Manajemen Baru Garuda Di Tengah Turbulensi Krisis

0
44
Seluruh jajaran Dewan Direksi dan Dewan Komisaris PT Garuda Indonesai Tbk dicopot dari kursinya dan diganti oleh manajemen baru. Akankah Garuda akan semakin baik atau justru tambah buruk?

Nusantara.news, Jakarta – Setelah terkatung-katung tak menentu selama 1 tahun 5 bulan, PT Garuda Indonesia Tbk tak kunjung membaik. Kondisi keuangan yang merugi tidak kunjung surplus sehingga Kementerian BUMN merombak total Dewan Direksi dan Dewan Komisaris si burung terbang tersebut.

Tak bisa dipungkiri manajemen Garuda semasa dipimpin Pahala Mansury menghadapi tantangan makin ketatnya persaingan antar-maskapai serta kenaikan beban operasional akibat mahalnya harga bahan bakar dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Meski demikian, peluang Garuda untuk tumbuh masih terbuka lebar. Faktor yang akan menjadi pendorong ialah adanya kecendeurungan kenaikan kunjungan wisatawan. Jumlah wisatawan mancanegara Januari-Juli 2018 mencapai 9,06 juta kunjungan. Tumbuh 12,92%. Karena itu Garuda seharusnya mendapat kue bisnis pariwisata yang tumbuh mengesankan tersebut.

Namun demikian, kondisi tersebut tak bisa dimanfaatkan oleh Pahala Mansury dan kawan-kawan. Justru kondisi keuangan Garuda semakin parah sehingga Kementerian BUMN memutuskan untuk mengganti jajaran Dewan Direksi dan Dewan Komisaris sekaligus.

Kinerja Garuda pada semester I 2018 membukukan kerugian US$114 juta atau sekitar Rp1,65 triliun. Nilai tukar rupiah yang terus melemah dan kenaikan harga avtur menjadi salah satu penyebab kerugian. Namun angka kerugian pada awal tahun ini relatif membaik jika dibanding periode yang sama pada 2017, saat Garuda merugi US$284 juta atau sekitar Rp4,11 triliun.

Sebelumnya, Pahala mengatakan kerugian tersebut bisa ditekan karena Garuda bisa membukukan pendapatan operasional US$1,9 miliar atau tunmbuh sekitar 5,9%. Adapun pengeluaran biaya operasional tumbuh 0,3% atau senilai US$ 2,1 miliar.

Walaupun pertumbuhan pendapatan jauh di atas pertumbuhan biaya operasional, namun karena adanya rugi selisih kurs dan kenaikan harga avtur, Garuda belum mampu keluar dari zona minus dalam pembukuan.

Alasan dirombak

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno mengungkapkan alasan pergantian jajaran direksi dan komisaris Garuda adalah dalam rangka menempatkan orang terbaik sesuai dengan keahliannya.

Karena itu ada beberapa alternatif SDM yang baik dari BUMN lain yang bisa ditempatkan di Garuda sebagai upaya perbaikan kinerja dan peningkatan persaingan di industri penerbangan.

“Ada putar-putaran. Di mana, expertise-nya kita lihat, yang satu lebih baik di sini, yang satu ke tempat lain,” kata Rini hari ini.

Rini menambahkan, persoalan pergantian direksi sejumlah BUMN yang terjadi saat ini dilakukan untuk memperkuat BUMN. Mengenai adanya perpindahan Pahala yang disebut akan masuk ke Pertamina, Rini juga tak mau menjawab hal tersebut.

Pergantian dan mutasi jajaran direksi dan komisaris Garuda dan beberapa BUMN lainnya, menurut Rini, dalam rangka right man on the right place.

Dalam agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Garuda selain melakukan perubahan pengurus perusahaan, juga memaparkan laporan kinerja perseroan semester I 2018 serta laporan perkembangan rencan atransaksi penerbitan obligasi global dan pendanaan 2018.

Dalam RUPSLB tersebut, Kementerian BUMN akhirnya memutuskan Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra sebagai pengganti Pahala Mansury.

Ketua Harian Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) Tomy Tampatty menilai Pahala tidak pas mengisi posisi Direktur Utama Garuda. Menurut dia, jabatan utama mesti diisi orang yang mengenal industri penerbangan.

“Pak Pahala lebih cocok di perbankan, sehingga tidak memahami secara teknis operasional Garuda,” katanya.

Direksi baru Garuda baru paling tidak memiliki tiga tantangan di tengah ketatnya persaingan antar-maskapai penerbangan. Direksi terpilih harus meneruskan renegosiasi pengadaan pesawat yang terlalu mahal, konsistensi pembukaan rute baru, dan berupaya menjadi pemimpin pasar penerbangan full services.

Renegosiasi pesawat dan konsistensi menentukan rute sebagai upaya Garuda menekan kerugian yang selama ini menghantui keuangan perusahaan. Sebelumnya, manajemen Garuda menyatakan hingga triwulan ketiga lalu telah merenegosiasi kontrak penyewaan pesawat sehingga biaya leasing per bulan turun US$2,5 juta hingga US$3 juta.

