Di dalam berbagai kisah tentang Nusantara diceritakan, Nusantara dikenal memiliki pelaut ulung di bawah Gajah Mada yang sekaligus sebagai kepercayaan raja yang mendapat tugas mempersatukan kepulauan di seantero Nusantara.

Kesuksesan dan rahasia kekuatan armada angkatan laut Kerajaan Majapahit di jaman Gajah Mada, terletak pada kharisma pimpinan angkatan laut, dia adalah Senopati Sarwajala Mpu Nala, (jika sekarang, setara dengan Panglima atau Kepala Staf Angkatan Laut dengan pangkat Laksamana Muda atau Laksamana Madya-red).

Di bawah kendali Senopati Sarwajala Mpu Nala, kapal-kapal ekspedisi Kerajaan Majapahit menaklukkan satu demi satu hingga pulau-pulau terluar atau kerajaan-kerajaan dalam rangkaian Nusantara. Semua itu kemudian disebut dengan Kedaulatan Majapahit dengan semboyan Ikrar Sakti Sumpah Palapa.

Sumpah Palapa merupakan, kesepakatan dan cita-cita Kerajaan Majapahit yang didengungkan Gajah Mada. Sebuah konsep besar dengan mengedepankan Ke-Maritim-an sebagai ujung tombak penguasaan wilayah. Sebelumnya, memang pernah ada dan dilakukan untuk pertahanan. Ketangguhan maritim saat itu ditunjukkan oleh Singasari di bawah pemerintahan Kertanegara di abad ke-13.

Kekuatan armada lautnya saat itu tidak ada tandingannya, pada tahun 1275 Kertanegara mengirimkan Ekspedisi Bahari ke Kerajaan Melayu dan Campa untuk menjalin persahabatan dengan tujuan bersama-sama dapat menghambat gerak ekspansi Kerajaan Mongol ke Asia Tenggara. Tahun 1284, menaklukkan Bali dalam ekspedisi laut ke wilayah timur. Kemudian kebesaran Sriwijaya (683-1030 M), kedaulatannya terbentuk dengan mendasarkan politik kerajaan pada penguasaan alur pelayaran dan jalur perdagangan serta menguasai wilayah-wilayah strategis yang digunakan sebagai pangkalan kekuatan lautnya.

Di sejumlah literatur, disebut era Kerajaan Majapahit, (meski) tidak sekedar itu, Kerajaan Majapahit melakukannya lebih eksklusif dengan menggunakan konsep menyatukan daerah di bawahnya tetap menjadi sebuah pemerintahan yang utuh (konsep otonomi). Dan, bisa mengikuti konsep besar yakni sebuah negara kesatuan. Konsep cita-cita itu muncul dengan landasan Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Gajah Mada di depan Raja Tribhuwana Tunggadewi.

Intinya, semangat Gajah Mada mempersatukan seluruh wilayah di Nusantara di bawah panji-panji kebesaran Majapahit. Saat itu, Gajah Mada bersumpah di hadapan pembesar dan Raja Majapahit bahwa, ia tidak akan Amukti Palapa sebelum dapat menundukkan Nusantara, yaitu Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik.

Amukti Palapa oleh Gajah Mada itu kemudian benar-benar terbukti di masa pemerintahan Sri Rajasanagara atau Hayam Wuruk yang memerintah dari tahun 1350 M hingga 1389 M. Sehingga Kerajaan Majapahit mencapai puncak kebesaran dan kejayaannya. Kesimpulannya, bahwa dengan konsep persatuan dan kesatuan Nusantara melalui Sumpah Palapa, Kerajaan Majapahit menjelma menjadi sebuah kerajaan besar dan jaya dengan wilayah kekuasaan mencakup hampir seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat ini.

