Makna Politik Pertemuan SBY dengan Presiden Jokowi

0
299

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi). Keduanya mengobrol di beranda belakang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis siang, setelah sebelumnya makan siang bersama di dalam Istana. Ditemani teh hangat dan hidangan lumpia, keduanya mengobrol dilanjutkan memberikan keterangan pers.

SBY menyatakan sangat bersyukur karena Presiden telah menyediakan waktu khusus untuk pertemuan itu. Menurut dia, pertemuan itu telah lama digagas dan dirancang hingga teralisasi sehingga kini tidak ada lagi kesalahpahaman di antara dirinya dengan Jokowi. Pertemuan itu bagi SBY dijadikan ajang untuk tabayyun (klarifikasi).

“Insya Allah saya senang sekali. Saya bisa menjelaskan, beliau mendengar dengan seksama, saya juga mendengar dari beliau. Alhamdulillah ini awal yang baik karena tidak baik kalau ada miskomunikasi dan misinformasi di antara beliau dan saya ataupun di antara kami-kami yang pernah memimpin negeri ini,” kata SBY.

Jokowi memang jeli melihat suasana dan kondisi yang sedang terjadi. Pertemuan dengan SBY justru ia penuhi di saat masa kampanye putaran kedua Pilkada DKI. Beum jelas apakah pertemuan ini karena ada restu dari Megawati (PDIP) atau inisiatif Jokowi sendiri, yang jelas pertemuan ini mengundang spekulasi berkaitan dengan arah dukungan pada Pilkada DKI putaran dua. Seperti kita tahu, di belakang Agus ada SBY, di belakang Anies ada Prabowo, dan di belakang Ahok ada Megawati, sementara Jokowi adalah bagian dari Megawati.

Pertemuan ini akan memberikan pengaruh dalam perjalanan Pilgub DKI. Jika Jokowi berhasil mengakrabi dan mengambil hati SBY di pertemuan itu, bukan mustahil tiba-tiba SBY mendeklarasikan dirinya mendukung Ahok. Dalam politik sering terjadi hal-hal yang tidak terduga. Ini artinya, dugaan sejumlah kalangan bahwa Ahok didukung lingkaran istana (pemerintah) yang notabene dipenuhi koalisi parpol penyokong Ahok di Pilgub DKI, makin menguat.

Pengamat politik dari Uiversitas Indonesia yang juga peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia, Siti Zuhro, menilai pertemuan elite partai politik (termasuk SBY) di Istana Kepresidenan merupakan hal lumrah. “Kalau cocok deal, kalau tidak ya bertemu biasa saja,” ucapnya.

Pertemuan SBY dengan Jokwoi memang tidak bisa dipungkiri mengundang opini publik dan tafsir politik dari para pengamat, termasuk soal adanya pembahasan Pilgub DKI. Namun, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Roy Suryo, membantah soal kemungkinan pertemuan tersebut sebagai ‘sinyal’ Demokrat bergabung sebagai partai pendukung pemerintah.
“Pertemuan Bapak SBY dengan Bapak Jokowi lebih ke persoalan bangsa yang lebih besar. Demokrat tetap sebagai partai penyeimbang. Terlalu kecil kalau hanya bicara politik,” kata Roy, Kamis (9/3/2017).

Berbeda dengan Roy Suryo, Sekjen PDP Hasto Hasto Kristiyanto mengungkapkan kemungkinan pertemuan tersebut membahas soal Pilgub DKI Jakarta. Menurut dia, pertemuan antara SBY dan Jokowi pasti akan membahas hal-hal yang strategis mulai dari Pilgub DKI Jakarta hingga tudingan-tudingan yang menimpa SBY dalam pertemuan itu.

“Baik Jokowi maupun SBY pastinya akan meluruskan ketegangan-ketegangan yang sempat muncul,” ujar Hasto.

Seperti diketahui, ketegangan antara Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Jokowi muncul beberapa kali. SBY sempat mangatakan dalam suatu jumpa pers awal Februari bahwa ada pihak yang menghalangi pertemuannya dengan presiden Jokowi.

SBY mengatakan hal itu, sebelum menyampaikan kegeraman bahwa namanya disebut-sebut di sidang Ahok. Saat itu SBY menyebutkan dugaannya bahwa teleponnya disadap. SBY mengatakan, ia juga ingin mengklarifikasi tudingan yang dikesankan datang dari pihak istana, langsung kepada Presiden.

Sebelumnya, dalam jumpa pers dua hari menjelang aksi 4 November, SBY juga membantah selentingan bahwa pihaknya berada di belakang agenda aksi 411 itu, dan mengisyaratkan bahwa Istana mendapat pasokan informasi inteljen yang keliru, yang disebutnya sebagai intelligence failure dan intelligence error.

Peristiwa lain yang mendorong SBY untuk lagi-lagi membuat jumpa pers di Cikeas yang menunjukkan ketegangan dengan Istana, adalah dua peristiwa terkait dyugaan penyadapan telepon dan tudingan bekas Ketua KPK dan terpidana kasus pembunuhan Antasari Azhar. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here