Makna Ajakan Jokowi: dari Muhaimin hingga Surya Paloh

0
123

Nusantara.news, Jakarta – Sekarang, berdiri di samping Jokowi saja sudah bermakna politik. Terlebih jelang Pilpres 2019, mereka yang “ditenteng” mendampingi Jokowi di acara-cara kepresidenan akan langsung dikaitkan kemungkinan sebagai cawapres yang dilirik sang petahana itu. Saat hendak memukul gong untuk membuka Rapimnas Partai Demokrat di Sentul, Bogor, Sabtu (10/3) lalu misalnya, Jokowi mengajak Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berdiri di sampingnya.

Posisi berdiri itu mendapat sambutan tepuk tangan dari ribuan kader Demokrat. Beberapa prediksi pun mencuat: AHY berpeluang jadi cawapres Jokowi, AHY akan “dimagangkan” dulu sebagai salah satu menteri jika Demokrat mendukung pencapresan Jokowi, hingga dugaan Jokowi sedang membangun strategi agar namanya terus diperbincangkan media dan publik jelang Pilpres 2019.

Ternyata, bukan hanya AHY yang dibikin “ge-er” dan terkena “tebar pesona” Jokowi. Sebelumnya, Jokowi juga membuat langkah yang mengundang spekulasi ketika mengajak beberapa ketua umum partai pendukung. Umumnya, mereka yang diajak mendampingi kegiatan resmi Jokowi adalah nama-nama yang santer disebut-sebut dalam bursa cawapres 2019.

Awal Januari lalu, Jokowi “tiba-tiba” mengajak Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar untuk mendampinginya saat meresmikan kereta cepat bandara Soekarno-Hatta. Saat itu, Muhaimin terlihat sangat sumringah dan belakangan dia merasa yakin bahwa Jokowi akan memilihnya sebagai cawapres. Sejak itu, muncul kriteria bahwa tokoh yang bisa mendampingi Jokowi di pilpres mendatang sebaiknya dari kalangan santri.

Bulan berikutnya, Sabtu (4/2/2018), Presiden Jokowi mengajak Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan ( PPP) Muhammad Romahurmuziy (Romy) dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan untuk mendampingi seharian penuh kegiatan kerjanya. Kegiatan tersebut antara lain melihat persiapan venue Asian Games di Senayan. Romy bahkan tak hanya sekali. Ia kembali diajak mendampingi Jokowi saat menghadiri Haul Majemuk Masyayikh di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Sama seperti Muhaimin, Romy juga tampak “gembira” berada di samping Jokowi.

Setelah itu, di bulan Maret, tepatnya 7 Maret, giliran Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh diajak mendampinginya saat meninjau pembangunan proyek terowongan bawah tanah mass rapid transit (MRT) Jakarta. Jokowi mengaku sengaja mengajak Paloh dalam kegiatannya karena sudah lama tak bertemu.

Di luar itu, sebenarnya ada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang baru-baru ini diajak Jokowi untuk mendampingi aktivitasnya. Hanya saja, keduanya mendampingi Jokowi dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah karena presiden melakukan kunjungan ke lokasi proyek di Jakarta dan Jawa Barat.

Lalu, apa makna politik di balik ajakan Jokowi itu?

Pertama, langkah Presiden Jokowi yang belakangan kerap mengikutsertakan pemimpin partai pendukungnya di agenda pemerintahan merupakan bagian dari strategi pemenangan Pilpres 2019. Tak hanya sebagai penjajakan untuk kebutuhan mencari cawapres, sinyal kemesraan hubungan elite politik tersebut juga penting untuk mengerek elektabilitas partai pendukung Jokowi. Sebab, popularitas partai pendukung itu juga diperlukan untuk kemenangan Jokowi pada 2019. Adanya hubungan baik antara presiden dan tokoh partai politik bukan tidak mungkin akan membuat massa partai bersimpati dan mendukung Jokowi.

Kedua, bisa jadi, presiden ingin mengetes reaksi dari tokoh yang diajak. Apa ada yang ‘ge-er’, langsung menggalang dukungan, atau biasa-biasa saja. Jokowi seolah ingin menguji kawan koalisinya: siapa ‘baper’ (bawa prasaan), cemburu, dan ‘ke-ge-er-an’. Namun hal penting dari ajakan Jokowi itu bisa dimaknai sebagai upaya awal “penjajakan chemistry” atau kecocokan dengan bakal cawapresnya. Dari kedekatan langsung itu, sedikit banyak Jokowi dapat menggali tabiat, rasa, dan cara berpikir tokoh tersebut. Hal ini tentu menjadi pertimbangan Jokowi sebelum menunjuk pendampingnya untuk bertarung di 2019.

Ketiga, Jokowi ingin melihat respons dan dukungan publik, utamanya penerimaan terhadap tokoh bakal cawapres yang “dipromosikan”. Dari reaksi publik itu, Jokowi juga dapat masukan “gratis” dari para pengamat yang menganalisisnya di ruang-ruang media. Di titik ini, Jokowi ingin menyerap second opinion (pendapat kedua atau pembanding) dari masyarakat, di luar kajian internal (PDIP dan tim suksesnya) terhadap cawapres yang akan dipilihnya.

Keempat, ajak-mengajak ini juga bisa dimaknai bahwa parpol-parpol pendukung harus terus “terikat” komitmen dan kerja kerasnya sampai Pilpres 2019. Jangan lari dan berleha-leha. Di pihak lain, manuver Jokowi tersebut bisa berdampak psikologis bagi basis pemilih partai pendukung, misalnya kagum dan merasa diperhatikan. Pendek kata, apa yang dilakukan Jokowi dapat dimaknai sebagai upaya membangun atau memperkuat ikatan emosional antara dirinya dengan para elite dan alit (konstituen) partai pendukung.

Boleh jadi, akan banyak muncul spekulasi dan pemaknaan politis lain. Meskipun tak sedikit pula yang menilai ajakan Jokowi itu hanyalah sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada partai pendukung, semacam penghargaan. Apa pun itu, mengajak dan menghargai rakyat jauh lebih bermakna dari sekadar mengajak para tokoh politik atau sibuk hanya dengan urusan kursi-kursian.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here