Cita-cita penyatuan melalui Sumpah Palapa Gajah Mada dapat di disepakati oleh seluruh elemen Majapahit, dari raja sampai rakyat jelata. Ini ternyata yang menjadi hal penting, kesuksesan Kerajaan Majapahit, dengan memberdayakan wilayah perairan, selain konsep kepemimpinan yang jujur.

Pertama, pemimpin yang memiliki kepatutan sebagai pemimpin secara total sehingga didukung sepenuhnya oleh rakyat. Kedua, pemimpinnya memiliki visi dan misi besar, semua demi bangsa dan negara secara total. Dari dua karakter tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesadaran seluruh rakyat sekaligus juga Raja Majapahit saat itu akan memberikan kesepakatan secara sadar, dan kemudian dilakukan oleh Gajah Mada dengan didukung kualitas personel dan pembawaan visi misi, telah memenuhi kriteria sebagai acuan lahirnya kebersamaan membangun negeri.

Tekad dan kerja keras yang diperjuangkan Gajah Mada bukan untuk dirinya sendiri atau kelompoknya, tetapi untuk negara dan bangsa. Sehingga rakyat dan Raja Majapahit saat itu terpatri oleh kesamaan pandangan, yakni kata setuju untuk mendukung cita-cita mulia mewujudkan Nusantara bersatu dan kuat.

Sebenarnya, inilah yang menjadi acuan kenapa tercipta kesepakatan universal Majapahit terhadap Sumpah Palapa. Karena kualitas pemimpin yang telah teruji, dan benar-benar mengaplikasikan hidupnya demi negara dan bangsa sehingga raja dan seluruh rakyat Majapahit (saat itu) mendukung cita-cita besar tersebut.

Kenapa pengakuan terhadap sosok Gajah Mada begitu bombastis. Sumpah yang diucapkan Gajah Mada tidak hanya ditaati rakyat, tetapi dipegang erat oleh raja sebagai pemimpin kerajaan. Itu menunjukkan kualitas Gajah Mada benar-benar patut muncul sebagai sosok pemimpin yang diteladani.

Kualitas kepemimpinan Gajah Mada, adalah seorang pemimpin yang punya semangat mengangkat kebesaran kekuatan raja dan menjaga pesona wilayahnya. Bagaimana dengan saat ini? Memang tidak perlu seorang pemimpin berpenampilan pisik, berotot seperti Gajah Mada. Namun yang diperlukan adalah sosok pemimpin yang mampu memenangkan hati rakyat, bangsa dan negara secara utuh. Juga memiliki visi dan misi kepemimpinan yang benar-benar untuk dan demi bangsa dan negara (Indonesia). Tidak untuk kepentingan kelompok apalagi untuk kepentingan pribadi.

Dalam kalimat bijak, “Setiap Zaman Ada Pemimpinnya, Setiap Pemimpin Ada Zamannya”, perlu diingat, seorang pemimpin harus memiliki mental pemimpin, bukan seorang pemimpin yang memiliki niat untuk menjadi pemimpin hanya untuk berkarir, apalagi untuk memperkaya diri sendiri. Indonesia, jika ingin bangkit seperti di era kejayaan Majapahit dibutuhkan sosok pemimpin yang mengabdi dengan ikhlas untuk rakyat, demi bangsa dan negara.

Inilah sejarah dan contoh yang telah diukir oleh Gajah Mada, sosok yang mampu menyatukan seluruh elemen negara, dari atas sampai ke bawah juga sebaliknya. Penyatuan dilakukan secara kesadaran, penyatuan dilakukan oleh hati. Penyatuan dilakukan secara bersama. Dan, Penyatuan yang disepakati secara universal.

Nusantara, harus hidup dan berjaya seperti era Gajah Mada. Hidup airnya, tanahnya, udaranya, apinya dengan memiliki pemimpin bangsa yang berkualitas. Indonesia membutuhkan pemimpin yang mampu menggunakan setiap kelebihan alamnya, bukan sebaliknya menjual atau menggadaikan kekayaan alam untuk kepentingan bangsa asing.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here