Makna Semprotan Kritik Presiden Kepada Menteri Perdagangan

1
300
Presiden Jokowi mengritik keras loyonya kinerja ekspor Indonesia, sehingga kalah dari Vietnam, Thailand, Malaysia, apalagi Singapura.

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Jokowi menyindir keras Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita karena nilai ekspor Indonesia masih kalah jauh dibandingkan negara-negara di kawasan Asean. Seolah ada sinyal ketidakpuasan Presiden atas loyonya kinerja ekspor nasional.

Kritik Presiden itu disampaikan di Istana Negara saat Presiden menyampaikan sambutan pada Rapat Kerja Kementerian Perdagangan yang dihadiri oleh para pejabat dan staf Kementerian Perdagangan hari ini.

Jokowi mengungkapkan, nilai ekspor Thailand telah mencapai US$231 miliar, kemudian susul Malaysia sebesar US$184 miliar dan Vietnam US$160 miliar. Sedangkan nilai ekspor Indonesia saat ini baru sekitar US$145 miliar.

Ini fakta, negara sebesar Indonesia kok bisa kalah dengan Thailand yang penduduknya 68 juta, Malaysia 31 juta penduduknya, Vietnam 92 juta, dengan resource, dengan SDM yang sangat besar mengapa Indonesia kalah.

Melihat angka-angka tersebut, Jokowi berpendapat ada yang salah dengan aktivitas ekpor yang selama ini dijalankan oleh Indonesia. Sebab dengan jumlah penduduk yang besar harusnya Indonesia bisa menghasilkan lebih banyak produk yang bisa diekspor ke negara lain.

“Ini ada yang keliru, ini yang harus diubah. Ini perlu saya ulang-ulang supaya kita sadar ada yang keliru dan banyak yang keliru. Yang rutinitas kita lakukan bertahun-tahun tanpa ada perubahan apapun,” jelas dia.

Jika rutinitas yang terkait dengan kegiatan ekspor ini terus dibiarkan dan tidak diubah menjadi lebih baik dan efektif, maka Indonesia akan tertinggal dari negara-negara antara lain Laos dan Kamboja.

Oleh sebab itu Kementerian Perdagangan sangat berperan sekali terutama dalam mengelola kinerja ekspor. Tapi yang sangat jelas, kalau dilihat dari angka-angka ekspor Indonesia sudah sangat kalah jauh tertinggal dengan negara-negara sekitar kita. Ini fakta dan angka itu berbicara apa adanya.

Bahkan, Jokowi mengkhawatirkan, jika terus-terusan kinerja ekspor seperti ini bisa saja Indonesia kalah dengan Kamboja dan Laos.

Presiden meminta Kementerian Perdagangan untuk segera mengevaluasi kinerja Indonesia Trade Promotion Center (ITPC). Seperti dalam memilih booting pameran biar agak di depan, di tempat orang lalu lalang, bukan di pojokan dekat toilit.

Pembelaan Enggar

Menanggapi hal itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan sebenarnya capaian ekspor Indonesia di tahun 2017 sudah cukup tinggi, bahkan surplus. Namun, dia mengakui, bahwa memang pertumbuhannya masih relatif rendah dibandingkan negara tetangga lainnya.

“Kita sadari betul dan memang untuk mempertahankan posisi ekspor di tahun 2017 itu tidak mudah,” kata Enggar saat memimpin Rapat Kerja Kementerian Perdagangan hari ini.

Enggar berdalih ada beberapa faktor internal dan eksternal yang membuat kinerja ekspor Indonesia lebih lambat dibanding lainnya. Di sektor internal, setiap kementerian dan lembaga masih harus disinergikan agar lebih baik.

Lalu dinamika perdagangan luar negeri apalagi akhir-akhir ini mereka cenderung proteksionis jadi lebih sulit negosiasinya. Tapi hal itu tidak membuat Menteri Perdagangan surut, Enggar tetap yakin 2018 ada perjanjian multilateral yang bisa kita selesaikan selain bilateral.

Selain itu, Enggar juga memaparkan penyebab kalah bersaingnya ekspor Indonesia karena negara lain sudah membebaskan bea masuk dan keluar. Sementara, Indonesia baru mau memulai hal itu yang bekerja sama dengan beberapa negara lain, seperti Chili.

Negara tujuan mengalihkan impor mereka dari sisi mereka dari negara yang sudah bebas bea, sudah ada perjanjiannya. Vietnam begitu agresif, Malaysia begitu luar biasa dengan Thailand, dan sekarang nyusul Kamboja membuka diri. Sedangkan Indonesia sudah hampir 10 tahun baru satu Chili, kendala ini lah yang harus ditembus.

