Majapahit Wariskan Tata Ruang Apik, Pengembang Tonjolkan Simbol Asing

0
1883

Nusantara.news, Surabaya – Ironis, warisan budaya termasuk pembangunan wilayah serta peradaban apik di era Kerajaan Majapahit, telah ditinggalkan di dalam pembangunan kota atau wilayah. Kebesaran peradaban Kerajaan Majapahit dengan beragam kekayaan luhur budayanya hanya menjadi dongeng. Konsep pembangunan wilayah atau dikenal dengan tata ruang di zaman Majapahit kini tidak lagi dijumpai.

Saat ini, para pemangku kepentingan, penguasa, investor termasuk konseptor pembangunan wilayah lebih senang mengumbar ide pribadi. Warisan budaya luhur Majapahit pun sirna berganti dengan simbol-simbol asing. Bahkan replika sosok penjajah pun muncul, menjadi ikon kebanggaan pembangunan kota dan pendukungnya. Itu bisa dilihat di berbagai ornamen bangunan megah, baik untuk perkantoran, perumahan atau peruntukan lainnya.

Semestinya, sebagai bangsa yang besar dan berbudaya, peninggalan luhur era Kerajaan Majapahit diwarisi dan tetap terjaga. Itu bisa digali dan dipelajari dari berbagai literature, kemudian diterapkan sebagai konsep pelaksanaan pembangunan saat ini. Nyatanya, semua warisan besar Majapahit tersebut saat ini tidak bisa ditemukan, berganti dengan dominasi simbol-simbol asing. Apakah semua ini sengaja, penguasa hanya mengumbar nafsu dan untuk mendapatkan keuntungan materi dari upeti atau salam tempel dari proses pemberian ijin membangun. Jika benar, sungguh ironis warisan luhur penataan tata ruang yang dicontohkan Kerajaan Majapahit diabaikan untuk memperkaya diri sendiri.

Penelusuran Nusantara.news, di sejumlah wilayah di Surabaya, telah menjamur bangunan megah termasuk fasilitas umum tidak dijumpai simbol kebesaran Kerajaan Majapahit. Sebaliknya, yang mendominasi simbol-simbol asing, bahkan bertengger simbol penjajah yang pernah mengeruk kekayaan di Nusantara ini. Misalnya, perumahan elite yang dibangun Citra Land, areal G-Walk milik Ciputra di Surabaya Barat, pengembang perumahan Citra Garden City di Malang yang bangga menampilkan patung kuda. Ada juga perumahan elite yang menonjolkan patung Raffles, patung prajurit Kerajaan Romawi serta lainnya.

“Iya, kenyataan ini sungguh ironis, ramainya pembangunan selalu simbolnya asing. Saya dalam hati juga bertanya, ke mana warisan peradaban sejarah bangsa ini, termasuk warisan kebesaran Kerajaan Majapahit,” ujar Heriyanto, mahasiswa perguruan tinggi swasta di Surabaya.

Gajah Mada tak Kalah dengan Patung Kuda

Sementara, Mianto warga yang tinggal di dekat sebuah perumahan elite menyebut simbol patung kuda memiliki filosofi sebagai pekerja keras. Simbol tersebut dipakai Ciputra untuk menarik investor sekaligus sebagai penanda identitas bahwa perumahan mewah tersebut dibangun oleh Ciputra Group.

“Itu yang perlu dipertayakan, sebagai warga negara Indonesia, mencari rezeki dan juga keuntungan di Indonesia, tetapi tidak mau memunculkan simbol kebesaran kebudayaan budaya bangsa termasuk yang diwariskan Kerajaan Majapahit, ada apa ini,” ucap Mianto.

Menurut dia, amburadulnya tatanan konsep pembangunan yang salah adalah para pemegang kebijakan di negeri ini. Dikatakan, seharusnya mereka ikut berperan memunculkan simbol-simbol keberadan budaya lokal, termasuk peninggalan luhur kebesaran Kerajaan Majapahit. Tidak sebaliknya, malah memberi kelonggaran para pengembang mengeruk keuntungan besar, tanpa harus ada kewajiban memunculkan simbol-simbol budaya asli Bangsa Indonesia.

“Menurut saya itu tergantung pemimpinnya, dia tentunya harus bisa membuat aturan agar pengembang di Jawa Timur khususnya, ikut memunculkan simbol-simbol kebesaran warisan budaya termasuk dari Kerajaan Majapahit, tidak hanya menonjolkan simbol-simbol asing,” katanya dengan nada gemas.

Lelaki itu menyebut, sejumlah simbol kebesaran zaman kerajaan di Nusantara yang bisa dipakai dalam pembangunan. Misalnya, ada gapura kerajaan, candi, tokoh-tokoh yang namanya menggema ke penjuru dunia, ada Patih Gajah Madah, Hayam Wuruk yang berjuluk Rajasanagara, memerintah tahun 1350-1389 Masehi dan mencapai puncak kejayaan bersama Mahapatih Gadjah Mada menjadi mercusuar ketenaran Nusantara yang disegani.