Mengenai pembukaan rute baru, perusahaan harus konsisten lantaran perubahan atau penghapusan pada kemudian hari akan mengurangi tingkat kepercayaan konsumen. Kelayakannya harus diuji, jangan begitu dibuka lalu ditutup lagi seperti rute Jakarta-London.

Sepanjang semester I lalu, Garuda sudah mengurangi 11 rute yang dianggap merugikan. Adapun pada semester I 2017, sebanyak 22 rute dikurangi dengan alasan yang sama.

Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli pernah mengusulkan agar rute-rute internasional pesawat berbadan besar harus direlokasi. Rute itu harus diganti dengan rute-rute jarak pendek dengan pesawat berbadan kecil yang lebih laris.

Garuda harus fokus dulu melayani rute-rute pendek dalam negeri, setelah menjadi raja baru merambah ke luar negeri dengan konsistensi rute gemuk. Kalau langsung main rute panjang seperti Jakarta-London, ongkosnya mahal namun penumpanya sepi. Hal ini yang membuat Garuda merugi dalam beberapa tahun terakhir.

Profil Dirut

Sosok I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra bukanlah nama asing di perusahaan pelat merah itu, sebab Ari Askhara, begitu ia biasa disapa, pernah menjabat direktur keuangan.

Ari sebelumnya pada 2017, ditunjuk Menteri BUMN untuk menjadi Direktur Utama PT Pelindo III. Pria kelahiran Jakarta, 13 Oktober 1971 ini, juga pernah menjabat Direktur Keuangan di Pelindo III.

Selain di Pelindo, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada ini pernah bekerja sebagai Executive Director of Natural Resources Group and SOE di PT Bank ANZ Indonesia.

Selain Pahala, RUPSLB 2018 ini juga memberhentikan dengan hormat Jusman Sfafi’i Djamal sebagai Komisaris Utama dan menunjuk Agus Santoso sebagai Komisaris Utama atau Independen Garuda Indonesia yang baru.

Tantangan terbesar Ari ke depan adalah, bagaimana menggenjot kembali pangsa pasar Garuda yang kuat dan gemuk, sambil melakukan rasionalisasi pangsa pasar dan rute yang sepi. Pada saat yang sama Garuda harus meningkatkan pelayanan yang prima.

Di sisi lain manajemen baru Garuda harus mengubah kinerja keuangan yang rugi menjadi laba. Adapun strategi penerbitan obligasi adalah guna meningkatkan kinerja operasional yang sudah mengalami efisiensi yang over dosis. Efisiensi Garuda sudah menyentuh hal-hal mendasar sehingga secara teknis mengurangi daya saing perseroan dan kenyamanan penumpang.

Dalam RUPSLB yang dilaksanakan pada Rabu 12 September 2018 ini telah menunjuk jajaran direksi baru Garuda Indonesia pada beberapa posisi dari yang sebelumnya terdiri dari:

1.Direktur Utama Pahala N. Mansury
2.Direktur Niaga Domestik Nina Sulistyowati
3.Direktur Niaga Internasional & Kargo Sigit Muhartono
4.Direktur Keuangan & Manajemen Resiko Helmy Satriyono
5.Direktur SDM & Umum Linggarsari Suharso
6.Direktur Operasi Capt. Triyanto Moeharsono
7.Direktur Teknik I Wayan Susena
8.Direktur Layanan Nicodemus Panarung Lampe

Menjadi :

1.Direktur Utama I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra
2.Direktur Niaga Pikri Ilham Kurniansyah
3.Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Muhammad Iqbal
4.Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Fuad Rizal
5.Direktur Human Capital Heri Akhyar
6.Direktur Operasi Bambang Adisurya Angkasa
7.Direktur Teknik I Wayan Susena
8.Direktur Layanan Nicodemus Panarung Lampe

RUPSLB ini juga merubah susunan Komisaris menjadi:

1.Komisaris Independen Agus Santoso
2.Komisaris Independen Ismerda Lebang
3.Komisaris Independen Herbert Timbo P. Siahaan
4.Komisaris Muzaffar Ismail
5.Komisaris Doni Oskaria
6.Komisaris Chairal Tanjung
7.Komisaris Luky Alfirman

RUPSLB kali ini dihadiri atau diwakili oleh pemegang 223.202.122.369 lembar saham atau 89.6% dari keseluruhan pemegang saham Garuda Indonesia.

Jajaran direksi dan komisaris baru Garuda menghadapi tantangan yang tidak mudah. Kondisi krisis global, kenaikan harga minyak dunia, depresiasi rupiah, dan peningkatan persaingan yang keras. Karena itu Garuda masih harus melewati rute krisis yang maha dahsyat.

Akankah Garuda selamat dan dapat take off dari krisis global ini? Atau Garuda harus mengalami crass landing untuk kesekian kalinya?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here