Makam Sunan Giri di Gresik Terancam Longsor Akibat Pemukiman Padat

0
131
Makam Giri Kedaton, maka para santri Sunan Giri, di Gresik.

Nusantara.news, Surabaya – Peta rawan bencana yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, mengabaikan Kabupaten Gresik sebagai salah satu daerah yang rawan musibah tanah longsor. Namun pesatnya perkembangan pemukiman dan industri, terutama di kawasan perbukitan, membuat kekuatan sebagai kawasan lahan penyangga rentan. Seperti yang terlihat di daerah perbukitan Giri.

Bupati Sambari Halim Radianto mengungkap, sudah terjadi beberapa longsoran di wilayahnya. Kendati kerusakan yang ditimbulkan tidak sampai menimbulkan kroban jiwa. Namun itu sudah jadi warning jika Gresik juga rawan dengan bencana longsor. “Kami sudah menggelar rapat pleno dengan jajaran terkait, termasuk bahas kerawanan lain secara umum,” terang bupati yang sudah memasuki periode kedua tersebut, Rabu (12/4).

Longsor yang dimaksud Sambari terjadi di Sangkapura, Kepulauan Bawean yang sempat menutup akses jalan raya. Tetapi yang jadi perhatian lebih saat ini adalah kondisi terakhir di ikon wisata religi Gresik, Bukit Giri. Banyaknya wisatawan yang mengunjungi makam Sunan Giri menjadi magnet ekonomi warga untuk mendirikan pemukiman di sekitar areal tersebut. Makam salah satu Wali Songo itu berada di sebuah perbukitan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik. Tak jauh dari sana juga terdapat Giri Kedaton, yang menurut kepercayaan masyarakat setempat diyakini sebagai kerajaan Islam yang didirikan oleh Sunan Giri.

“Saya sudah berikan instruksi kepada BPBD Gresik untuk siaga di Giri agar tidak kecolongan. Memang secara geografis Giri itu bukit batu dan kapur, tapi tidak salah jika kewaspadaan tetap diterapkan,” terang Sambari.

Selain jajarannya, Sambari juga berharap sosialisasi kepada warga intens dilakukan. Sebab, di banding petugas pemahaman warga terhadap lingkungan sekitarnya terkadang jauh lebih cermat. Hanya saja, mengacu musibah di Ponorogo dan Nganjuk akhir-akhir ini, warga kerap mengabaikan tanda-tanda alam sebelum terjadi longsor.

Provinsi ‘ramah’ bencana memang layak disematkan pada Jawa Timur. Khusus untuk bencana longsor, data BPBD menyebutkan tersebar di 26 kabupaten. Sebagian besar titik yang patut diwaspadai justru berdekatan dengan kawasan pemukiman. Karena itu, peran aktif masyarakat sangat diperlukan selain program sadar bencana yang sudah dijalankan pemerintah provinsi maupun pemerintah kota/kabupaten.

Langkah antisipasi memang jauh lebih baik sebelum bencana yang tak diharapkan benar-benar terjadi. Selain memakan ongkos sangat besar, dampak jangka panjang termasuk trauma korban bisa diminimalisasi. Terkait hal ini, Gubernur Soekarwo menginginkan adanya penerapan sistem peringatan dini. “Dipasang di daerah yang rawan bencana tanah longsor,” ujarnya kepada wartawan.

Pakde Karwo, sapaan akrabnya, meminta BPBD kabupaten/kota membentuk kader untuk mendeteksi bencana longsor di daerah masing-masing sebagai bentuk antisipasi. Penerapan sistem yang sama selama ini sudah digunakan untuk mendeteksi meletusnya gunung berapi sehingga ada tahap-tahap seperti normal, waspada, siaga kemudian awas untuk selanjutnya dilakukan langkah antisipasi. “Sistem ini harus juga ada di kawasan rawan tanah longsor sehingga segera dilakukan sesuatu sesuai kondisi atau status yang terjadi,” ucapnya.

Sementara itu, sampai saat ini Pemprov melalui BPBD Jatim memiliki 64 alat ekstensometer yang berfungsi sebagai alat pendeteksi dan pengukur adanya pergerakan atau pergeseran permukaan tanah. Ekstensometer merupakan perangkat elektronika dengan sensor yang menggunakan potensiometer multiturn sebagai komponen utama disertai dengan rangkaian penguat dan pengondisi sinyal.

Menurut Kepala BPBD Jawa Timur Sudarmawan, alat ini diciptakan oleh peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan sistem kerja mendeteksi pergerakan tanah, curah hujan dan sudut kemiringan permukaan tanah. “Di Nganjuk dan Ponorogo bahkan kami pasang empat unit,” terangnya.

Setiap daerah memang tidak sama pembagian alat tergantung tingkat kerawanan. Sudarmawan menyebutkan ekstensometer ini telah dipasang di 22 kabupaten/kota, terutama daerah rawan terjadi longsor, seperti di Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Pacitan Kabupaten Bondowoso, Kota Batu, Kabupaten Kediri, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Tulungagung dan beberapa daerah lain.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here