Makna “Politik Jabat Tangan” Ahok dan Raja Salman

0
836

Nusantara.news, Jakarta – Dalam dua hari terakhir soal jabat tangan menjadi topik berita. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bersalaman dengan raja Arab Saudi, Rabu (1/3). Foto momen jabat tangan itu langsung menyebar di media sosial, bahkan meme juga sudah bertebaran di mana-mana.

Ahok bahkan mengunggah fotonya saat bersalaman dengan Raja Salman di akun Twitter dan instagramnya. Bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, Ahok turut mendampingi Presiden Joko Widodo.

Ahok mengatakan bahwa Jokowi memperkenalkan dia ke Raja Salman dan itu diakhiri dengan gerakan jabat tangan. “Pokoknya dikenalkan oleh presiden, salaman lalu diperkenalkan,” kata Ahok saat itu.

Lalu, apa makna jabat tangan Raja Salman bagi politik Ahok?

Klaim Legitimasi

Seperti dikutip dari BBC, Kehadiran pemimpin Arab Saudi, Raja Salman bin Abdul Aziz di Indonesia tampaknya juga menjadi simbol perebutan politik oleh dua pihak yang berseteru dalam Pilkada DKI Jakarta, kata pengamat politik.

Raja Salman – sebagai pemimpin Arab Saudi – dianggap melambangkan ke-Islaman dan tanah tempat kelahiran para nabi, sehingga kehadirannya penting untuk meneguhkan legitimasi dua pihak yang berseteru.

Karenanya, peristiwa jabat tangan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan Raja Salman dan klaim pimpinan Front Pembela Islam Rizieq Shihab bahwa dirinya telah diundang untuk menghadiri pidato Raja Salman di DPR menjadi penting secara politik.

Ini semakin menunjukkan politik di Jakarta yang makin panas, dan mereka (Ahok dan Rizieq) memperebutkan Raja Salman sebagai simbol kekuasaan politik,” kata pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, Asep Salahudin.

Dengan dapat ‘bertemu langsung’ Raja Arab Saudi, demikian Asep Salahudin, kedua orang itu ingin mendapatkan simpati massa. “Ini politik untuk saling mengklaim terhadap sosok Raja Salman,” paparnya.

“Ini semacam politik untuk menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mendapat dukungan horisontal, tapi juga dukungan oleh negara,” kata Asep Salahudin.

Adapun peristiwa jabatan tangan Ahok dengan Raja Salman, demikian Asep, dapat dibaca sebagai klarifikasi secara simbolis atas tuduhan penistaan agama atas dirinya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here