Oleh sebab itu, untuk bisa meningkatkan kinerja ekspor itu saat ini pemerintah terus menjalin kerja sama di sektor perdagangan dengan negara lain. Ada beberapa kerja sama yang sedang dikejar, antara lain dengan, India, Bangladesh, Korea, Jepang, Srilanka, Pakistan dan lainnya.

Dengan demikian Menteri Perdagangan akan mendorong ekspor sebagai ujung tombak. Dengan demikian kunci keberhasilan peningkatan ekspor adalah pada saat melakukan perjanjian, karena kalau tidak negara itu akan lari ke produk negara yang lebih murah. Ini yang harus dikejar, kalau bisa dikejar pada 2018 dan baru bisa kita nikmati pada 2019.

Logistik mahal

Sementara Menko Perekonomian Darmin Nasution beralasan masih ada sejumlah masalah di sektor perdagangan yang menghambat kinerja ekspor. Salah satunya adalah masalah pada bagian logistik.

Meski neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus, namun hasilnya masih belum optimal. Dia bilang, logistik menjadi masalah utama yang dihadapi, hingga membuat perdagangan Indonesia kalah efisien dibanding negara lainnya.

Diakuinya logistik Indonesia tidak terlalu efisien, kalah efisien dibanding negara-negara lain. Sebab bicara soal logistik menyangkut angkutan darat, udara, laut, kereta pergudangan, pengiriman, dan kegiatan pendukung lainnya.

Selain itu, persoalan free on board (FOB) juga masih menjadi persoalan eksportir. FOB maksudnya pihak eksportir hanya bertanggung jawab sampai barang berada di atas kapal, tidak sampai ke tujuan utama. Sehingga eksportir masih harus mengeluarkan biaya untuk mengakses tempat tujuan.

Hal menarik lainnya, kekurangan ekspor Indonesia sebagian besar FOB, hanya sampai di pelabuhan saja. Cost insurance punya orang lain, ini yang masih menjadi masalah yang mengganjal.

Itu artinya, menurut Darmin, maka barang ekspor yang awalnya berasal dari Indonesia kemudian di-upgrade lagi oleh negara lain, hingga kemudian dijual kembali. Terutama ekspor bahan mentah.

Supporting ekspor impor Indonesia memang tidak terlalu keras, ekspor kita banyak yang ke Singapura, bahan mentah. Nanti Singapura mengirim ke negeri lain, disortir, di-upgrading, di-labeling, dan dijual lebih mahal ke negara lain.

Sementara itu, rasio antara logistik dengan produk domestik bruto (PDB) Indonesia selama tahun 2017 sebesar 24%. Ini masih lebih tinggi dibandingkan negara lainnya yang rata-rata sebesar 12% hingga14%. Hal ini yang harus segera dibenahi, pemerintah terus memperbaiki diri.

Tentu saja kritikan Presiden Jokowi bukan hadir dari ruang hampa. Termasuk angka yang dikutip Presiden adalah angka sampai dengan Oktober 2017. Adapun angka ekspor Indonesia dari Januari hingga Desember 2017 sebenarnya mencapai US$168,83 miliar atau naik 16,22% dibandingkan 2016. Atau dengan kata lain mengalami surplus US$11,84 miliar.

Poinnya adalah, bahwa kinerja ekspor kita memang lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara Asean. Sehingga memang tugas Menteri Perdagangan untuk menggenjot ekspor nasional sebesar-besarnya. Kalau Singapura bisa mensortir, meng-upgrading, me-labeling, mengapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama atau bahkan lebih.

Tapi publik tetap menangkap sisi lain dari ujug-ujug marahnya Presiden Jokowi kepada Menteri Perdagangan. Padahal Presiden baru saja pulang dari lawatan ke-lima negara dan membawa proyek puluhan triliun. Artinya, suasana kebatinan Presiden Jokowi saat memberi sambutan di Raker Kementerian Perdagangan sebenarnya sedang happy.

Tapi mengapa tiba-tiba berubah mengeluarkan semprotan kritik yang cukup keras? Bisa jadi ini adalah juga sebuah teguran Presiden atas kegaduhan impor 500.000 ton beras di saat petani sedang menikmati panen raya. Hanya saja keluarannya diakumulasi dalam isu ekspor yang loyo.

Lepas dari itu semua, itulah capaian kinerja ekspor nasional yang dikomentari miring oleh Presiden. Sehingga ada kewajiban moral Menteri Perdagangan untuk memperbaiki atau bahkan menggenjot hingga mampu mengejar ketertinggalan dari negara-negara tetangga kita.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here