“Malangan”, Corak Kepemimpinan Kolektif Kolegial Budaya Kerajaan Masa Lalu

0
66
Candi Singosari peninggalan Kerajaan Singosari yang berpusat di Malang (Sumber: Global News)

Nusantara.news, Kota Malang – Malang merupakan suatu kawasan wilayah yang memiliki rentetan sejarah yang panjang, mulai dari zaman kerajaan, penjajahan hingga modern sekarang ini. Peradaban Malang sudah berusia sangat tua, pada abad ke 6 Masehi masyarakat Malang sudah memiliki pranata sosial tersendiri.

Dalam pandangan peradaban dan rentetan sejarah wilayah Malang terikat dalam sebuah subkultur tersendiri. Sejak jaman tersebut sudah lahir sistem kemasyarakatan dan pola kepemimpinan khas Malangan.

Fakta tersebut terjawab dengan adanya situs Candi Badut yang merupakan sebuah candi yang terletak di kawasan Tidar, di bagian barat kota Malang. Candi ini diperkirakan berusia lebih dari 1400 tahun, merupakan yang tertua di Jawa Timur.

Diyakini merupakan peninggalan Prabu Gajayana, penguasa kerajaan Kanjuruhan sebagaimana yang termaktub dalam prasasti Dinoyo bertahun 760 Masehi. Candi tersebut merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Kanjuruhan yang merupakan kerajaan tertua di Jawa Timur, yang berpusat di Malang.

Beberapa sumber menunjukan bahwa pada masa tersebut, desa-desa di Malang disebut dengan istilah Wanua. Wanua dipimpin secara berkelompok oleh beberapa orang yang dituakan, disebut dengan istilah pararama (para bapak tetua adat). Artinya warga Malang sejak awal sudah mengenal sistem kepemimpinan yang bersifat kolektif kolegial.

Beberapa Wanua bersatu membentuk sebuah tatanan pemerintahan bernama Watak. Beberapa Watak bersatu membentuk sistem pemerintahan bernama Kadatuan, yang kemudian berubah penyebutan menjadi Kedaton dan Keraton, Kanjuruhan pada saat itu.

Sistem pemerintahan berlapis dan bertingkat sudah dikenal sejak abad ke 6 Masehi. Artinya  para pemimpin sudah memiliki kesadaran untuk pendistribusian wewenang demi efektifitas kinerja kepemimpinan.

Prabu Gajayana pemimpin kerajaan dari Kanjuruhan adalah peletak dasar karakter kepemimpinan khas Malangan. Karakter kepemimpinan yang digembleng oleh terjalnya alam, pegunungan, dan derasnya arus Kali Brantas.

Kerajaan Singasari dan Corak Sejarah Pemimpin Malang

Setelah surutnya masa kejayaan Kerajaan Kanjuruhan,  peradaban besar muncul kembali di Malang, yaitu lahirnya Kerajaan Singhasari sekitar abad ke 12 (1222-1293), dari sini muncul pemimpin-pemimpin besar. Diawali dengan kudeta Ken Arok pada salah satu akuwu Tumapel (setara kecamatan) Kerajaan Kediri.

Cara tipu muslihat digunakan Ken Arok merebut tampuk kekuasaan akuwu Tumapel yakni Tunggul Ametung, kemudian Ken Arok mendirikan Kerajaan Singhasari, dan mengawini istri Tungguk Ametung yakni Ken Dedes.

Ken Arok, pendiri Kerajaan Singhasari kerap disebut memiliki jiwa Bhairawa Anoraga, yang bermakna tangguh perkasa secara fisik namun tetap lembut dalam olah spriritual. Selain itu, Ken Arok juga seorang yang memiliki sikap bhumi sparsa mudra, melambangkan kepemimpinan yang selalu membumi, pro masyarakat kecil dan berjiwa sosial.

Ken Dedes, istri dari Ken Arok yang kerap disebut ibu dari semua raja penguasa Jawa-Nusantara. Semua raja Singhasari dan Majapahit merupakan anak cucu dari Ken Dedes, baik dari jalur keturunan Tunggul Ametung maupun Ken Arok. Wanita panutan Kerajaan Singhasari tersebut memiliki anugrah arddhanareswari (wanita luhur yang bisa menurunkan raja diraja Nusantara).

Selepas Terbunuhnya Ken Arok, Anusapati yang menjadi pemimpin berikutnya yakni, putra Ken Dedes dengan Tunggul Ametung. Seorang yang sangat memuliakan dan cinta dengan orang tuanya terutama ibundanya. Pada relief pendharmaan Anusapati di Candi Kidal, ia digambarkan dengan relief Garudeya yang melambangkan ketegasan sikap dan kemerdekaan. Oleh karena itum Anusapati dijuluki sebagai sang Garuda yang berbakti.

Pemimpin yang bepengaruh selanjutnya yakni Ranggawuni (Wisnuwardhana) sebagai Raja dan Mahisa Campaka (Narasinghamurti) sebagai Ratu Anghabaya. Persatuan dua pemimpin keturunan Ken Dedes dari jalur Tunggul Ametung dan Ken Arok ini diibaratkan dengan istilah dua naga dalam satu liang, sangat menjaga kerukunan antara Singhasari dan Kadiri.

