Manuver Cantik Agus Yudhoyono

0
331
Agus Harimurti Yudhoyono dan putra Presiden Joko Widodo Gibran Rakabuming Raka usai pertemuan tertutup di Presidential Lounge, Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (10/8).

Nusantara.news, Jakarta – Benar, cantik sekali langkah politik yang dilakukan Agus Harimurti Yudhoyono kemarin. Putra sulung SBY ini menemui Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan untuk meminta doa restu dan wejangan terkait peresmian The Yudhoyono Institute tadi malam.

Cantik, karena Agus menghadap Presiden ketika hubungan ayahnya dengan Jokowi memanas belakangan ini. SBY menyebut pemerintah melakukan penyalahgunaan kekuasaan. “Banyak di negara ini kekuasan melampaui batas, abuse of power,” kata SBY, 27 Juli lalu.

Presiden Jokowi terlihat rada jengkel dengan tuduhan itu. “Sangat berlebihan. Jangan dibesar-besarkan hal yang sebetulnya tidak ada,” jawab Jokowi keesokan harinya.

Sepekan terakhir kejengkelan Presiden tampaknya belum sirna. Dia membantah tuduhan bahwa dirinya diktator. “Mosok wajah gini kok dibilang diktator,” katanya di berbagai kesempatan. Meski disampaikan dengan cara berkomunikasi yang encer, itu tak mengurangi pesan bahwa Kepala Negara tidak senang dengan stigma tersebut.

Di saat seperti itulah Agus Yudhoyono menyambangi Presiden ke Istana. Banyak hal menarik di situ, yang menunjukkan kecerdikan Agus menciptakan momen cantik. Misalnya, Agus menyatakan dia datang untuk memohon doa restu dan wejangan dari Presiden untuk institutnya. Padahal, semua tahu, tak ada kaitan substansial antara wejangan Jokowi dengan institut tersebut. Ini berarti, dia memberi pesan bahwa Cikeas menempatkan Jokowi sebagai orang yang dihormati.

Hal menarik lain ketika dia menyampaikan salam hormat ayahnya kepada Jokowi. “Beliau menitipkan pesan, salam hormat untuk Pak Jokowi dan keluarga,” kata Agus. Ayahnya, ujar Agus, juga  mendoakan semoga Presiden Jokowi sukses, selalu sehat, dan diberi kemudahan dalam memimpin negeri dan pemerintahan.

Di tengah ketegangan antara SBY dengan Jokowi terakhir ini, pesan ini bisa meredam tensi yang meninggi.

Ada dua kemungkinan soal titip salam itu. Pertama, SBY memang berkirim salam via anaknya. Itu jelas sesuatu yang tradisi positif antara presiden terdahulu dengan presiden yang sedang menjabat. Tradisi positif ini tak pernah ada dalam sejarah kepresidenan di Indonesia.

Selama ini hubungan antara presiden terdahulu dengan penggantinya seperti dibungkus dendam kesumat. Coba saja perhatikan, bagaimana hubungan Bung Karno dengan Pak Harto, Pak Harto dengan Habibie, Gus Dur dengan Megawati, sampai antara Megawati dengan SBY. Semuanya seperti memendam sakit hati. Kecuali Habibie saja yang relatif tidak punya masalah seperti itu. Titip salam dan doa dari SBY ke Jokowi semestinya menyudahi tradisi kekanak-kanakan itu.

Kedua, SBY tidak berkirim salam, alias titip salam itu hanya inisiatif Agus Yudhoyono saja, sebagaimana kelaziman dalam silaturahim antara dua kelompok umur yang berbeda. Tapi ini pun tetap positif. Karena efeknya tetap sama yakni mencairkan hubungan dan membangun tradisi baru. Namun, jika Agus “berbohong” soal ayahnya mengirim salam, itu tak lain mencerminkan kematangannya berkomunikasi politik.

Sisi lain yang juga menarik adalah tatkala Agus mengatakan, “Sekitar 40 menit sebelum saya berangkat tadi, saya ditelepon Pak SBY yang menyatakan menyambut baik rencana saya sowan kepada Pak Jokowi.”

Ini kecerdikan komunikasi yang luar biasa. Pesan politik yang tampil adalah niat menjalin silaturahim dengan Jokowi itu sepenuhnya inisiatif Agus sendiri. Ada dua keuntungan dari sisi ini. Pertama, Agus memberi kesan bahwa dia adalah aktor politik yang mandiri. Sebagai putra mahkota Cikeas, Agus seperti menegaskan dia orang yang punya prakarsa.

Keuntungan kedua, dengan tidak adanya dorongan dari ayahnya, Agus menyelamatkan muka keluarganya. Sebab, jika SBY yang menyuruh anaknya bertemu Jokowi, publik bisa menganggap SBY takut mendengar kejengkelan Jokowi soal tuduhan abuse of power. Jika itu yang terjadi, SBY tak ubahnya seperti Arief Puyuono, yang menyamakan PDIP dengan PKI,  berbalik memuji-muji Jokowi setinggi langit setelah dilaporkan ke polisi.

Daya tarik lain yang juga mengesankan hadirnya Gibran Rakabumi Raka, anak sulung Jokowi, dalam pertemuan itu. Agus melakukan “salam komando” dengan Gibran. Itu adalah salam khas militer, yang nuansanya lebih dari jabat tangan biasa. Adegan ini, secara emosional, bisa mempercepat turunnya suhu hubungan SBY-Jokowi. Sebab, di kehidupan sehari-hari pun, biasanya, kalau anak sudah akrab, egoisme orang tua cepat luntur.

Tradisi buruk dalam hubungan antara presiden terdahulu dengan penggantinya harusnya diakhiri dengan model komunikasi seperti ini. Anak-anak mantan presiden yang berambisi untuk melanjutkan trah politik orang tuanya, sepatutnya saling bertemu. Selain untuk menyudahi tradisi buruk itu, juga untuk menunjukkan bahwa mereka mandiri dan mampu menjalin komunikasi politik.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here