Kekuasaan Gadjah Mada dipercaya memegang kendali keamanan tahun 1313-1364 Masehi, membuktikan Kerajaan Majapahit sebagai penguasa. Tahun 1377 Masehi, beberapa tahun setelah kematian Gadjah Mada, Majapahit melancarkan serangan laut ke Palembang, menyebabkan runtuhnya sisa-sisa kerajaan Sriwijaya. Selain Gadjah Mada, Majapahit juga memiliki jenderal tangguh yakni, Adityawarman. Dia dikenal menaklukkan Minangkabau. Dalam catatan sejarah Nagarakertagama Pupuh XIII-XV, daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Borneo (Kalimantan), Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan sebagian kepulauan di Filipina. Serta tokoh-tokoh kuat lainnya, seperti Raja Adiyawarman, Raden Wijaya dan masih banyak tokoh lainnya.

“Semua orang pasti mendengar nama Gadjah Mada yang berhasil menaklukkan Nusantara, bahkan sampai ke Madagaskar, sosok Gadjah Mada adalah simbol kekuatan yang dahsyat dibanding sosok kuda. Gadjah Mada yang gagah memiliki keberanian dan kebijaksanaan, mampu menghidupkan perdagangan di zamannya,” kata ayah dari tiga anak itu.

Hasil sejumlah penelitian menyebut, Gapura di zaman Majapahit pada abad ke-14 hingga 15 termasuk yang bisa dilihat di Trowulan, Mojokerto misalnya, cocok dipakai untuk simbol sejumlah bangunan. Gapura merupakan bangunan penanda pintu gerbang ke sebuah kawasan kompleks lainnya. Di zaman Kerajaan Majapahit ada dua macam jenis gapura. Gapura terbuka seperti Wringin Lawang, dibangun tanpa atap, bangunan kembar disebut sebagai Gapura Bentar, bangunan kembar dengan atap disebut Gapura Paduraksa dan masih banyak lagi jenis bangunan lainnya. Banyak pihak tertarik dengan sejarah Kerajaan Majapahit, termasuk para arkeolog mancanegara dengan penelitiannya. Sebaliknya, Indonesia sebagai pemilik warisan budaya justru abai.

Kerajaan Majapahit, tumbuh besar pada tahun 1293 Masehi hingga runtuh sekitar tahun 1500 Masehi. Majapahit hampir menguasai seluruh daerah di Nusantara dan beberapa daerah di Asia Tenggara, keberadaannya disegani berbagai pihak. Ini sebuah perjalanan sejarah dengan menyisakan banyak peninggalan peradaban bernilai tinggi. Jejak-jejak itu seharusnya bisa dikembalikan dan dinikmati menjadi sebuah karya besar untuk kembali menuju terwujudnya Nusantara yang disegani.

Sekadar untuk diketahui, setelah ditinggal pemimpin yang membawa menuju kejayaan, Hayam Wuruk, Kerajaan Majapahit perlahan runtuh. Setelah Hayam Wuruk wafat, kekuasaan Majapahit berulang kali berganti, konflik internal dalam kerajaan menyebabkan terjadinya berbagai peperangan.

Belum jelas peristiwa yang melatarbelakangi berakhirnya kerajaan Majapahit. Sejumlah sumber menyebut bahwa Majapahit runtuh akibat serangan kerajaan Islam Demak, ada juga yang mengatakan konflik internal antara Bhre Kertabumi sebagai raja terakhir Majapahit diserang oleh Bhatara Wijaya yang juga anggota kerajaan. Konflik internal ini dianggap akhir keberadaan kekuasaan Majapahit. Namun yang pasti, runtuhnya Majapahit mengakhiri kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha di Nusantara. Dan, ditandai munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang kemudian besar dan berjaya.

Pulau Jawa yang merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit, tergantikan oleh Kesultanan Demak di pantai utara Pulau Jawa, bekas daerah kekuasaan Majapahit yang memiliki pengaruh besar dibanding kesultanan lain. Sebelumnya, di Nusantara ada Samudra Pasai (abad ke-13). Dalam perjalanannya, Kesultanan Demak ikut andil mempercepat penyebaran Islam di Nusantara. Seperti Kesultanan Aceh di Aceh, Gowa di Tallo Sulawesi, Kesultanan Ternate dan Tidore di Maluku, dan lainnya.

“Itu perjalanan sejarah yang besar, sayang jika seiring berjalan waktu, konsep pembangunan di negeri ini tidak memunculkan simbol arsitektur Majapahit dengan berbagai kebesaran yang pernah dimiliki,” pungkasnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here