Marak Cabai Asal Cina, Bea Cukai Perketat Pengawasan Importasi

0
156

Nusantara.news, Surabaya – Isu seputar masuknya cabai asal Cina dan beredar di sejumlah pasar tradisional di Jawa Timur terus berembus. Pelabuhan dan bandar udara diduga sebagai pintu masuknya komoditas impor jenis holtikultura tersebut. Merespon masalah ini, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KBBC) Tanjung Perak Surabaya, turun.  Mereka melakukan pengawasan dan memperketat setiap importasi barang yang masuk melalui pelabuhan. Bea Cukai tidak mau kecolongan, menelusuri siapa pelaku impor yang mendatangkan cabai dari Tiongkok itu.
“Kami libatkan seluruh petugas, khususnya yang membawahi importasi untuk memperketat pengawasan setiap importasi barang yang masuk ke pelabuhan, khususnya untuk cabai,” kata Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean (KBBC-TMP) Bea Cukai Tanjung Perak Surabaya, Efrizal.

Pengetatan pengawasan dilakukan sebagai wujud tanggung jawab institusi pemerintah di kepabeanan. Bea Cukai Tanjung Perak tidak ingin kebobolan dan mengambil risiko terkait dengan masalah yang masih embusan isu dan belum memiliki tata niaga impor.

“Kami di Bea Cukai memang tidak masuk pada persoalan peredaran barang kena bea masuk pabean. Karena memang bukan domain kami. Tapi, kami memiliki rasa serta tanggung jawab moral untuk turut serta menjaga kestabilan harga cabai, agar tidak semakin melebar peredarannya,” urai Efrizal.

Meski peluang importasi cabai kering asal dua negara China dan India ini bebas dilakukan importir, namun Bea Cukai Tanjung Perak tetap mengawasi kedatangannya. Kata Efrizal, hot issue yang kini memancing resah di masyarakat tersebut, bukan hal biasa dan tidak bisa ditanggapi secara umum.

“Yang pasti, kami akan melaksanakan, yang menjadi tugas pokok dan fungsi Bea Cukai sebagai pengawas dan pelayan kepabeanan. Tidak lebih dari itu,” jelasnya.

Lantas, bagaimana dengan tindakan kepabeannya? Efrizal tidak menampik, jika produk impor yang diatur dengan tata niaga dan besaran kuota pengirimannya, Bea Cukai berkewajiban mengenakan aturan kepabeanan. Sayangnya, komoditas yang awalnya untuk konsumsi industri tersebut, belum memiliki tata niaga yang ditetapkan dalam aturan importasi.

“Setahu kami, produk impor cabai kering memang tidak ada tata niaganya. Jadi, bebas didatangkan importir. Kalau ada tata niaganya, pasti ada aturan yang bisa kami lakukan terhadap kewajiban bea masuknya,” papar lelaki itu.

Meski begitu, masuknya barang dari luar negeri ke Indonesia tidak bisa hanya difokuskan pada satu institusi, yaitu Bea Cukai. Dijelaskan, jalur importasi, termasuk komoditas holtikultura, seperti cabai/jenis pangan dan tumbuhan tak bisa dilepaskan dari keberadaan dua ‘penjaga’ pintu masuk produk impor.

“Ada Balai Karantina dan Bea Cukai yang mengurusi masalah kepabeanan,” tambahnya.

Untuk proses di pelabuhan, khususnya produk holtikukltura terlebih dahulu harus menyelesaikan pengurusan barangnya ke Balai Karantina yang bertanggungjawab penuh atas kesehatan produk sebelum didistribusikan. Setelah semua dinyatakan layak dengan penerbitan bukti dokumen karantina, proses selanjutnya adalah custom clearance terkait kepabeanan untuk pemenuhan kewajiban fiskal barang.

Terkait itu, Bea Cukai akan mengecek pemberitahuan dokumen barang, apakah sudah benar dan sesuai dengan jenis barang serta volumenya, termasuk memastikan  apakah benar yang diimpor adalah cabai kering.

“Akan diperketat pengawasannya. Karena, kalau bukan cabai kering, akan terkena aturan yang mengatur tata niaga,” pungkas Efrizal.

Semoga saja, apa yang dilakukan Bea dan Cukai Tanjung Perak membuahkan hasil, termasuk mengetahui siapa importir yang mendatangkan cabai dari Cina ke Jawa Timur. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here