Kepemimpinan Wisnuwardhana-Narasinghamurti membawa aura persatuan nasional antara banyak kelompok agama, trah, politik dan kesatuan militer. Kelompok-kelompok yang berseteru kala itu dapat didamaikan dengan seni kepimpinan Wisnuwardhana.

Konsep kepemimpinan dwitunggal antara bermula dari kepimpinan kerajaan ini, yakni kepemimpinan ketua dan wakil ketua menemukan legitimasi historisnya dalam kepemimpinan ala Singhasari pada era tersebut.

Selanjutnya yakni, Raja Kertanegara yang merupakan maharaja pembesar dan terakhir dari Kerajaan singhasari sebelum Kerajaan Singhasari ditaklukan oleh Kerajaan Kediri. Kartanegara merupakan seorang yang pemberani peletak dasar persatuan nasional Kerajaan Singhasari.

Spirit Cakra Mandala Dwipantara merupakan doktrin persatuan nasional Nusantara di bawah panji Singhasari. Cakra Mandala Dwipantara merupakan sebuah doktrin untuk menyatukan seluruh wilayah kepulauan AsiaTenggara di bawah kepemimpinan Singhasari.

Tujuannya guna menangkal ancaman serangan pasukan Cina Mongol Tartar yang sedang giat ekspansi memperluas wilayah jajahan. Artinya pemimpin Malang sejak dulu adalah sosok yang offensif serta visioner untuk meluaskan daerah kuasa hingga luar daerah Nusantara.

Kertanegara juga sosok pemimpin yang menghormati semua aliran agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang satria pinandita, yaitu pemimpin politik dan militer yang memahami konsepsi kecintaan nasional dan religiusitas.

Pemimpin Kota Malang Dulu dan Kini

Terlihat dari perspektif sejarah peradaban kerajaan di Malang, mulai dari Kerajaan Kanjuruhan hingga Kerajaan Singhasari kualitas pemimpin yang cinta akan kedaerah dan wilayahnya. Semangat nasionalisme dari Ken Arok yang membebaskan masyarakat dari bawahan Kerajaan Kediri.

Ditambah sosok Wisnuwardhana yang dapat menjaga kerukunan masyarakatnya hingga Kartanegara yang meluaskan ekspansi wilayah nasional hingga ke area internasional, dan mampu mengalahkan serangan pasukan Cina Mongol Tartar, yang sempat mengusik Kerajaan Singhasari.

Tercatat pemimpin Kota Malang yang menggunakan konsep Dwitunggal, yakni pada tahun 2003 pada masa Peni Suparto & Bambang Priyo Utomo, dengan membawa bendera PDI-P Partai yang behaluan Nasionalis tersebut. Sebelumnya Walikota Malang dipimpin oleh Kol. Inf. H. Suyitno dan para pendahulunya tidak memiliki wakil.

Peni Suparto menjabat sebagai Walikota Malang selama dua periode, dalam kurun waktu 10 tahun Peni cs menghembuskan arwah nasionalisme dan membangun jaring-jarng suara dan massa berbasis nasionalis di Kota Malang.

Namun basis PDI-P yang kuat tersebut terpecah karena kuasa, putaran Pilkada Kota Malang berikutnya Peni mengajukan istrinya sebagai Calon Walikota Malang namun berangkat dari PPP, sementara dari PDI-P juga mengajukan calon sendiri yakni, Sri Rahayu & Priyatmoko Oetomo. Hal tersebut yang kemudian membuat basis loyalis Peni dan PDI-P menjadi terpecah.

Kemudian terpilihnya pasangan M Anton & Sutiaji dari PKB dan Gerindra untuk periode 2013 dan 2018. Nuansa yang dibangun M Anton dari PKB ini beraroma religius nampak dari beberapa kebijakan dan keputusan yang dibuat, seperti Gerakan Sholat Berjamaah di Awal Waktu, Malang bershalawat, dan lain-lain. Nampak hingga kini kultur politik yang bertautan di Malang nasionalis religius.

Semangat Kartanegara untuk Pilkada 2018 Kota Malang

Sebentar Kota Malang akan menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 Kota Malang, yang akan memilih pemimpin-pemimpin daerah Kota Malang, yakni terpilihnya Walikota Malang dan Ketua DPRD Kota Malang beserta jajaran.

Era globalisasi kini, dengan maraknya modal asing yang semakin menggerogoti tanah air bangsa menjadi perlu kemudian untuk memilih pemimpin yang memiliki jiwa Nasionalis. Seperti Raja Kartanegara dalam kisahnya yang mampu mengusir pasukan Cina Mongol Tartar yang datang ke Kerajaan Singhasari.

Belajar dari hal tersebut, maraknya penanaman modal asing dan investasi asing khususnya pengusaha-pengusaha cina taipan yang semakin menggurita hingga mampu mengintervensi instansi pemerintahan demi merauk kuasa ekonomi dan keuntungan perusahaan.

Hal tersebut perlu diwaspadai kita bersama sebagai warga negara Indonesia sebagai pemiliki asli negri ini. Sosok pemimpin yang dicari untuk Kota Malang ke depan bila belajar dari Raja Kartanegara yakni pemimpin yang cinta akan kedaerahannya, semangat nasionalis kepentingan rakyat harus dijunjung dibandingkan kepentingan asing.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here